Saleh Salah

Saleh Salah

[Cerpen] Seorang lelaki duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja mengendarai kuda supaya baik jalannya. Sesekali ia becut bokong itu agar cepat larinya. Tak, tak, tak… suara hentak tapal kuda pada aspal jalan.

Kuda itu memakai kacamata agar ia hanya memandang ke satu arah, arah depan tentu. Jika saja ia bisa memandang arah lain, arah punggung misal, maka kuda itu akan mengamuk bila saja ia tahu ada orang yang menungganginya. Seorang lelaki bersama pak kusir duduk berdampingan mematung memandang ke arah depan, tanpa kacamata kuda tentu.

Di keramaian pasar itu suara-suara sopran, alto, tenor dan bas menyatu padu tak beraturan bagai paduan tanpa panduan dirijen. Orang-orang berteriak “bayam-bayam”, “kangkung segar-kangkung segar”, “lima ribu-lima ribu” dan suara lain yang terdengar lantang di kerumunan itu.

Dokar telah melewati pasar beriringan riuh suara keramaian yang menghilang. Seperti biasa, pak kusir yang pelupa menanyakan hal sama kepada pelanggannya, lelaki itu.

“Mau ke mana, Pak?”

“Sebuah rumah di ujung desa sana.”

Keduanya diam.

“Yang di kepala bapak itu, apa namanya?” tanya pak kusir penasaran dan ia menanyakan itu sudah ke sekian kali dan dengan ogah-ogahan lelaki itu menjawab pak kusir yang pelupa:

“Yang di kepalaku ini adalah blebetan kain dengan atasan lancip serupa caping,” lelaki itu pun bergumam dalam batin, “Paling-paling besok juga linglung dan bertanya lagi.”

Tak banyak yang pak kusir ingat, hanya jalan-jalan ke desa dari pasar itu yang ia tahu meski telah lama ia memandu dokar, sejak remaja hingga setua itu.

Lelaki berbadan besar berperut buncit berumur 40 tahun yang duduk di samping pak kusir kurus itu bernama Budi, bekas anggota Pejuang Negara Islam. Suatu organisasi yang dibentuk untuk menempa kader menjadi orang-orang yang bertekad dalam mendirikan negara islam. Namun tak lama waktu organisasi itu dibubarkan pemerintah sebab tujuannya merusak Pancasila.

Meski telah lepas dari organisasi itu, Budi tetap setia mengamalkan prinsip pokoknya, yakni mengutamakan Allah dalam segala kegiatan hidup. Usai salat isya misal, Budi sering menghabiskan waktu hingga menjelang subuh untuk berzikir. Dan usai subuh itu ia lanjut kembali hingga menjelang waktu zuhur.

“Yah, tidurlah! Temani mami malam ini! Telah lama engkau tak menyentuhku,” ucap sang istri sambil ia tepuk pundak kanan sang suami.

“Diamlah! Tidurlah dahulu, Mam! Ayah sedang sayang-sayangan kepada Allah. Mami berani mengganggu hubungan Ayah dengan Tuhan?”

Sang istri pun pergi meninggalkannya tanpa mengucap apa pun.

“Allah, Allah, Allah…” lanjut Budi lalu memejamkan mata.

Begitulah, bila telah bersama sang kekasih, Allah, Budi melupakan siapa pun, termasuk istri sendiri.

Pada lain waktu, Budi menemui seekor cicak menempel di dinding, tepatnya di lukisan batu berlafal Allah di musala tempat ia salat. Merasa Tuhannya dilecehkan, Budi pun segera meraih sapu di balik pintu lalu menghantamkannya kepada cicak hingga jatuh ke lantai: Plak, dan tak berkutik sedikit pun.

“Ini salahmu sendiri, Cicak, sebab mengotori lafal Allahku yang agung.”

Pada lain waktu lagi, seekor ular melintas di teras rumah. Budi yang sedang berdiri memandangi jalan terkaget olehnya. Sontak ia menginjak-injak ular itu hingga tak berkutik. Budi yang belum puas lantas kembali menginjak-injaknya hingga rata bersama tanah.

“Mami, kenapa tak segera datang minumanku? Lambat sekali engkau ini.”

Sang istri pun muncul dari balik pintu, membawakan kopi dengan gelas besar. Wajahnya berkeringat dan nafasnya terengah-engah.

“Kenapa lama sekali?”

“Di belakang banyak kerjaan, bersabarlah, Ayah!”

“Alasan. Kembali sana!”

Jika saja Budi marah besar, maka dilemparlah minuman panas itu ke badan sang istri seperti waktu lalu.

“Suami macam apa dia itu? Kasar sekali perlakuannya kepada istri,” bisik tetangga satu kepada tetangga dua.

“Ya, istri sedang sibuk bukannya dibantu malah dibentak-bentak melulu,” balas bisik tetangga dua.

“Sore yang indah,” ucap Budi sembari meletakkan segelas kopi yang usai ia seruput di kursi panjang tempat ia duduk sementara ia angkat kaki kanan ke atasnya. Ia ambil sebatang rokok dari bungkus lalu memantik korek bensol hingga muncul api kecil dan segera ia dekatkan ujung rokok yang telah menempel di mulutnya itu hingga menyala.

Ia sedot rokok itu dalam-dalam hingga memerah bara ujungnya. Suara kretek dan percik api bermunculan sesaat sebelum dilepas batang itu dari bibir. Sejenak budi berhenti lalu diembuslah asap tebal dari mulutnya.

Lelaki berkeriput berjalan melewati jalan depan rumah Budi sembari menggandeng anak kecil di samping kirinya.

“Mau ke mana, Kek?” Budi bertanya.

Kakek itu terus berjalan tanpa menoleh. Anak kecil itu menoleh lalu ia palingkan tolehannya saat sang kakek menarik tangan kanannya.

“Dasar dungu, disapa malah cuek,” Budi menggerutu.

Sore berubah petang lalu terdengarlah suara azan dibarengi dua motor bertabrakan di jalan depan rumah Budi. Orang-orang keluar dari rumahnya lalu mengerumuni orang yang terjatuh itu. Budi hanya memandang lalu masuklah ia ke rumah.

“Jelas-jelas ada panggilan Allah untuk maghrib kok malah mengabaikannya. Bukankah menjemput Allah Yang Mahakuasa lebih utama daripada orang celaka barusan itu?” batin Budi.

Budi mengambil wudu lalu memasuki musala di samping rumahnya. Ia selesaikan salat maghrib tanpa makmum seorang pun. Sang istri tak nampak di belakangnya, seperti orang-orang lain, ia menolong orang yang kecelakaan barusan itu.

Hingga terdengar azan berikutnya, Budi masih sendiri lalu ia beranjak dari duduk mengakhiri zikir.

“Allahuakbar,” Budi bertakbir khusyuk mengawali isya sembari ia angkat tangannya hingga sedekat kuping lalu menelungkupkan keduanya ke depan dada.

“Allah, Allah, Allah…” Budi kembali berzikir usai salat itu.

Bibirnya berkomat-kamit dalam pejaman mata. Kepalanya mengangguk-angguk sementara badannya bergoyang ke kanan ke kiri. Pada tangan kanan, butir demi butir tasbih ia geser dengan ibu jari.

Malam semakin malam dan Budi pun masih berzikir. Pikirannya terasa berat, terasa mengantuk namun tak dapat tidur. Budi menikmatinya. Pada malam yang semakin larut itu ia memasuki ekstase bagai penari sufi yang berputar-putar.

“Allah, Allah, Allah…” Budi mepercepat lafalnya, semakin cepat, terus cepat, bertambah cepat hingga bangkitlah kesadarannya di dunia lain.

Dunia tempat ia bangkit itu berlangitkan putih cerah. Buah-buah berwarna merah, kuning, ungu dan hijau saling menempel dan tergantung pada setiap dahan pepohonan. Sebuah sungai kecil mengalirkan air jernih memancarkan kilau cahaya. Budi yang kebingungan itu berjalan asal mengikuti hasrat penasaran. Hingga sampailah ia pada padang rumput hijau yang luas.

Nampak tiga buah pintu di tengah-tengah padang rumput itu. Dan pada setiap pintu nampak dunia lain yang lebih indah.

Dari langit turunlah cahaya putih mengampiri Budi.

“Kau telah berjalan-jalan rupanya. Sungguh indah bukan tempat ini? Ini adalah surga.” ucap cahaya kepada Budi.

“Sungguhkah ini surga? Betapa indah tempat ini,” Budi terkagum.

“Kini lihatlah pintu sebelah kanan itu. Di tempat penuh kedamaian itu istrimu tinggal usai maut kelak.”

“Bagaimana bisa demikian?”

“Sebab ketulusannya menyiapkan sarapan saat engkau sedang salat seribu rakaat pada suatu pagi.”

“Tidakkah salatku itu lebih utama daripada usaha istriku?”

“Tidak. Usaha istrimulah yang lebih utama.”

“Lalu pintu sebelah tengah ini, untuk siapakah, wahai cahaya?”

“Untuk pak kusir itu.”

“Bagaimana bisa?”

“Sebab ia habiskan lamunannya dalam mengendarai kuda supaya baik jalannya itu dengan berzikir. Sedang engkau hanya melamun kosong.”

“Dan yang kiri itu juga indah. Apakah untukku?”

“Tidak.”

“Lalu tak adakah surga untukku kelak, wahai cahaya?”

“Tidak. Nerakalah tempatmu kelak.”

“Bagaimana bisa? Bukankah aku lebih baik dari mereka itu? Aku mencintai Allah melebihi orang-orang itu.”

“Namun engkau tidak mencintai ciptaan-Nya melebihi orang-orang itu,” lanjut cahaya, “Sayangmu kepada-Nya tiada berguna bila engkau menyakiti manusia lain, hewan lain. Bukankah Allah sudah bilang kepadamu, jika engkau menyayangi yang di bumi maka yang di langit akan menyayangimu.”

Budi tersentak dan terbangun dari dunia itu. Bangkitlah ia dari duduk dan segera menemui sang istri. Di kamar, ia saksikan sang istri tidur memeluk bantal. Segeralah ia mendekat kepadanya, memeluk dari belakang dan mencium keningnya.

Pada esok harinya, Budi memohon maaf kepada tetangga dan orang lain yang pernah ia sakiti. Dari rumah ke rumah dan kepada setiap orang yang lewat depan rumahnya.

Sejak saat itu sikap Budi berubah lembut dan lebih ramah. Ia sayangi semua orang dan kepada sang istri, ia sayangi lebih dari siapa pun.

Hari minggu pagi, Budi dan sang istri jalan berdampingan mengelilingi pasar. Keduanya membeli minyak, gula dan segala rempah masakan. Semua kebutuhan dapur telah didapat, keduanya pun pulang menaiki dokar yang dikemudikan pak kusir itu.

“Mau ke mana, Pak?” tanya pak kusir.

“Sebuah rumah di ujung desa sana,” jawab Budi tersenyum.

Keduanya diam.

“Yang di kepala bapak itu, apa namanya?”

“Ini ban vespa, Pak?”

Mendengar itu Pak Kusir pun tertawa keras hingga terpingkal.

“Ada-ada saja kamu ini, Pak. Ban vespa kok di kepala?”

Keduanya tertawa.

“Oh, ya, saya ingat. Bapak adalah Kyai Budi itu. Yang sering dibincangkan orang-orang. Mereka bilang, yai adalah sosok yang penuh kasih.”

Budi tersenyum lalu membalas, “Ah, ada-ada saja bapak ini.”

Sang istri yang duduk di samping pun memeluk erat tangan kanan Budi.

Dalam laju kuda: tak, tik, tak, tik, tuk dan krincing suara lonceng, pak kusir dan Budi saling bercanda dan bercerita menghabiskan sisa jalan hingga ke rumah di ujung desa itu.

*Oleh Nicko Fernando, pengelola Rumah Buku Simpul Semarang.