Menggelapkah Kesucian itu?

beautiful-2194518_12801

[Cerpen]“Ambilkan bulan, Bu, ambilkan bulan, Bu, yang slalu bersinar, di langit. Di langit. . .”.

Seorang perempuan kecil tertidur di pangkuan kakaknya saat ia rinaikan lagu itu. Lagu yang biasa Ibu nyanyikan kepadanya, menjelang tidur.

Malam itu bulan bersinar terang, putih, dan menempel di langit. Disertai bintang-bintang yang berkedip seolah menyapa perempuan itu. Di depan rumah, ia pandangi langit sembari membelai lembut kepala sang adik.

Perempuan itu beranjak masuk ke dalam rumah, sementara ia bopong adiknya menuju kamar. Di atas kasur, ia letakkan pelan kepala adik sembari menepikan helai rambut yang menutup matanya. Ia pandangi sebentar, lalu mengecup keningnya.

Malam itu perempuan itu tak bisa tidur, seperti malam-malam sebelumnya. Banyak hal ia pikirkan. Kepalanya terasa berat dan sakit: memikirkan Ibu yang tak kunjung sembuh.

Ia pandangi langit, bulan, bintang dan berharap muncul wajah Tuhan memberi pertolongan.

Malam semakin larut. Kini tak lagi terdengar suara orang-orang bertadarus. Anak-anak kecil berjalan ramai dengan sarung terikat di pinggang, bercakap dan berpulang menuju rumah. Ada pula anak-anak kecil yang tak berpulang ke rumah. Mereka tidur di musala-musala, di masjid, bersiap diri mengitari desa waktu fajar nanti: berteriak, “sahur, sahur,” ke penjuru desa.

Perempuan itu menghentikan lamunan, lalu masuk ke dalam rumah, menutup pintu, menuju kamar belakang menemui Ibu. Perempuan itu bersedih menyaksikan Ibu yang makin hari kian kurus. Ia mendekat, duduk di sampingnya, memandangnya, lalu berbaring di sampingnya, mengelus keningnya, membelai rambutnya dan tertidurlah perempuan itu di samping Ibu.

Sore pun tiba. Seperti hari-hari sebelumnya, ia duduk di depan rumah memandang jalan dan melamun.

Di depan rumah samping jalan itu, seorang anak kecil melompat-lompat keluar dari kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaannya, berlarian tanpa baju usai mandi pada waktu sore. Di belakang perempuan kecil itu, seorang ibu berseri-seri mengikuti anaknya, tanpa melompat-lompat tentu, dan tentu saja ia berpakaian.

Pada hari terakhir puasa, jalanan depan rumah begitu ramai. Semenjak sore, orang-orang tampak rapi, bersih, siap berbelanja ke toko-toko baju. Pada hari Idul Fitri besok itu, segalanya mesti baru: baju, celana, dan hati.

“Mbak, bagaimana kabar ibumu? Apakah sudah baik?” tanya tetangga satu yang tinggal di samping kanan rumah perempuan itu.

“Belum, Mbak. Ibu masih sakit, makan pun tak mau.”

“Kenapa tak kaubawa ke rumah sakit saja?”

“Tak punya uang, Mbak.”

“Oh, ya. Sabar ya, Mbak.”

“Mbak, bagaimana kabar ibumu? Apakah sudah sembuh?” tanya tetangga dua yang baru saja mendekat dan tinggal di samping kiri rumah perempuan itu.

“Belum, Mbak, belum sembuh.”

“Sabar ya, Mbak.”

Tak lama kemudian kedua tetangga itu meninggalkan perempuan itu, masuk ke rumah dan bersiap-siap pergi.

“Mami, ayo kita cari baju baru,” bujuk anak tetangga satu.

“Ya, kita tunggu Papi, Nak. Papi masih bersiap-siap.”

“Mami, ayo kita pergi. Aku ingin petasan buat malam nanti,” ajak anak tetangga dua.

“Ya, Mami bersiap dulu, Nak. Nanti kita beli petasan yang besar.”

“Hore!”

Kedua tetangga itu pun pergi, berbelanja, dengan sebuah mobil bersama keluarga.

“Kakak, sebentar lagi akan berbuka. Mari masuk ke rumah!” ajak adik perempuan itu, penuh riang ia tarik-tarik tangan kakaknya.

“Ya, Dik,” jawab senyum perempuan itu.

Magrib pun tiba, suara takbir terus menggema. Malam itu adalah malam terakhir bulan puasa. Anak-anak kecil berlarian menuju musala-musala, menuju masjid, membawa kentongan, ember, beduk dan jerigen.

“Kak, saya ke musala ya! Bersama teman-teman.”

“Ya, Dik,” jawab senyum perempuan itu.

Segera ia ambil mukena, berlari keluar rumah dan nimbrung ke anak-anak kecil sebayanya.

Suara takbir terus menggema, mendegupkan hati perempuan itu begitu kencang. Perempuan itu ketakutan, bingung, tak rela, bimbang, khawatir dan prihatin Ibu tak kunjung sembuh. Perasaan perempuan itu tak keruan.

Isya pun tiba. Saatnya perempuan itu menemui lelaki yang tinggal di ujung desa. Perempuan itu menutup tubuh rapat-rapat, berjalan sembunyi-sembunyi lewat belakang rumah diiringi suara takbir yang menggema-gema seluruh penjuru desa. Setengah jam berlalu dan sampailah perempun itu di rumah lelaki itu.

“Siapa itu?” ucap lelaki saat mendengar suara ketukan di pintu rumahnya.

“Saya.”

“Oh, ya, tunggu sebentar,” lelaki itu bergegas membuka pintu rumah. “Akhirnya kau datang juga. Aku sudah tak kuat menunggumu, mari masuk!” lelaki itu menarik perempuan itu, mengajaknya ke dalam dan membawanya ke ruang belakang: tempat lelaki itu tidur.

Lelaki itu kembali ke pintu depan, melihat kanan-kiri lalu menutupnya.

“Mari kita puaskan malam ini!” ucap lelaki itu.

Lelaki itu melepas pakaian perempuan itu, lalu menidurkannya di kasur di depannya. Lelaki itu juga melepas pakaian, tak sabar lagi, ia robek pakaian sendiri.

Perempuan itu memejamkan mata, merelakan tubuhnya digerayangi lelaki itu. Ia rasai tangan lelaki meraba-raba seluruh tubuhnya.

“Ah. . .” desah lelaki itu sementara perempuan itu diam.

Satu jam berlalu.

“Sekali lagi, Cantik, untuk kedua kali ini engkau akan merasakan nikmat itu,” perempuan itu diam dan merelakan tubuhnya untuk sekali lagi.

Suara takbir yang terlupakan pun terdengar, menggema, di semua desa di segala penjuru.

“Allahu Akbar. . .” gema suara takbir.

“Ah! . .” desah lelaki itu.

“Allahu Akbar. . .”

“Ah! . .”

“Allahu Akbar. . .”

“Ah! . .”

Pikiran perempuan itu semrawut, kacau. Ia kecewa pada diri sendiri. Namun ia merasa perlu melakukan itu. Ia menangis kencang dalam hati, memaaafkan diri. Namun ia merasa tak pantas untuk mendapatkan maaf itu.

Pikiran perempuan itu semrawut, kacau. Ia tak ingin Ibu terus-menerus sakit, ia mesti berobat, ke rumah sakit. Ia juga tak ingin adiknya memakai pakaian kumuh, ia ingin adik memakai pakaian baru, mukena baru, seperti anak-anak kecil yang lain.

“Allahu Akbar. . .”

“Ah. . .”

Pada malam takbiran menjelang lebaran, perempuan itu menjual diri demi uang, demi adik dan ibunya. Pada malam takbiran menjelang lebaran, malam terakhir bulan suci, seorang perempuan menjual kesucian. Pada malam takbiran menjelang lebaran, dalam selimut gema suara takbir, seorang perempuan meneteskan air mata dalam selimut tubuh seorang lelaki yang mendesah menikmatinya.

Pada malam takbiran menjelang lebaran, gema suara takbir mengiringi desah suara perempuan itu.

Badra, pegiat Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS)