Salam, Penerus Praksis Pendidikan yang Memerdekakan

Salam_Foto Yanuar Surya

Kita di Indonesia sebenarnya tak pernah kekurangan pemikir dan penggerak pendidikan yang memerdekakan. Barangkali di kalangan para aktivis pendidikan nama Paulo Freire dan Ivan Illich memang popular. Keduanya kerap dijadikan acuan pemikiran ketika membincang persoalan pendidikan kaitannya dengan kekuasaan, politik, diskriminasi, penindasan, ketidakadilan, dan perubahan sosial. Karena karya Freire Pedagogy of the Oppressed (1970) dan Ivan Illich Deschooling Society (1971) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan banyak dibaca dan disebar oleh teman-teman aktivis sejak tahun 1980-an hingga sekarang. Kedua buku tersebut sudah menjadi klasik. Bahkan sejak tahun 1990-an hingga 2000-an awal buku-buku ber-genre serupa dari Freire dan lainnya banyak diterjemahkan dan beredar di pasaran.

Namun jangan lupa bahwa sebenarnya kita di Indonesia juga punya nama-nama besar pemikir dan penggerak pendidikan. Sebut saja Ki Hadjar Dewantara, M. Sjafei, Tan Malaka, dan Romo Mangunwijaya (lainnya tentu masih banyak lagi). Ki Hadjar sejak masih menyandang nama Soewardi Soerjaningrat telah menentang praktik kolonialisme Belanda hingga ia ditangkap dan diasingkan. Tak mengherankan ketika Ki Hadjar mendirikan Taman Siswa ia selalu menekankan agar praktik pendidikan dan pembelajaran harus dijauhkan dari bentuk yang memaksa, menghukum, dan menindas (baca prasaran Ki Hadjar yang berjudul “Hal Pendidikan” yang disampaikan pada Kongres Taman Siswa pertama tahun 1930 dalam buku yang berjudul “Karya Ki Hadjar Dewantara bagian Pertama: Pendidikan” diterbitkan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 2004 p. 15).

M. Sjafei tiada jauh berbeda. INS Kayutanam yang didirikannya juga punya filosofi yang mengarahkan pendidikan untuk menghasilkan manusia yang merdeka dan mandiri. Bukan menjadi manusia yang selalu tergantung pada orang lain, apalagi menyusahkan orang lain. Agar cita-cita tersebut tercapai, maka sejak di sekolah siswa-siswi harus dikelola dengan memberikan kemerdekaan bagi mereka dalam belajar sesuai dengan potensi dan kemauan masing-masing. Filosofinya yang terkenal dalam memandang anak-anak didiknya adalah “Dari pohon mangga jangan minta buah rambutan. Tetapi, jadikan setiap pohon menghasilkan buah yang manis” sebagaimana diulas oleh A.A. Navis dalam bukunya yang berjudul “Filsafat dan Strategi Pendidikan M. SJafei: Ruang Pendidikan INS Kayutanam” terbitan Grasindo (1996, p. 94). Filosofi itu muncul jauh-jauh hari sebelum orang meributkan soal bakat-minat anak.

Di tempat lain, Tan Malaka mendirikan Syarikat Islam (SI) Semarang Onderwijs yang juga dikenal dengan Sekolah Rakyat dengan semangat sama, yakni menjadikan siswa-siswinya berjiwa mandiri dan merdeka. Dalam brosur berjudul “SI Semarang Onderwijs” (terbit kali pertama tahun 1921) Tan Malaka mengkritik keras praktik pendidikan kolonial Belanda yang padat pelajarannya dari siang hari hingga malam mengerjakan pekerjaan rumah. Tiada lagi waktu luang untuk bermain, bergaul, kenalnya cuma di kelas saja. Tan Malaka menyatakan, “Sifat ini kelak kalau besar akan terbawa-bawa juga, sehingga tiap-tiapnya orang suka mencari kesenangan sendiri-sendiri saja” (bisa diakses di sini). Dengan kata lain memupuk individualism dan egoisme, bukan mengajak untuk bergotong-royong dan berkolaborasi. Jelas Tan Malaka tak menginginkan hal itu terjadi, oleh karenanya SI Semarang Obderwijs orientasi pembelajarannya berbeda dibanding sekolah-sekolah kebanyakan waktu itu.

Di masa yang berbeda, Romo Mangunwijaya ketika mendirikan Sekolah Dasar Eksperimen di Mangunan kiranya semangatnya senada dengan Ki Hadjar, M. Sjafei dan juga Tan Malaka. Hal yang selalu didengung-dengunkan oleh Romo Mangun adalah pendidikan yang memerdekakan, yakni pendidikan yang diarahkan untuk betul-betul berfokus pada siswa-siswinya agar merdeka batin, jiwa dan raganya. Bagi Romo Mangun suasana pendidikan harus memberi ruang berkembang siswa-siswinya secara wajar dan alami tanpa paksaan dari guru. Guru dengan demikian harus simpatik, sabar, hingga dapat menampilkan diri sebagai Ibu maupun Bapak, bahkan kakak dan sahabat murid sebagaimana diungkapkan oleh Singgih Nugroho (“Pendidikan Pemerdekaan & Islam”, 2003, p. 64). Konsep guru yang memposisikan diri sebagai bagian dari keluarga si siswa itu senada dengan konsep Among yang dikembangkan oleh Ki Hadjar di perguruan Taman Siswa.

Sekarang, siapakah kiranya yang tetap setia dengan semangat dan cita-cita Ki Hadjar, M. Sjafei, Tan Malaka, dan Romo Mangun? Tentu kita tak bisa menunjuk pada sekolah-sekolah negeri sebagai penerus semangat dan cita-cita mereka, walaupun semboyan Tut Wuri Handayani dari Ki Hadjar dibawa ke mana-mana. Karena jelas sebagian besar praktik riil pembelajarannya tak bersemangat memerdekakan siswa. Barangkali dalam dokumen-dokumen tetap ada jargon bahwa pembelajaran harus demokratis, dapat mengakomodasi bakat & minat siswa, humanis, dan berkeadilan sosial. Namun fakta di lapangan hampir sebagian besar selalu menunjukkan arah yang berlawanan. Bagaimana tidak? Siswa di sekolah-sekolah formal dimasukkan dalam lintasan pelajaran yang harus diselesaikan selama sekian tahun.

Sekolah dibuat terpisah dari masyarakat, kalau perlu dipagar tinggi sekeliling sekolah lengkap dengan pintu gerbang dan Satpam, seolah untuk menjaga agar anak-anak tak keluar dari penjara sekolah dan tak ada anasir negatif luar sekolah yang mengganggu anak belajar di sekolah. Belajar yang baik itu dipahami sebagai belajar di kelas, mencatat materi dari guru, mengerjakan soal-soal di Lembar Kerja Siswa (LKS). Keberhasilan belajar dilihat dari skor kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal tertulis. Melihat pada fakta tersebut, kiranya gerakan dan institusi pendidikan yang paling mendekati semangat dan cita-cita Ki Hadjar, M. Sjafei, Tan Malaka, dan Romo Mangun adalah jenis pendidikan alternatif. Salah satunya adalah Sanggar Anak Alam (Salam) yang bertempat di Nitiprayan, Rt. 4, Jomegatan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Penggerak Salam adalah pasangan suami istri, Mas Toto Rahardjo dan Bu Wahya. Keduanya bukan orang baru dalam dunia pendidikan dan gerakan sosial. Mas Toto sendiri dikenal karena keaktifannya di INSIST, sebuah NGO dalam bidang gerakan sosial yang banyak mewacanakan pendidikan kritis-transformatif. Sementara itu, Bu Wahya adalah relawan yang membantu gerakan Romo Mangun. Tak heran jika Bu Wahya yang secara akademik tak pernah belajar di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) namun ketularan semangat dan visi ideologis Romo Mangun dalam membangun pendidikan untuk orang pinggiran. Dipadu dengan pengalaman pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat dari Mas Toto Rahardjo, Salam dapat dikatakan eksperimen yang berhasil menerapkan visi-visi pendidikan Romo Mangun, juga Ki Hadjar, M. Sjafei, Tan Malaka, dan para aktivis gerakan sosial.

