Refleksi Perjalanan RBSS: Komunitas Embun Pagi (Bagian 1)

KEP 1 New

Beberapa kali saya menerima mahasiswa yang sedang penelitian skripsi dan menjadikan saya sebagai salah satu informan penelitian mereka. Terakhir di awal Ramadhan ini mahasiswa dari jurusan perpustakaan Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Ternyata saya dijadikan sebagai informan terkait dengan keberadaan saya di komunitas Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS). Jadi bukan karena saya dosen, bukan juga berkaitan dengan ilmu pendidikan yang saya geluti selama ini.

Nah, inilah yang membuat saya agak aneh. Ada apanya sih RBSS ini kok diteliti segala? Apa istimewanya RBSS ini? RBSS ini khan organisasi tak jelas jluntrungannya, masa depannya juga tak jelas, apa yang menarik diteliti dari komunitas yang untuk mengurus dirinya saja sudah kerepotan ini? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menggayuti pikiran saya, hingga saya merasa perlu menulis hal-hal yang berkaitan dengan RBSS. Tujuannya agar tidak salah ambil RBSS sebagai objek penelitian, agar tidak menganggap RBSS sebagai komunitas/organisasi besar yang mapan dan bagus, dan agar jujur sebagai dokumen sejarah salah satu eksperimen komunitas di Semarang yang untuk beberapa bulan ke depan barangkali sudah wassalam.

Semoga cerita sederhana ini tak hanya berguna bagi mahasiswa yang punya rencana meneliti RBSS dan/atau komunitas sejenis di Semarang, tapi juga sebagai pelajaran berharga bagi teman-teman mahasiswa dan gerakan sosial mengenai pergulatan pemikiran dan gerakan di RBSS sebagai eksperimen komunitas di Semarang. Saya akan mulai cerita lahirnya RBSS dari keberadaan komunitas yang sudah ada sebelumnya, dilanjut lahirnya RBSS, cita-cita besarnya yang sulit tercapai, juga perjalanan dan diskusi internal berkaitan dengan gerakan sosial dan potensi RBSS, hingga gambaran masa depannya yang tak seindah mimpi-mimpi yang pernah dibangun bersama.

Sebagai catatan, yang saya uraikan ini hanya mengandalkan ingatan personal saya, hingga kalau ada yang kurang tepat dan akurat mohon dapat dikoreksi.


Jauh sebelum RBSS didirikan secara gotong royong, sebenarnya sudah ada komunitas yang lahir lebih dulu dan menjadi semacam embrio bagi lahirnya RBSS. Komunitas tersebut bernama Komunitas Embun Pagi (KEP) yang didirikan oleh Muhammad Taufiqurrahman dan kawan-kawan. Saya bukan orang penting di komunitas ini, cuma diajak dan sesekali ikut nimbrung bicara di dalamnya. Para penggagas dan pemain inti Komunitas Embun Pagi adalah Taufiq dan kawan-kawan. Sejauh dari yang dapat saya ingat beberapa nama pegiatnya yaitu Taufiq, Kang Mul, Hanafi, Kang Yogas, Kang Giyanto, Haris, Kang Niam, Kang Udin. Berikutnya setelah berjalan agak lama bergabung pula Fahmi, Luluk, Said, Hassan, dan kawan-kawan.

Komunitas Embun Pagi ini para pegiatnya merupakan mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang tak lagi aktif di organisasi kemahasiswaan dan tinggal menunggu lulus saja. Taufiq waktu itu sudah purna tugas dari Ketua BEM FBS, Kang Yogas juga, Kang Giy juga selepas aktif di organisasi mahasiswa di FIS, saya tak lagi aktif di UKM Penelitian dan BP2M, Luluk lebih banyak beraktivitas politik di luar kampus, dan lainnya. Barangkali karena tak lagi punya wadah untuk mengasah nalar pikir, namun keinginan untuk belajar sangat besar, maka Taufiq dan kawan-kawan menginisiasi lahirnya Komunitas Embun Pagi pada tahun 2007. Taufiqlah yang punya ketelatenan tingkat dewa untuk mengunjungi banyak kawan lain agar sesekali ikut serta di komunitas ini.

Jadi, otaknya Komunitas Embun Pagi atau aktor intelektual di balik Komunitas Embun Pagi adalah Taufiq, termasuk dialah yang memberi nama komunitas ini dengan nama yang nyastra, “embun pagi”. Sebagai komunitas, Komunitas Embun Pagi berjalan tanpa banyak punya visi dan misi yang tegas. Karena memang intinya sekadar ingin kumpul dan ngobrol menambah wawasan. Klise barangkali, tapi itulah yang saya rasakan sebagai bagian yang pernah ikut serta urun rembug pada beberapa pertemuan di Komunitas Embun Pagi.

Tak ada struktur organisasi, tak ada ketua, bendahara, sekretaris, dan tak ada juga AD/ART. Walau begitu komitmen teman-teman yang ikut diskusi tak dapat dipandang sebelah mata. Tiap kali ngumpul diskusi pada Selasa malam selalu saja urunan membawa jajan, kopi, dan rokok. Tulisan singkat yang dibuat pun di-foto copy pakai uang sendiri. Saya masih ingat pernah ikut serta memantik diskusi dengan tema “ideologi, Kang Ribut (aktivitas dari FBS UNNES yang sekarang menjadi pegiat budaya dan dosen di Pekalongan) iktu nyumbang baca puisi. Konon acara diskusi sederhana itu sempat “diinteli” (baca: diawasi oleh intel).

Hal yang aneh mengingat kami waktu itu hanya sekumpulan anak muda dalam masa tunggu lulus kuliah dan mencari kerja, bukan aktivis yang pernah terjun melakukan agitasi masa betulan di akar rumput hingga berbuah kerusuhan dan vandalisme misalnya. Tema diskusi lainnya yang dapat saya ingat berkaitan dengan isu pemanasan global, lingkungan hidup, filsafat, dan agama. Bahkan waktu itu pernah menghadirkan Pompu, mantan mahasiswa UNNES yang juga aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai obat penawar rasa penasaran kami mengenai apa tujuan HTI dan hakikat dari Khilafah Islamiyah yang mereka perjuangkan.

Hasilnya: tak satupun dari kami berhasil didoktrin oleh HTI, karena di akhir diskusi tak ada kesepakatan kecuali bahwa HTI dan kawan-kawan di Komunitas Embun Pagi punya tafsir yang berbeda mengenai ayat-ayat al-Quran, hadits, dan sistem pemerintahan modern dibanding HTI. Semangat belajar apa saja itulah yang menjadikan simpatisan Komunitas Embun Pagi senantiasa konsisten bicara ngalor-ngidul dari jam 8 malam hingga jelang subuh. Diskusi hingga pagi hari inilah yang menjadi penguat nama komunitas, karena ketika hendak pulang ke kost masing-masing, jok motor sudah dibasahi embun pagi. Ya, itulah Komunitas Embun Pagi yang diskusi mulai jam 8 malam hingga embun pagi muncul.

Saking sukanya diskusi, Kang Yogas pernah secara becanda menghardik kami yang bahkan menjadikan bakul Mie Ayam keliling sebagai bahan diskusi, alih-alih langsung saja beli Mie Ayamnya dandengan demikian artinya langsung saja kasih rizki pada bakulnya tanpa banyak diskusi. Tapi ya begitulah waktu itu, asalkan bisa jadi bahan untuk mengasah nalar kritis dan menambah wawasan, semua hal didiskusikan. Barangkali yang didiskusikan memang tak berimbas langsung pada praktik kehidupan di sekitar secara langsung, tapi memang rasanya cukup dapat memuaskan dahaga intelektual yang dirasa kurang berkembang di lingkungan kampus. Waktu itu—barangkali juga hingga sekarang—tak banyak organisasi intra kampus yang serius memiliki program pengembangan kapasitas intelektual untuk anggota dan mahasiswa lain pada umumnya.

Saya lupa tepatnya, namun selepas saya merantau ke Jakarta sejak awal 2008 hingga 2011 kawan-kawan yang sering nimbrung di Komunitas Embun Pagi akhirnya punya kontrakan baru. Punya kontrakan di sini jangan diartikan atas nama Komunitas Embun Pagi urunan untuk membuat base camp. Bukan! Kontrakan ini cuma kontrakan yang jadi tempat diskusi Komunitas Embun Pagi utama saja di samping tempat-tempat lainnya. Saya duga motor penggeraknya adalah Awaludin Marwan yang familiar dipanggil Luluk (adik kelas saya di SMAN Tahunan, Jepara). Luluk memang pekerja keras dan cerdas, soal cari duit jangan tanya lagi, soal merayu dan mengkader dia jagonya. Tak heran jika dengan mudah ia mengajak kawan-kawan yang sevisi untuk ngontrak bersama, terutama yang sudah banyak dikenal aktif di Komunitas Embun Pagi. Kontrakan pindah hingga 3 (tiga) kali, semuanya di daerah Sampangan.

Oleh Edi Subkhan, pengelola Rumah Buku Simpul Semarang (2014-2017)