Selamat Idul Fitri 1438 H, Tak Ada Kata Selesai dalam Belajar

Akhir ramadhan

Alhamdulillah Idul Fitri 1438 H telah tiba, meninggalkan bulan Ramadhan yang insya Allah banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita pelajari. Rasa syukur kami haturkan karena selama bulan puasa ini pula RBSS sebagaimana ditradisikan tiap tahun telah menuntaskan program mendaras atau mengaji beberapa buku secara estafet. Dimulai dari mendasar buku karya Fazlur Rahman yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Mizan awal 2017 dan diakhiri oleh diskusi hangat buku karya salah satu dosen UNNES, Bapak Anwar Sutoyo berjudul “Manusia dalam Perspektif Al-Quran” terbitan Pustaka Pelajar.

Koordinator diskusi diampu oleh Exsan dan Nicko, duet maut penjaga rumah ilmu RBSS yang senantiasa istiqamah dan tawadlu’. Mereka berdualah yang menghubungi para pembedah buku dengan pulsanya sendiri, mereka pula yang menjadwal dengan segenap daya kreativitasnya sendiri, termasuk juga mendesain poster untuk diunggah di jejaring sosial dan laman website RBSS. Dengan keikhlasan hati tiap hari mereka membersihkan RBSS agar sore harinya nyaman dibuat tempat diskusi. Jelang ashar mereka kemudian menyiapkan takjil untuk sekadar dapat membatalkan puasa kala diskusi usai di kala Magrib tiba. Dibantu oleh beberapa kawan yang nge-kost di RBSS akhirnya aktivitas diskusi mendaras buku-buku bermutu di Ramadhan kali ini berjalan sukses.

Jangan bayangkan program mendaras buku-buku ini dihadiri sekian puluh orang. Jangan! Ini adalah program yang paling banyak dihadiri 10 hingga 20 orang saja. Paling sering tak lebih dari 5 orang. Bisa sampai 10 atau 15 orang sudah syukur Alhamdulillah. Namun jelas angka-angka tersebut bukan ukuran keberhasilan dari program tahunan ini. Ukuran suksesnya yang jelas adalah adanya niat baik dan konsistensi dalam upaya untuk belajar dan menjaga marwah ilmu pengetahuan. Di tengah menyeruaknya hujatan, makian, hoax, fitnah, pengkafiran, dan pembid’ahan, maka aktivitas yang diniatkan untuk istiqamah belajar ilmu pengetahuan yang di dalamnya tersimpan begitu banyak hikmah adalah keistimewaan dan kemewahan. Entah hasilnya bisa betul-betul dipahami sepenuhnya atau separuhnya saja, itu soal belakangan.

Isu-isu berseliweran di timeline Facebook, cuitan berhamburan tiap detik di dunia Twitter, dan sumpah serapah yang seakan ditumpahkan begitu saja ke langit-langit kehidupan kita, hendaknya diimbangi dengan aktivitas mendalami ilmu pengetahuan, yang “statusnya” insya Allah lebih tinggi dan mendalam ketimbang sekadar informasi yang berserak di sana sini dan mempercayainya begitu saja tanpa kritik. Minimal dengan hadir dan mendengarkan para audiens akan memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan baru yang lebih jernih. Terlebih untuk teman-teman yang berperan sebagai pembedah buku, tentu saja telah membaca isi buku sebelum membagi pemahamannya dengan para peserta bedah buku mereka memiliki keuntungan dan kelebihan tersendiri.

Setidaknya terdapat 3 (tiga) hal yang mereka peroleh, yaitu (1) ilmu pengetahuan yang dipahami dan dianalisis secara mandiri oleh dirinya sendiri, (2) balikan dan/atau bandingan pemahaman lain dari para audiens yang datang atas buku/teks yang dibaca oleh pembedah buku hingga makin memperkaya pemahamannya atas buku tersebut, dan (3) pahala berbagi ilmu pengetahuan kepada audiens.

Tak disangka diskusi yang semula dirancang hanya 12 (duabelas) pertemuan justru bertambah hingga 14 kali dengan kehadiran beberapa kawan peserta yang tergugah hatinya untuk ikut berbagi pemahaman atas buku yang mereka baca. Salah satunya adalah Okven, mahasiswa jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, FIP UNNES. Putra Jambi yang tampil pendiam ini sebenarnya penggemar ilmu pengetahuan, sering ia juga hadir di acara-acara seminar yang menghadirkan pembicara berkualitas. Seringkali ia bisa ditemui di acara-acara RBSS seperti bedah buku dan kelas menulis, di luar itu sering juga ikut jama’ah Ma’iyah di Simpang Lima tanggal 25 tiap bulan.

Senang rasanya walau di akhir-akhir putaran diskusi peserta tak sebanyak di awal, karena setidaknya RBSS telah konsisten—walau tidak mudah—menyelenggarakan program penjaga tradisi belajar yang baik. Walau Ramadhan 1438 H segera meninggalkan kita semua, tapi tak ada kata selesai dalam belajar, terlebih membaca. Dan RBSS selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar dan berbagi ilmu pengetahuan. Terima kasih kami sampaikan kepada semua pembedah buku, Mas Eko, Gus Abdul Aziz, Nicko, Mas Bagas Yusuf Kausan, Mas Yoyok, Kang Tsalis, Om Abdul Haris, Om Tsabit Azinar, Sholekan, Pak Guru Rahmat Petuguran, Kang Azil Masykur, Okven, dan juga Muslimin.

Mohon maaf tak ada THR yang bisa diberikan karena RBSS sedang seret keuangannya. THR-nya langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala berupa pahala dan ilmu pengetahuan yang tersebar luas tak ada habis-habisnya. Akhirul kalam, Selamat Idul Fitri 1438 H, mohon maaf lahir dan batin, kosong-kosong, semoga banyak hikmah yang dapat kita petik selama bulan Ramadhan kali ini, semoga dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan, dan semoga jalinan silaturahmi RBSS dengan teman-teman semua tetap terjaga dan kian meluas menjangkau siapa saja, lintas kelompok, lintas komunitas, lintas generasi, lintas usia, lintas keyakinan. Semoga, amin. (red/es)