Pesantren Kebangsaan

Latar belakang
Orientasi mahasiswa masuk kuliah di kampus-kampus sekarang cenderung sakadar untuk memperoleh ijasah sebagai modal mendapat posisi kerja enak setelah lulus. Hasilnya, kita kekurangan mahasiswa aktivis yang juga intelektual. Sebagian aktivis mahasiswa terbelenggu gerak politik organisasi ekstra kampus, selebihnya hanyut mengikuti lomba-lomba ilmiah. Lebih dari itu, kampus dan pendidikan formal pada umumnya tidak mampu mewadahi minat intelektual mahasiswa. Banyak mahasiswa yang berbakat dan berminat pada aktivitas intelektual yang harus mencari-cari sendiri jalur intelektualnya, hingga butuh waktu lama untuk bisa cukup matang menjadi intelektual muda.

Dalam konteks yang lebih luas, keragaman keyakinan dan budaya di Nusantara perlu dirawat dengan baik. Tidak elok jika paham dan gerakan yang memicu perpecahan, kekerasan, dan dehumanisasi dibiarkan begitu saja. Perlu ditumbuhkan generasi intelektual baru yang berwawasan luas, berpikiran terbuka, dan tidak terkungkung pada tafsir-tafsir sempit yang berbuah kebencian, perpecahan, dan konflik. Generasi intelektual baru perlu dilahirkan terus menerus sesuai bidangnya masing-masing. Tentu selain berkarakter intelektual, generasi baru ini juga harus ulet, mandiri, dan punya keterampilan hidup agar dapat survive dan publish di masyarakat. Juga harus punya kearifan, kebajikan, kedewasaan, dan spiritualitas yang matang.

Oleh karena itu, perlu model pendidikan yang sekiranya dapat mengatasi hal tersebut. Dalam hal ini gagasan “Pesantren Kebangsaan” dilahirkan. Acuannya adalah filosofi Pesantren yang merupakan salah satu khasanah pendidikan asli Nusantara. Para peserta program Pesantren Kebangsaan ini harus menjadi cantrik yang “nyantrik” atau magang di Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS). Jadi, satu cantrik/santri/peserta program akan punya kurikulum masing-masing yang bisa sama atau berbeda dibanding cantrik lain. Nilai kebangsaan dilekatkan pada program Pesantren ini untuk membentangkan konteks sosio-kultural kehidupan yang harus dipahami, dipelajari, dan diolah bersama, yaitu bangsa Indonesia, bangsa Nusantara. Inilah program pendidikan alternatif yang diharapkan dapat menjawab kebuntuan dan problem fundamental dari jenis pendidikan persekolahan (schooling system) yang hegemonik sekarang ini.

Profil santri
Peserta program pesantren kebangsaan ini disebut sebagai Santri. Profilnya Santri tentu adalah yang kuat spiritualitasnya, mentalnya, tertata hatinya, dewasa sikapnya, menyala-nyala gairah intelektualitasnya, dan terampil kemampuan teknis dan sosialnya. Santri pesantren kebangsaan selain diharapkan memiliki kualifikasi tersebut sebagai hal-hal dasar yang dipelajari, sebagai tanda penguasaan dan kemahirannya harus menguasai minimal satu bidang keilmuan sesuai bakat dan minatnya. Boleh sesuai latar akademik formalnya di perguruan tinggi (jika ia kuliah), boleh yang sama sekali berbeda. Oleh karena itu, jika minatnya intelektual sesuai bidang akademik yang ia tempuh di kampus, maka harus dibuktikan dengan melakukan riset dan publikasi tulisan dalam bentuk artikel dan buku. Jika minatnya dalam bidang lain, maka harus berkarya sesuai bidangnya tersebut, misal sastra adalah menghasilkan cerpen, novel, naskah, dan lainnya.

Sistem pembelajaran
Program ini tidak terbatas waktu sebagaimana dalam pendidikan formal, tidak juga diorientasikan untuk mendapat legitimasi ijasah dan gelar. Pembelajarannya diupayakan secara demokratis, partisipatoris, emansipatoris, dan transformatif. Lebih kurang pengetahuan dan keterampilan hidup dasar dapat dituntaskan dalam kurun waktu 2 (dua) tahun. Pembelajarannya seling-seling antara teori dan praktik langsung, peserta juga diberi tugas individual dan kelompok. Selain itu juga melaksanakan magang atau nyantrik di organisasi atau orang tertentu selama beberapa waktu dalam upaya untuk memperdalam materi yang sedang dipelajari.

Kurikulum
Terdapat 2 (kategori) kurikulum dan aktivitas yang akan dilakukan oleh peserta program Pesantren Kebangsaan, yaitu (1) materi pengetahuan dan (2) keterampilan hidup yang bersifat dasar dan pilihan bebas. Secara lebih rinci terdapat 3 (tiga) jenis materi pengetahuan dan keterampilan hidup.

Ilmu Sosio-Humaniora

  • Teori-teori sosial
  • Sejarah
  • Pendidikan kritis
  • Studi tokoh bangsa
  • Membaca karya pilihan

Islami Studies

  • Sejarah peradaban Islam
  • Organisasi dan gerakan Islam
  • Fiqh, Tafsir, Hadits, Aqidah, Tasawuf
  • Studi tokoh Islam
  • Membaca karya pilihan

Keterampilan Hidup

  • Menulis (fiksi, nonfiksi, jurnalistik)
  • Public speaking
  • Wirausaha
  • Leadership
  • Keorganisasian

Ketiga jenis pengetahuan dan keterampilan hidup tersebut adalah kurikulum wajib/dasar yang mesti dikuasai oleh peserta program Pesantren Kebangsaan jika pesertanya beragama Islam. Namun jika tidak, maka materi Islam Nusantara tentu boleh tidak diambil. Selain itu tiap peserta juga dianjurkan dan diminta untuk mengambil spesialisasi sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing. Spesialisasi ini dapat mengambil dari pengetahuan dan keterampilan hidup yang sudah menjadi bagian dari kurikulum wajib/dasar tersebut atau mengusulkan spesialisasi tersendiri. Jika mengambil yang sudah ada, maka tinggal dipelajari dan diperdalam sampai pada level mahir. Jika mengusulkan spesialisasi baru, maka akan dikembangkan kurikulum tersendiri yang dapat mengakomodasi keinginan tersebut. Dengan model pembelajaran individual dan komunitas/kelompok, terdapat banyak ragam metode pembelajaran.