Pada tahun 2014 Salam menerbitkan buku bagus berjudul “Sekolah Biasa Saja (Catatan Perjalanan Penyelenggaraan Pendidikan Dasar) di Sanggar Anak Alam (SALAM)”. Di buku tersebut selain bercerita mengenai pengalaman pembelajaran di “kelas” yang unik, mengasyikkan, juga diuraikan sejarah berdirinya Salam. Dan ternyata Salam awalnya bukan di Nitiprayan, melainkan dirintis kali pertama oleh oleh Bu Wahya di Desa Lawen, tanah kelahiran suaminya, Mas Toto. Tepatnya di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Di situlah Salam lahir, bahkan para murid sendiri yang memilih nama Salam, Sanggar Anak Alam. Para tetangga dan penduduk desa setempat percaya bahwa Salam mampu banyak membantu anak-anak mereka belajar dan bertumbuhkembang dengan baik. Termasuk Salam juga ikut menggerakkan semangat kemandirian warga waktu itu.

Sayang setelah Bu Wahya pindah ke Yogyakarta, Salam di Laweyan mandeg di tahun 2000. Di Yogyakarta itulah, tepatnya di Nitiprayan, Bu Wahya kembali memulai aktivitas Salam. Filosofi pendidikan Salam tak jauh dari semangat dan cita-cita pemikiran dan gerakan pendidikan Romo Mangun dan para pendahulunya. Lalu, apa uniknya Salam? Mengapa ia patut disebut sebagai penerus semangat dan cita-cita para pemikir dan penggerak pendidikan seperti Ki Hadjar, M. Sjafei, Tan Malaka, dan Romo Mangun?

Kalau Anda datang ke Salam, Anda akan melihat bangunan sekolah di tengah sawah, yang kalau Anda mau ke situ mau tak mau harus berjalan kaki lewat pematang sawah. Tiadanya pagar menjulang tinggi mengelilingi Salam merupakan simbol bahwa Salam ingin mendekatkan diri ke alam, ke lingkungan sekitar, tanpa pintu gerbang, tanpa tembok tinggi mengelilingi sekolah. Kompleks Salam dikelilingi sawah, hingga anak-anak bisa melihat langsung proses para petani mulai menyemai benih padi, menanamnya, merawatnya, hingga memanennya. Tahun 2016 kemarin beberapa hari sebelum saya mampir ke Salam bahkan anak-anak dilibatkan untuk prosesi upacara panen raya di lingkungan Salam. Jadi, semangat menyatu dengan rakyat, lingkungan sekitar, dan orangtua siswa diawali dengan mendesain kompleks bangunan Salam yang terbuka.

Belum lagi jika dilihat aktivitas belajarnya. Belajar di Salam didekatkan sedekat mungkin dengan realitas. Kalau mau belajar tentang tanaman, ya lihat tanaman langsung. Dengan bertanam anak-anak akan belajar mencatat pertumbuhannya, termasuk menganalisis apa sebab biji tanaman tak dapat tumbuh baik. Belajar ekonomi di Salam punya cara tersendiri. Tak seperti anak-anak Sekolah Dasar (SD) biasa yang belajar dari buku-buku teks dan berlatih mengerjakan soal ekonomi (dalam bentuk yang mudah dan sederhana sekalipun) di LKS, Salam punya yang namanya Pasar Tradisional. Yakni pasar yang diselenggarakan tiap 35 hari sekali, pada Senin Legi menurut hari pasaran Jawa. Di pasar itulah segenap anak-anak Salam harus ikut berpartisipasi di dalamnya. Mulai dari membuat produk berupa karya-karya anak-anak untuk dijual hingga melakukan aktivitas jual-beli di situ (lebih lengkapnya bisa dibaca di buku “Sekolah Biasa”, 2014, pp. 147-156).

Pada salah satu obrolan saya dengan Bu Wahya dan Mas Toto (entah kapan waktunya, saya sudah lupa), beliau menyatakan bahwa Salam tak mau didikte oleh aturan-aturan ketat dari mana pun. Termasuk dari pemerintah. Karena aturan tersebut justru berpotensi membuat Salam tak leluasa dalam berkreasi mengembangkan berbagai metode pembelajarannya yang kontekstual, fleksibel, demokratis, humanis, dan menggembirakan anak-anak. Pun Salam tak terobsesi pada tren sekian banyak sekolah, guru dan bahkan para akademisi yang merasa bangga dengan berbagai pendekatan yang penamaannya bermacam-macam. Bahkan Salam berupaya menghilangkan kesan sakral dan angker dari beberapa pendekatan pembelajaran yang dirumuskan oleh para akademisi maupun praktisi. Contohnya adalah riset/penelitian. Pada buku yang berjudul “Kami Tidak Seragam: Rekam Jejak Anak Salam” (2016) Mas Toto mengemukakan bahwa proses belajar di Salam menggunakan metode riset.

