Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an[i]

MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN

Oleh Muslimin[ii]

[ulasan buku] Sudah lama saya tidak bergumul dengan bacaan yang lumayan berat dengan kategori nuansa islami dan tentang kefilsafatan. Meskipun nyatanya memang buku dengan 294 halaman ini belum pula terselesaikan dengan total, pengalaman yang didapat justru lebih banyak dari percakapan secara langsung dan pengajaran beliau selama satu semester di perkuliahan daripada memahami apa yang ada dalam buku ini. Alasan pemilihan buku ini sebagai salah satu bahan bacaan yang akan saya diskusikan sebenarnya cukup sepele. Pertama, penulis buku ini adalah dosen saya di jurusan Bimbingan dan Konseling. Kedua, supaya lebih ridho dan jelas sanadnya, terlebih buku ini mengulas tentang filsafat dan hakikat manusia (karena manusia adalah suatu makhluk paling rumit) dalam pandangan Kalamullah, sehingga memaksa otak saya berpikir kembali tentang ‘manusia’ dan Penciptanya.

Negara Indonesia adalah negara Agamis, walau korupsinya saja juara Asia (namun di tahun 2010, melorot menjadi juara ke dua setelah Filiphina, syukurlah, mudah-mudahan terus melorot bukan karena di negara lain meningkat korupsinya), belum lagi segala jenis masalah yang justru menunjukkan perilaku maksiat. Aspek norma-norma sosio-kultural kemudian menjadi acuan mutlak sehingga, mengalahkan ajaran agama; dampaknya, perbuatan haram diterima, perbuatan halal ‘diharamkan’. Sebutlah negara-negara maju, baik dari belahan Barat maupun dari belahan Timur; benang merahnya sama, yaitu mereka membangun dirinya sendiri berdasarkan nilai-nilai dan filsafat sosio-budaya dan agamanya, dan itu dimulai dengan pengenalan serta penegasan tentang jati dirinya sendiri. Menjadi aneh bukan? Jika memandang dirinya religius, justru etos kerjanya rendah, tidak produktif malah konsumtif, padahal di semua agama di dunia ini tidak ada yang mengajarkan pemborosan. Nah, di situlah terkadang pemahaman tentang manusia secara gamblang dibutuhkan.

Selanjutnya dogmatik Manusia yang didefinisikan sebagai salah satu makhluk paling cerdas, yang diunggulkan di alam semesta, hadir dalam berbagai permasalahan yang tidak berkutat pada urusan kekuasaan dan perut. Sebelum membahas jauh tentang buku ini, mari kita renungkan sejenak. Siapa yang paling mengetahui cara terbaik untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi manusia? Siapa yang paling mengetahui kapan seseorang bakal wafat, dan bagaimana  kehidupan sesudahnya? Benarkah bahwa membimbing perlu rujukan yang pasti benar? Siapa yang paling mengetahui rahasia “potensi” (kekuatan dan kelemahan) manusia? Siapa yang paling mengetahui “rahasia” di balik masalah yang dihadapi manusia?

Dari sejumlah pertanyaan inilah kira-kira buku ini ditulis oleh Anwar dalam mengkaji sebenarnya apa yang termaktub dalam penciptaan manusia. Dari enam bab dalam buku ini secara garis besar membahas manusia, manusia dalam Al-Qur’an, potensi dan setan, musibah dan ajal [yang manusia secara umum memandang sebagai takdir], serta pedoman dalam menjalani hidup sesuai Al-Quran dan tuntunan agama.

Diterangkan bahwa buku ini dimaksudkan sebagai gambaran/pemahaman tentang manusia dari sudut pandang Al-Quran [ deskripsi manusia menurut informasi dari Pencipta manusia]. Di sini juga dijelaskan perbandingan filsafat anatar islam dengan berbagai pandangan tentang manusia, seperti pandangan konfusianisme yakni surga adalah pencipta kebajikan yang dimiliki manusia. Setiap manusia merupakan orang bijak yang potensial, yaitu orang yang mampu berbuat kebajikan secara eksternal, artinya semua manusia memiliki kapasitas untuk menumbuhkan kebajikan dan membawa dirinya ke dalam harmoni dengan Titah Surga. Pada bab ini juga dibandingkan bagaimana hakikat manusia secara islam, dengan berbagai pandangan lain, seperti Hinduisme Upanis, Socrates, Plato, dan seterusnya.

Selanjutnya dijelaskan bagaimana proses pembuatan manusia berdasar Al-Qur’an, mulai dari nutfah sampai terbentuknya manusia yang terlahir di dunia, juga termasuk bagaimana percakapan dan sumpah manusia sebelum dilahirkan. Manusia dalam Al-Qur’an disebut dalam beberapa kata; basyar, insan atau nas, dan bani adam. Setiap kata mengandung makna yang berbeda; basyar berarti manusia dipandang sebagai bukti fisik yang dapat dilihat oleh pancaindra; insan bermakna bahwa manusia itu terdiri dari jasmani dan rohani, jiwa dan raga; bani adam bermakna bahwa manusia merupakan anak cucu nabi Adam, bukan revolusi dari kera, ataupun hasil persilangan genetik dari makhluk lain. Manusia dicipta dari nutfah [air mani, yang terkandung didalamnya sari pati tanah] kemudian secara alami bergerak, membuahi sel telur, kemudian hasil pembuahan disimpan rapi di dalam rahim [tempat kasih sayang]. Maka dari sini sebenarnya muncul, siapa yang menggerakkan nutfah menuju sel telur, menyimpannya di tempat paling aman dan nyaman di Bumi, mengembangkannya menjadi bentuk-bentuk yang berbeda? Siapa yang berani menjamin bayi  dalam kandungan ini pasti organ tubuhnya lengkap dan  lahir selamat?
adakah yang mengatur? atau kebetulan? Di sinilah peran Tuhan sangat besar dalam menentukan kisah panjang manusia. Pun, ketika sebelum lahir, dimana setiap manusia disumpah untuk percaya kepada Penciptanya, mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Bukankah manusia dicipta ke dunia ini hanya untuk menjalankan dua perintah? Menjadi khalifah dan beribadah!

Dalam modernitas memang manusia, tentunya, bukan semata mengurus tentang keilahian, setiap manusia mempunyai hak mulai zaman azali [lauhul mahfuds]; yakni hak mukhoyyar dan Musayyar, dimana Hak Mukhoyyar berarti manusia mempunyai hak untuk memilih berbuat baik atau buruk, sedang Musayyar yang merupakan ketentuan dari Tuhan dan manusia hanya bisa menjalani, tentunya semua bergantung pada resiko yang akan diterimanya di kemudian hari.

Selanjutnya dalam surah Ali Imran: 14-17 bahwasanya kebutuhan dasar setiap manusia adalah kecintaan kepada wanita-wanita, anak-anak, harta yang melimpah, dan kekuasaan. Ini merupakan bagian dari manusia tanpa bisa dipungkiri, namun, disyariatkan bagi manusia untuk mengatur sepenuhnya sesuai dengan bimbingan yang telah diturunkan secara wahyu. Manusia dalam Al-Qur’an juga diberikan sifat sifat yang kurang terpuji untuk kemudian diserahkan sepenuhnya kepada manusia untuk bisa meredam atau menuruti sifatnya, dalam Al-Quran sifat sifat tersebut adalah melalaikan ajaran agama, menusia yang lemah, ‘nakal’, tergesa-gesa dan cepat berputus asa, suka membantah dan mencari alasan, tamak, kikir, iri hati, dan dengki. Hal tersebut memang sudah di-nash-kan dalam Al-Quran, namun pengendalian sepenuhnya diberikan kepada manusia sebagai makhluk yang mempunyai hati dan berpikir.

Berbicara tentang hati manusia, bahwa kalbu terletak di dalam dada, fungsinya untuk memahami (kesan yang diperoleh dari pengindraan), Allah yang menciptakan manusia, dan ia mengetahui apa yang dibisikkan dalam hatinya dalam setiap detik. Hati manusia memiliki karakter senantiasa membolak-balik sekali senang sekali susah, sekali setuju, oleh karena itu Allah minta pertanggungan jawab perbuatan yang disengaja oleh hati dalam keadaan sulit, keras, dan berat seseorang bisa jadi berubah ke arah yang bertentangan ; kalbu adalah wadah dari pengajaran, kasih sayang, takut, dan keimanan.

Manusia diciptakan allah terdiri dari dua unsur yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain, yaitu unsur jasmani dan ruh illahi (akal dan rohani). unsur “ruh ciptaan allah” tidak ditemukan pada iblis dan jin, unsur rohani itulah yang mengantar manusia lebih mampu mengenal allah swt., beriman, berbudi luhur, serta berperasaan halus. Manusia diciptakan Allah juga dilengkapi dengan akal pikiran, yang memungkinkan manusia mampu membedakan antara yang benar dengan salah. Manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang diusahakannya besok atau apa yang diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha. Maka akhirnya sebagai makhluk yang haus akan pengetahuan, mari sempurnakan ilmu dengan wahyu. [ ]

 

[i] Tulisan disampaikan pada rutinitas diskusi buku bulan Ramadhan di Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS) Gg. Nangka No 50, Sekaran, Gunung Pati, Semarang pada 15 Juni 2017.

[ii] Mahasiswa aktif jurusan Bimbingan dan Konseling, Unnes, angkatan 2014, dan pengelola Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS).