Mencari Titik Temu Islam dan Modernitas

Fazlur Rahman

[Resensi] Ada beragam cara umat Islam dalam merespons modernitas. Beberapa pihak menolak modernitas dan mengajak untuk kembali pada tata nilai kehidupan abad pertengahan Islam. Bahkan ada yang paling ekstrim dengan melakukan perlawanan terhadap Barat dengan angkat senjata. Di sisi lain, terdapat pula para cerdik cendekia yang menerima modernitas dan bahkan menganggapnya sebagai resep yang akan dapat mengatasi ketertinggalan dunia Islam dewasa ini.

Di antara barisan pada cendekiawan tersebut, Fazlur Rahman menjadi salah satu yang melakukan modernisasi terhadap ilmu pengetahuan dan hukum Islam. Dikenal sebagai pakar gerakan filsafat Peripatetik dan pemikiran Ibn Sina, Rahman telah menghasilkan banyak karya. Termasuk di antara karyanya “Islam” yang terbit kali pertama tahun 1966 dan diterbitkan oleh Mizan dalam bahasa Indonesia untuk kesekian kalinya pada Februari 2017.

Nuansa penolakannya terhadap pemikiran yang terbelenggu nostalgia abad pertengahan Islam terlihat betul dalam buku ini. Di awal bahasan mengenai Muhammad misalnya, langsung ia menafsirkan bahwa Islam sebagai monoteisme yang dibawa oleh Muhammad sejak awal berkaitan dengan humanisme serta keadilan sosial dan ekonomi, sehingga siapa saja yang membawa wahyu di masa awal diturunkan kepada Nabi Muhammad akan sampai pada simpulan tersebut (Rahman, 2017: 4-5).

Istilah humanisme, keadilan sosial, dan keadilan ekonomi merupakan istilah yang lahir dalam konstelasi kehidupan dan alam pikir modernitas. Dengan analisisnya tersebut, barangkali dapat dikatakan bahwa Rahman ingin mencari titik temu atau kompatibilitas antara Islam dan modernitas. Bahkan ingin membuktikan bahwa Islam secara substansial tak bertentangan dengan visi dan semangat modern.

Semangatnya itulah yang dalam salah satu fase kehidupannya membuat Rahman ditentang oleh banyak orang karena pemikirannya. Karena gaya ungkapnya memang blak-blakan dan barangkali dinilai terlalu vulgar dalam membahas doktrin-doktrin kenabian yang bagi sebagian besar umat Islam dipandang sakral. Misalnya ia menyatakan bahwa doktrin Mikraj yang dikembangkan oleh para Ulama salaf (Rahman menerjemahkannya dengan istilah ‘kaum ortodoks’) mirip dengan pola Kenaikan Isa dan ditopang oleh hadits tak lebih dari fiksi sejarah yang bahannya diambil dari berbagai sumber (Rahman, 2017: 8).

Bagi umat Islam yang hidup dalam tradisi dan ajaran Sunni dapat dimaklumi jika tersinggung. Karena sejarah Isra’ Mikraj selama ini memang diajarkan oleh para Ulama sebagai sebuah perjalanan yang kaya kisah dan makna. Terlepas dari diskusi apakah yang diperjalankan oleh Allah SWT dari Makkah ke Masjid al-Aqsha hingga naik ke Sidratul Muntaha hanya jiwanya atau juga jasadnya, secara substansial doktrin-doktrin para Ulama salaf terutama yang dalam sejarah perkembangan Islam kemudian familiar disebut sebagai ahlus sunnah wa al-jama’ah memang penuh makna.

Nah, soal substansi yang bermakna itulah yang justru diutamakan oleh Rahman dalam pemahamannya terhadap al-Quran dan doktrin-doktrin ajaran Islam. Hingga barangkali dapat pahami bahwa kritiknya atas cerita Mikraj Nabi tak lantas menggugurkan urgensi dari kisah-kisah di sekitar Mikraj. Jika melihat dari karakter analisisnya terhadap al-Quran dan doktrin-doktrin ajaran Islam, terdapat orientasi bahwa kisah-kisah tersebut tetaplah penting karena di dalam kisah-kisah tersebut dapat menjadi salah satu sumber etika kehidupan umat Islam.

Karakter analisisnya tersebut dikuatkan ketika ia mengkritik doktrin Asy’ariyah yang menekankan pada determinisme, dan oleh karenanya relatif bersikap pasif terhadap lahirnya pemerintahan yang despotik (Rahman, 2017: 141). Namun secara objektif ia juga menulis bahwa pembelaan Asy’ariyah atas serangan cara pandang filosofis, terutama teologi spekulatif yang dibawa oleh gerakan Muktazilah telah berhasil menyelamatkan sendi-sendi utama ajaran Islam awal. Berangkat dari kritiknya itulah Rahman menyatakan bahwa warisan pemikiran dan peradaban Islam tersebut perlu direkonstruksi.

Misalnya ia mengkritik doktrin dari para Ulama salaf bahwa tidak mengapa dipimpin oleh penguasa, walaupun fasik. Satu doktrin yang juga digaungkan oleh penerus ahli hadits, Ibn Taimiyah dalam kitabnya Al-siyasah al-syar’iyyah dengan ungkapan “Enam puluh hari di bawah penguasa zalim lebih baik daripada satu malam yang penuh kekacauan” (Rahman, 2017: 361). Rahman paham betul bahwa ungkapan tersebut dilatari oleh orientasi dari para Ulama salaf untuk menjaga stabilitas umat Islam di tengah kemelut politik abad pertengahan. Namun untuk konteks modern, Rahman menganggap pandangan tersebut perlu dikoreksi.

Ia menyarankan agar umat Islam membuat lembaga-lembaga yang dapat memastikan solidaritas dan stabilitas masyarakat dan negara, serta partisipasi aktif, positif, dan bertanggung jawab dari umat dalam urusan pemerintahan dan kenegaraan. Di sini ia menyatakan bahwa syaratnya negara harus dikelola secara demokratis, dan untuk memenuhi cita-cita tersebut umat Islam harus memutuskannya secara internal. Jangan merasa tertekan dari luar. Ia menyatakan bahwa prinsip Islam cukup luas untuk menerima berbagai macam konstitusi, dalam kerangka demokratis, bergantung pada iklim sosial dan politik yang dihadapi (Rahman, 2017: 362).

Kritik pentingnya yang lain adalah soal penafisiran al-Quran sebagai sumber hukum Islam. Ia mengkritik para mujtahid yang kelewatan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran sebagai dasar hukum, hingga tidak mempertimbangkan norma hukum yang terdapat pada ayat-ayat hukum. Misalnya ia tidak sepakat dengan rumusan hukum dari QS. 33: 28-29 di mana Allah memerintahkan Nabi untuk mengatakan pada istri-istrinya bahwa jika mereka menghendaki harta duniawi maka ia akan memberikannya sekaligus menceraikannya secara baik-baik, kecuali jika mereka lebih menghendaki Allah dan Rasul-Nya.

Ayat tersebut menurut Rahman membawa pesan moral (norma hukum) bahwa para istri Nabi tidak sepatutnya menuntut harta duniawi. Alih-alih mengambil pesan moral tersebut, para mujtahid abad pertengahan justru merumuskan hukum Islam bahwa laki-laki sewaktu-waktu dapat memberikan pilihan kepada istrinya (takhyir) apakah akan terus hidup bersama atau berpisah. Kritik atas bias laki-laki ini ia lancarkan juga pada perujukan QS. 24: 24-33 yang memerintahkan agar budak-budak dibebaskan dengan bayaran kontrak pembebasan sebagai dasar hukum. Namun para mujtahid hanya menganggapnya sebagai saran saja, tanpa kekuatan hukum yang mengikat. Rahman menyatakan “Inilah sebabnya mengapa kita wajib mendalami nilai etik dalam al-Quran secara terpisah dan baru kemudian merumuskan hukum-hukum darinya” (Rahman, 2017: 386-387).

Banyaknya analisis, kritik, dan rekomendasi dari Rahman dalam bukunya ini menunjukkan bahwa buku ini bukan sekadar buku sejarah yang ditulis secara deskripti dan naratif. Melainkan buku pemikiran, karena banyak opini Rahman berserak di sana sini yang menunjukkan posisinya sebagai pemikir modernisme Islam. Terlepas dari kerumitan istilah-istilah yang digunakan (misal: teologi spekulatif, ortodoksi, rasionalisme Henelinistik, teori atmostik, dan dialektika negatif) yang barangkali akan menyulitkan pembaca pemula, buku ini memang lengkap. Rahman menjelaskan secara tematik dan kronologis sekaligus mulai dari tema tentang Nabi Muhammad, al-Quran, hadits, hingga kondisi umat Islam kontemporer plus analisisnya.

Oleh karena itu buku yang ditulis sebagai bacaan utama dalam mendalami sejarah pemikiran dan peradaban Islam di banyak universitas ini memang cukup berat, karena mengandaikan pembaca sudah menguasai istilah-istilah kunci dalam fiqh, filsafat Islam, sufisme, dan lainnya. Walau begitu, bagi para peminat kajian Islam kontemporer, buku karya gurunya Nurcholis Madjid (Cak Nur), Amien Rais, dan Buya Syafi’i Ma’arif ini layak dibaca sebagai pemerkaya informasi dan wawasan mengenai pemikiran dan peradaban Islam dari masa Nabi hingga sekarang.

* Oleh Edi Subkhan, pengelola Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS), dosen Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, FIP UNNES

 


  • Judul : Islam: sejarah pemikiran dan peradaban
  • Penulis : Fazlur Rahman
  • Penerjemah : M. Irsyad Rafsadie
  • Penerbit : Mizan
  • Terbitan : cetakan 1, Februari 2017
  • Halaman :  xxviii+423