Namun riset di sini tidak sebagaimana dipahami oleh para mahasiswa (terutama tingkat awal) yang njlimet penuh dengan rumus-rumus statistik. Riset dipahami oleh Mas Toto dilihat dari makna substansialnya, yakni mencari kembali (re-search) jalan untuk belajar, memahami, dan mengembangkan pengetahuan. Dan hal yang dilakukan tidaklah muluk-muluk. Dengan kata lain: tidak harus jadi mahasiswa agar dapat paham dan melakukan riset! Jadi, yang dimaksud dengan riset adalah aktivitas sederhana yang diarahkan agar anak-anak jadi lebih paham terhadap apa yang diriset. Mulai dari menentukan objek, menyusun pertanyaan dibantu orang tua dan fasilitator, menyusun jadwal, melakukan pengamatan, wawancara, maupun membaca referensi, dilanjut dengan analisis yang dibantu juga oleh para fasilitator dan orangtua, dan diakhiri presentasi.

Di akhir presentasi para fasilitator membantu anak-anak untuk memahami keterkaitan antara satu hal dan lainnya menggunakan pendekatan “Daur Belajar”. Pendekatan ini sejatinya merupakan upaya menstrukturkan peristiwa-peristiwa yang dipresentasikan oleh anak-anak. Mas Toto menyatakan, Daur Belajar membimbing setiap orang untuk mengenal, memahami asal-usul, sebab akibat, struktur sejak dari menemukan data, fakta, sampai simpulan. Ujarnya, tujuan dari pendekatan ini adalah mengajak anak-anak untuk tak jadi follower, peniru, atau penghafal, melainkan agar jadi aktor utama yang menemukan (uraian lengkapnya silakan baca bagian pengantar berjudul “Berlatih Bertanya” dari Mas Toto dalam buku “Kami Tidak Seragam”, 2016, pp. 3-5). Di lain tempat, logika senada dilekatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pendekatan saintifik dalam pembelajaran Kurikulum 2013.

Melihat geliat semangat dan praksis pendidikan di Salam saya dapat mengambil simpulan bahwa penerus visi pendidikan yang memerdekakan sebagaimana diinisasi oleh Ki Hadjar, M. Sjafei, Tan Malaka, dan Romo Mangun adalah Salam dan jenis pendidikan “alternatif” lainnya yang mulai marak sejak awal tahun 2000-an. Bukan berarti di lingkungan pendidikan formal tak ada geliat kesadaran mengkaji dan mengembangkan praksis pendidikan yang memerdekakan. Ada beberapa tokoh yang patut diperhitungkan, misalnya H.A.R. Tilaar. Namun hingga sekarang imbasnya secara struktural dan masif belum begitu kentara jika dilihat dari perubahan visi, kurikulum, pembelajaran, hingga cara mengelola dan menilai hasil belajar siswa-siswinya. Barangkali desain sistem pendidikan formal dan berbagai ketentuan perundang-undangan dari pemerintah telah jadi benteng yang membatasi berbagai daya kritis dan kreativitas yang memerdekakan tersebut.

Pada Juli 2017 ini Salam berulang tahun yang ke 17 (tujuhbelas). Tampak Salam sudah mulai menyebar benih-benih kesadaran visionernya secara lebih luas. Antara lain ketika menyelenggarakan pelatihan bagi kawan-kawan yang berminat untuk mendirikan sekolah seperti Salam di tempat lain. Menurut penuturan Mas Toto, pendaftarnya waktu itu membludak. Sebuah indikator bahwa barangkali makin banyak yang bosan dari sekolah-sekolah formal yang tak kunjung berubah menjadi lebih humanis dan memerdekakan. Makin banyak yang meneliti dan menulis tentang Salam tentu akan makin mempercepat daur diskusi dan pengembangan praksis pendidikan yang memerdekakan ala Salam. Terlebih ketika didukung oleh publikasi melalui website, jejaring sosial Facebook, Instragram dan lainnya. Kiranya upaya membangun bangunan keilmuan maupun konstruksi teoretik Ilmu Pendidikan yang genuine dari praktik belajar sehari-hari di Salam perlu terus diintensifkan.

Selama ulang tahun Salam!

* Edi Subkhan, dosen Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang (UNNES), pegiat Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS)