Refleksi Perjalanan RBSS: Para Sahabat dan Guru (Bagian 2)

Sampangan New

Komunitas Embun Pagi tidak sendiri. Taufiq sebagai penggerak Komunitas Embun Pagi yang memang jaringan silaturahmi dan persahabatannya sangat luas kemudian mengajak kami untuk mendekat pada para guru-guru di sekitar UNNES yang menurutnya waktu itu dapat dijadikan pengayom dan sumber pengetahuan serta kebijaksanaan. Ada tiga nama yang kemudian menjadi tempat jujugan dan sering kami sambangi untuk berdiskusi, berkeluh kesah, atau sekadar silaturahmi, yakni Prof. Abu Su’ud, Prof. Tjetjep Rohendi Rohidi, dan Pak Saratri Wilodoyudho.

Beliau bertiga memang dikenal sebagai guru bagi para aktivis mahasiswa waktu itu, bahkan sejak sebelum masa reformasi 1998. Prof. Abu Su’ud adalah guru besar sejarah yang didaulat oleh Suara Merdeka untuk menulis rubrik Sang Pamomong tiap bulan bersama beberapa guru besar kampus lain. Prof. Abu pernah menulis sejarah Asia Selatan, Islamologi, dan bahkan Ada Anak Bertanya pada Bapaknya. Buku yang saya sebut terakhir tersebut merupakan buku ukuran saku yang ringkas namun menurut Prof. Abu justru mendapat perhatian luas dibanding ketika ia menulis serius.

Produktivitas menulisnya tak ada habisnya, hingga beberapa tahun terakhir terus menulis buku, antara lain How to be Real Indonesian dan soal awal mula penciptaan manusia yang saya lupa judulnya. Prof. Abu sudah seperti Bapak angkat sendiri bagi teman-teman di Komunitas Embun Pagi. Beberapa kali kawan-kawan yang sudah menempati kontrakan baru Komunitas Embun Pagi di Sampangan diundang untuk hadir pada acara pengajian bulanan keluarga beliau. Tentu saja itu sebuah kehormatan bagi kawan-kawan yang makan sehari-hari saja tidak tentu. Pulang pengajian dengan menenteng kotak berisi kue-kue dari Sang Profesor tentu cukup membangggakan.

Mengapa kawan-kawan Komunitas Embun Pagi mendapat kehormatan seperti itu? Barangkali karena memang kawan-kawan dulu sering silaturahmi, mengajak diskusi, dan barangkali karena itu pula menjadi harapan perjuangan dari Prof. Abu dalam mengembangkan pemikiran intelektual. Hingga pernah suatu saat Prof. Abu berkelakar, “Saya ini aneh betul, lahir dan besar di lingkungan Nahdlatul Ulama, kemudian aktif di Muhammadiyah, begitu tua begini yang sering datang dan merawat semangat intelektual saya bukannya anak-anak Muhammadiyah, tapi malah anak-anak muda yang sebagian besar berlatar Nahdliyin”.

Prof. Tjetjep Rohendi Rohidi tak jauh berbeda, dan bahkan dalam beberapa hal tampak lebih progresif. Sebagaimana sering jadi bahan obrolan ketika kami bertandang ke rumah beliau, yakni ketika masa reformasi 1998. Waktu itu Prof. Tjetjep termasuk barisan dosen yang menginginkan reformasi di tubuh UNNES. Ia menjadi motor penggerak dengan minta tanda tangan banyak dosen untuk sepakat dengan reformasi UNNES. Konon tinggal satu profesor yang belum didatangi oleh Prof. Tjetjep, dan beliaulah Prof. Abu Su’ud. Reformasi besar-besaran batal terjadi karena Prof. Abu ingin perubahan dilakukan secara lebih soft hingga tak ada pihak yang merasa disakiti hatinya.

