Refleksi Perjalanan RBSS: Masa-masa Belajar (Bagian 3)

Tauf UI_Baru

Beberapa kawan-kawan pegiat RBSS di tahun 2007 sebagian lulus dan merantau ke beberapa tempat. Paling banyak adalah studi lanjut. Kalau tidak salah yang paling awal merantau adalah Taufiq dan saya, yakni ke Jakarta. Saya waktu itu berangkat awal tahun 2008 untuk ngangsu kawruh ke Pak Darmaningtyas, salah seorang pengamat pendidikan dan transportasi nasional. Sementara Taufiq tinggal sementara bersama saudaranya di Cileduk sembari cari kerja di beberapa media massa. Ia sempat ikut seleksi di Tempo, Kompas online dan beberapa media lain, hingga akhirnya diterima di salah satu harian ekonomi Jakarta. Barangkali keinginan untuk selalu belajarlah yang kemudian banyak menuntun kami waktu itu mendatangi beberapa pusat intelektual di Jakarta. Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara adalah salah satu tempat mengobati dahaga intelektual hingga akhirnya bersahabat dengan kawan-kawan seperti Martin Suryajaya, Berto, Soleh, bahkan Romo Setyo.

Tak lupa hampir tiap bulan mampir menjadi pendengar di diskusi bulanan Freedom Institute sembari menikmati hidangan makan malam gratisan. Hampir tiap bulan juga mencoba untuk hadir di jamaah ma’iyah yang menyelenggarakan acara rutin Kenduri Cinta yang diinisiasi dan menjadikan Cak Nun sebagai pusat sumber informasi dan pengetahuan. Di situ juga tiap habis acara kami tiduran di emperan gedung Taman Ismail Marzuqi, hingga suatu saat kami tidur lelap betulan dan handphone Taufiq akhirnya raib digondol maling. Komunitas Utan Kayu juga menjadi salah satu sasaran kunjungan kami yang menjadikan kami jalan kaki dari Utan Kayu ke kampus UNJ untuk menginap gratisan di masjid kampusnya setelah ikut acara. Berikutnya tentu saja Salihara, kemudian Cak Tarno, dan forum-forum belajar di UI.

Taufiq sendiri tak begitu lama setelah bekerja di media massa akhirnya pun keluar sebab alasan ideologis. Setelah ditimbang-timbang akhirnya yang menang adalah panggilan hati, yaitu studi lanjut. Taufiq akhirnya masuk ke program studi pascasarjana di UI, ia memilih Cultural Studies. Di situlah ia memperdalam kajian teor-teori sosial, yang akhirnya turut mewarnai kekayaan wacana diskusi online dan tatap muka komunitas embun pagi dari soal Marxisme, neo-Marxisme, post-Marxisme, poskolonialialisme, posmodernisme, dan lainnya. Saya pun akhirnya sembari tetap menjadi asisten pribadi Pak Darmaningtyas juga ambil S2 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saya memilih program studi Teknologi Pendidikan. Satu kawan lagi menyusul ke Jakarta dan ambil S2 Psikologi UI, yaitu Nur Amri el Insiyati atau yang akrab dipanggil Elin.

Nah, sepeninggal Taufiq dan saya, RBSS tetap beraktivitas seperti biasa dan untuk publikasi mengandalkan laman website di komunitasembunpagi.blogspot.com yang diinisiasi oleh Om Abdul Haris Fitrianto (sekarang dosen Psikologi FIP UNNES). Website tersebut menjadi sangat aktif sebagai pemecah kendala ruang dan waktu diskusi komunitas embun pagi. Artikel apa saja diunggah dan banyak dikomentari, termasuk plug in chatting pun ramai jadi ruang bicara online kami dan banyak simpatisan lain. Diskusi paling hangat waktu itu barangkali soal perbedaan ideologis di antara kami, saya misalnya cenderung pro gagasan-gagasan kritis Marxian, sedangkan Giyanto pro gagasan liberalisme dan kapitalisme.

Diskusi tatap muka maupun online selalu saja panas. Giyanto bahkan memanggil geng patronnya untuk ikut diskusi online. Namun panasnya diskusi berakhir di meja makan. Bahkan hingga sekarang tak ada yang berubah dari Giyanto—perasaan saya begitu, baik daya kritisnya, rasa curiganya, dan sikap unik-anehnya, tapi lagi-lagi kalau ia dolan ke Semarang semuanya mencair. Giyanto selalu kami (saya dan Haris ketika masih sama-sama jomblo dan hidup satu kost) pancing untuk berbicara panjang lebar dari malam hingga pagi, hingga akhirnya kami sarapan di warung makan favoritnya, Bu Sum, dekat Akbid. Di situlah semuanya lebur ngobrol ngalor ngidul soal keringnya iklim intelektual di Semarang seakan-akan kami adalah betul-betul kelompok intelektual yang setia bertugas menjaga marwah ilmu pengetahuan.

Kawan lain juga studi lanjut. Awaludin Marwan (Luluk) studi lanjut ke Universitas Diponegoro (Undip), disusul beberapa kawan lain seperti Om Andi Tri Haryono, Said Muhtar, Hassan, dan lainnya termasuk Azil dan Tsalis. Sementara itu Haris memilih ke Unika Soegijapranoto ambil psikologi. Sebagaimana telah diceritakan sebelumnya bahwa Luluk merupakan patron dan/atau kepala suku kontrakan di Sampangan hingga melahirkan “kader-kader” loyal seperti Said, Hassan, dan bahkan mengajak ikut serta kawan-kawannya yang lain dari Undip seperti Iksan dan Eko. Begitu sentralnya dan pentingnya peran Luluk dalam lingkarannya memang tak diragukan lagi, karena ia memang tipikal pengkader yang rela mengupayakan semua hal agar kader-kader dan kawan-kawannya bisa makan dan sekolah.

Luluk memang tokoh sentral. Ia bagaikan induk ayam yang bersedia bertarung demi anak-anaknya. Ia menjadi penggerak bagaimana caranya mencari uang untuk membiayai studi lanjut kawan-kawan di kontrakan Sampangan. Termasuk ia dirikan Dewa Orga (LSM bidang pengawasan demokrasi di Jawa Tengah) salah satu misinya adalah agar dana saving yang diperoleh dapat digunakan untuk biaya studi kawan-kawannya. Kaderisasinya dilakukan tak hanya dengan mencarikan duit bagi kawan-kawannya saja, melainkan juga dengan sering mentraktir kawan-kawannya, perhatian yang tak habis-habisnya pada kawan-kawannya yang diajak bersama-sama hidup dalam satu kontrakan dengan masak bersama, menulis proposal bersama, kuliah bersama, cari duit bersama. Luluk tak ubahnya Big Bos yang menginisiasi dan mengkoordinatori upaya bertahan hidup, mencari duit, dan bahkan memberikan jalan hidup bagi kawan-kawannya. Betul-betul jalan hidup dalam arti pekerjaan yang bisa menghasilkan uang untuk hidup. Tak mengherankan jika kawan-kawannya hormat betul untuk Luluk, dan bahkan seolah-olah “rela mati” demi Luluk.

Bahkan pola pikir satu komunitas dalam kontrakan hampir sama, terutama Said, Om Andi dan kawan-kawan. Intinya: seiya sekata, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Yang berbeda barangkali adalah Azil, Tsalis, Taufiq, karena memang memiliki jaringan dan aktivitas sosial-intelektual yang juga berbeda. Azil dan Tsalis punya aktivitas di lingkaran Nahdlatul Ulama (NU), sedangkan Taufiq memang sama seperti Luluk juga punya kharisma tersendiri sebagai pemimpin yang didukung oleh kapasitas intelektual yang mumpuni juga hingga tak mudah didoktrin oleh cara pandang dan pola pikir dari Luluk dan kawan-kawan. Tak hanya itu, Luluk juga tipe pebelajar tangguh yang tak mau kalah dengan kawan lainnya. Hingga akhirnya ia menyelesaikan S2 di dua tempat, satu di Undip dan satunya lagi di Onatie, Spanyol. Sebelum mendapat beasiswa ke Spanyol, waktu itu Luluk berhasil masuk menjadi pengajar di Universitas Sultan Agung (Unissula) dan dekat dengan lingkaran rektorat (Prof. La Ode) dan lingkaran intelektual Kang Mudjib Adha yang menggawangi komunitas pecinta buku (KPB).

Melalui negosiasi akhirnya ia dapatkan dana pendamping beasiswa untuk studi S2 sosiologi hukum di Onatie, Spanyol. Tagihannya satu, menulis buku tentang Islam di Spanyol yang akhirnya ia tulis bersama Prof. La Ode dan terbit beberapa tahun lalu. Luluk tak pernah setengah-setengah dalam belajar hingga akhirnya menyusul kami ke Jakarta untuk beberapa lama dan indekost di dekat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara bersama Soleh, mahasiswa STF. Seringkali Eko dan Iksan juga ikut serta dengan niat ingin merasakan atmosfer intelektual dan “kejamnya” Ibu Kota. Di Jakarta Luluk ikut kursus filsafat dan bekerja di salah satu LSM hukum di Pasar Minggu, ikut mengajar di al-Azhar dan Universitas Pancasila hinga menginisiasi komunitas diskusi Psikoanalisis di UI setelah bertemu dengan Yosy Hizkia Polimpung bersama saya dan Elin.

Sering juga di akhir pekan dolan di asrama mahasiswa UI dalam rangka menyambangi Taufiq yang waktu itu bersama Bang Zul (mahasiswa seangkatan Taufiq dari Makassar) tinggal di asrama UI dan memanfaatkannya untuk diskusi banyak hal. Ketika berangkat ke Spanyol saya dan Elin yang mengantarkannya ke Bandara hingga satu tahun kemudian ia lulus dengan tesis tentang Gus Dur dilihat dari kacamata Psikoanalisis Lacanian. Tak lama kemudian Taufiq lulus dari UI dalam waktu yang tidak lama (2010). Semboyannya waktu itu lulus cepat biar tak banyak keluar duit. Selepas lulus Taufiq ke Semarang dan sempat bantu-bantu aktivitas di Pusat Bahasa UNNES. Konon gaji pertamanya dibuat traktiran beli sate bersama kawan-kawan di Sampangan.

Dari jarak jauh—di Jakarta—saya banyak dengan kabar gembira dengan diskusi komunitas embun pagi yang terus berlanjut. Taufiq membuat pojok diskusi Foucault, tokoh yang memang ia tekuni ketika belajar di Cultural Studies UI. Forum-forum itu menginspirasi kawan-kawan lain membuat yang sejenis, misalnya Om Andi, Said, dan Luluk dengan nama forum yang berbeda-beda. Ia juga berhasil membujuk jaringan kawan-kawannya untuk menitipkan buku yang akhirnya ia jual kembali. Namun agaknya untuk yang satu ini Taufiq tak terlalu berhasil. Waktu itu intensitas menulis di blogspot sudah mulai berkurang, berganti menulis di timeline Facebook. Kawan lain yang tak kalah hebat adalah Giyanto, ia senior Luluk di FIS. Sebagai sarjana S1 yang lulus paling lama dengan latar akademik geografi Giyanto justru menguasai diskursus kapitalisme dan liberalisme dengan sangat kuat.

Ia akhirnya pindah ke Palembang mengajar di Universitas PGRI Palembang, bahkan terakhir (2017) ia sudah jadi Ketua Jurusan di tempatnya mengajar. Adalah Giyanto yang kali pertama mengkritik ketika beberapa kawan—terutama barangkali setelah Taufiq dan saya—mendaftar dan diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun kritik Giyanto bukanlah kritik suka atau tidak suka, melainkan ideologis. Ia didasari perspektif ideologi anarkisme (yang bertautan dengan kapitalisme, liberalism, libertarian) yang menolak otoritas kekuasaan, terutama negara, oleh karenanya ia tak mau hidup di bawah aturan negara. Dengan kata lain tak mau jadi PNS yang konon sumber hidupnya salah satunya dari pajak rakyat, walau akhirnya ia mau juga menerima beasiswa ketika studi S2 di UGM.

Dulunya Giyanto adalah aktivis mahasiswa di FIS, pernah merintis usaha sebagai distributor buku bersama kawan-kawannya di Komunitas Sosial (Komsos) walau akhirnya gagal, pernah juga buka usaha jasa rental komputer dan jual pulsa dengan nama Cero. Usaha yang dirintis bersama kawan-kawannya nyempil di belakang warung kelontong al-Fath di dekat Gang Waru, Sekaran, Gunungpati tersebut cukup berhasil. Pada beberapa hardisk itulah ia kumpulkan banyak ebook yang berkaitan dengan filsafat, terutama soal liberalisme dan kapitalisme, selain soal geografi tentu saja. Bisa dikata Giyanto adalah aktivis flamboyan atau bahkan veteran di UNNES. Kala mahasiswa masih berkutat dengan aktivitas organisasi intrakampus, ia merambah dunia usaha dan intelektual sekaligus. Sama halnya seperti Luluk, kala mahasiswa masih main politik-politikan di organisasi intrakampus, Luluk sudah jadi tim sukses calon Bupati dan Gubernur.

Oleh Edi Subkhan, pengelola Rumah Buku Simpul Semarang (2014-2017)