Taufiq dan kawan-kawan waktu itu bersama Prof. Tjetjep menggagas forum diskusi yang kemudian diberi nama Forum Bukit Stonen. Bukit Stonen diambil dari alamat tempat tinggal Prof. Tjetjep, karena di rumah beliaulah forum diskusi dilaksanakan. Diskusi dilakukan sebulan sekali dan menghadirkan pembicara dari banyak kalangan. Semboyan yang dibawa adalah: kerja lintas generasi, lintas bidang, lintas kampus, lintas agama, dan seterusnya. Intinya, forum tersebut diarahkan agar dapat mempertemukan berbagai pihak yang punya latar keilmuan beragam dalam membahas hal-hal yang sifatnya aktual dan substansial. Namun lambat laun Forum Bukit Stonen tak lagi eksis karena Taufiq dan kawan-kawan (Luluk, Om Andi Tri Haryono, Syukron Salam, Said Muchtar) tak lagi punya banyak waktu untuk sering-sering silaturahmi dan menyelenggarakan acara.

Beberapa di antara kawan-kawan studi lanjut dan bekerja di tempat yang lumayan jauh. Taufiq sendiri di Unsoed, Purwokerto, Luluk juga ke Jakarta kemudian studi lanjut S3 di Utrecht, Belanda, Om Andi studi lanjut kemudian menjadi dosen di Universitas Pandanaran, Semarang, Muchtar Said juga studi lanjut hingga merantau dan ikut aktif di lingkar penting Universitas Nadhlatul Ulama, Jakarta, Syukron Salam studi lanjut, aktif di KP2KKN, dan akhirnya menjadi dosen di FH UNNES. Dengan demikian mulai muncul kendala ruang dan waktu yang menjadikan Forum Bukit Stonen tak dapat dilaksanakan secara periodik per bulan secara konsisten.

Berikutnya Pak Saratri Wilonoyudho. Dosen teknik UNNES yang tulisannya selalu menghiasai berbagia media massa dan merentang luas tidak hanya berkaitan dengan dunia teknik. Pak Saratri selalu terbuka sebagai tempat diskusi mengenai banyak hal. Bahkan bersedia untuk sekadar mengajari menulis artikel. Pak Saratri yang juga aktif sebagai Pembina majlis Gambang Syafa’at di Masjid Baiturrahman, Simpang Lima, Semarang, selalu membuka pintu rumahnya untuk diskusi. Hanya saja kemudian yang kurang aktif adalah kawan-kawan yang pada periode berikutnya dari Komunitas Embun Pagi mulai banyak aktivitas untuk studi lanjut dan merintis karir.

Tak hanya itu, kenekatan kawan-kawan di Komunitas Embun Pagi kadang memang kelawat batas. Pernah—sejauh ingatan saya yang waktu itu hanya dapat melihat peristiwanya dari jejaring media sosial Facebook saja (karena saya waktu itu masih merantau di Jakarta)—Taufiq, Luluk, Giyanto, dan kawan-kawan berkunjung ke rumah Arif Budiman, kakak Soe Hok Gie, di Salatiga. Menurut pengakuan kawan-kawan banyak cerita diobrolkan ketika bertemu. Hal langka tentu saja di era milenial anak-anak muda datang berkunjung ke Arif Budiman, generasi tahun 1960-an yang reputasinya sudah go internasional sampai di Benua Australia. Bahkan sempat mau mengundang Arif Budiman untuk mengisi diskusi di kontrakan. Syukur Alhamdulillah tidak jadi, karena kalau jadi barangkali akan mengecewakan Prof. Arif Budiman mengingat betapa joroknya kontrakan waktu itu.

Selain itu sejatinya kawan-kawan di Komunitas Embun Pagi selalu dalam posisi saling berguru satu sama lain. Tak ada yang berposisi sebagai guru dan lainnya murid, yang ada adalah sama-sama belajar. Bukan hanya karena masih sama-sama muda, melainkan karena bidang yang digeluti juga berbeda-beda. Selain itu tiap pribadi kawan-kawan Komunitas Embun Pagi juga unik dan patut diteladani beberapa kebaikan dari kawan-kawan. Pertama tentu Taufiq yang dikenal punya kharisma kepemimpinan yang diakui banyak orang. Ia dikenal serius dalam mengkaji sebuah teks, piawai menyusun kata-kata puitis, jagoan merayu, setia kawan, rajin dan tanpa pamrih merawat jalinan silaturahmi, dan alim.

Pasca Taufiq lulus S2 Cultural Studies dari UI, ia kemudian banyak menggelar diskusi membahas tema-tema utama Cultural Studies, termasuk mengaji teks-teks Michel Foucault. Giyanto, yang berlatar akademik geografi justru banyak menggeluti logika dan wacana ekonomi kapitalisme. Awaludin Marwan serius mengkaji hukum perspektif kritis dan postmodern, termasuk menelaah pemikiran-pemikiran psikoanalisis Jacques Lacan yang kemudian ia jadikan pisau analisis tugas akhirnya di Onatie, Spanyol, dalam membedah pemikiran Gus Dur. Said, selain mengikuti jejak Luluk kemudian banyak membaca Tan Malaka. Syukron Salam senada juga dengan Luluk dan Said. Makin lama makin banyak kawan, ada Kang Awank (sekarang diplomat di Kemenlu, RI), Janoary (dulu aktif di BP2M UNNES, sekarang freelance writer), dan lainnya.

Kawan-kawan yang studi lanjut S2 Hukum di Undip (Luluk, Said, Syukron Salam, dan lainnya) kemudian mendekat pada Prof. Satjipto Rahardjo, profesor hukum yang kuat dalam mengkampanyekan Hukum Progresif. Hingga akhirnya Luluk dan kawan-kawan atas dukungan Prof. Tjip berhasil mendirikan Satjipto Rahardjo Institute (SRI) yang bervisi mengembangkan pemikiran Prof. Tjip, terutama mengenai Hukum Progresif. Diskusi banyak digelar hingga menggandeng Kompas Jawa Tengah yang menyediakan tempat diskusi di kantor redaksi di Jl. Menteri Supeno. Nama-nama lain yang akhirnya ikut nimbrung di Sampangan antara lain Eko Mukminto (Ucok), Iksan, Nunu, Romy Hasan, Unu, Bowo, David, Jaka, dan lainnya. Luluk dan kawan-kawan jugalah yang sebelumnya memang aktif di dunia politik praktis kemudian mendirikan LSM dengan nama Dewa Orga, singkatan dari Democracy Watch Organization.

Beberapa kawan lain bergabung, antara lain Azil Masykur, Tsalis Syaifuddin, Fahmi, dan lainnya. Istilah “bergabung” di sini tidak lantas memposisikan Komunitas Embun Pagi sebagai organisasi yang merekrut anggota. Melainkan sekadar bergabung ikut ngekost bareng di satu kontrakan di Sampangan. Namun tentunya ketika ngekost di kontrakan yang mayoritas simpatisan Komunitas Embun Pagi, mau tak mau juga ikut nimbrung ikut diskusi yang sering diselenggarakan. Gerak intelektual kemudian mekar dengan diversifikasi merk. Misalnya muncul semangat untuk menggelorakan Mazhab Sampangan, yakni mazhab berpikir yang kritis dan eklektik khas keragaman kawan-kawan di Komunitas Embun Pagi. Lahir pula Sekolah Filsafat (Said), Sekolah Tan Malaka (Said), Pojok Studi Foucault (Taufiq), dan Economic Thought Corner (Andi).

Itulah masa-masa produktif dari tahun 2007 hingga kisaran tahun 2012. Masa-masa yang akan selalu dikenang karena telah membentuk pribadi dan masa depan bagi para pelakunya sekarang dan nanti.

Oleh Edi Subkhan, pengelola Rumah Buku Simpul Semarang (2014-2017)