Keindahan Itu Biasa Saja

Anisatul Izah Cinta Nicko Fernando

[cerpen] Sudah satu jam aku menunggumu. Aku duduk, lalu berdiri, duduk lagi, berdiri lagi, duduk lagi. Dan, terus kuulang.

“Sial, lama sekali!” batinku. “Anis, masih lama?” kupanggil engkau dari teras indekos.udah satu jam aku menunggumu. Aku duduk, lalu berdiri, duduk lagi, berdiri lagi, duduk lagi. Dan, terus kuulang.

“Sebentar lagi. Tunggu!” teriakmu dari dalam kamar.

“Huh. Tahan, tahan. Jangan marah!” batinku. “Allah bersama orang sabar dan menahan jengkel,” batinku lagi. Kuelus dadaku pelan-pelan, kutarik napas sedalam-dalam, lalu kuembuskan. Sabar.

“Yei. Aku sudah selesai dandan,” ucapmu, mengagetkanku. “Cantik, bukan?” ucapmu kembali. Kemayu.

“Ya, ya, ya,” jawabku asal-asalan. “Mana sapu tanganmu? Aku pinjam!”

“Ini!” kuterima, lalu kukibaskan.

Wajahmu penuh bedak. Segera, kuusap pipi dan keningmu, pelan-pelan. Kau tak mengelak, dan hanya diam menutup mata. Pasrah.

“Sudah. Buka matamu!” ucapku. “Sekarang, kaubersihkan warna merah di bibirmu!”

“Ya, Mas,” ucapmu.

“Kau cantik, Anis,” ucapku. Bohong. “Sekarang kau lebih cantik. Tanpa bedak, lipstick, dan entah apa pun itu yang kaupakai untuk merias parasmu,” ucapku. Jujur.

“Ya, Mas.”

Kau masih mengusap wajah. Sejenak, kupandang matamu, keningmu, pipimu, bibirmu dan semua, apa pun yang melekat di wajahmu. Cantik. Ya, hanya kata itu yang pas untukmu. Dan, aku tak tahu mesti bagaimana menggambarkan kecantikanmu dalam cerpen ini. Semua bahasa dalam pikiran tak mampu melukiskan keanggunanmu.

“Yuk, Mas, kita berangkat!”

“Ya,” jawabku, setengah terkejut karena melamunkanmu.

Tak lama, sampailah kita di kampus kesenian.

“Yuk, Mas, cepatlah! Satu jam lagi pameran lukisan selesai.”

“Ya.”

Kau tak sabar. Kini kau berlari menuju gedung seni. Aku di belakangmu. Berjalan pelan, memandangmu.

“Yuk, Mas, cepatlah!” ucapmu kembali. Menungguku di depan pintu.

Kini kauajak aku berkeliling. Melihat-lihat lukisan yang tertempel di dinding.

“Wah, lihat, Mas. Lukisan ini sangat indah. Aku suka warna-warnanya.”

“Ya,” ucapku.

“Sini, Mas, yang ini juga cantik. Lihatlah!”

“Ya, cantik, Anis.”

Kau tak kunjung diam. Terus bergerak, berteriak, dan terkagum-kagum. Semua lukisan kaunilai indah, apik, dan artistik. “Ya,” begitulah jawabku saat kaunyatakan sesuatu.

Sudah satu jam kita berjalan. Semua gambar di kanvas rampung kita amati.

“Mas, Mbak, gedung seni akan tutup. Sila keluar lewat pintu sana!” ucap dia yang tak kukenal. Mungkin penyelenggara pameran.

“Ya, Mbak,” jawabmu, Anis. “Yuk, Mas, kita pergi. Pameran sudah selesai.”

“Ya, Anis.”

Kita keluar dari kampus kesenian. Usai itu, kauajak aku berkeliling kembali. Entah ke mana. Ke mana pun. Asal kita tetap jalan bersama.

Malam pun tiba. Pagi hingga sore kita lalui dengan ketidakjelasan arah. Di sebuah kedai, kita duduk berdua, berhadap-hadapan.

“Mas, engkau pesan apa?”

“Teh hangat, Anis.”

“Oke.”

Engkau beranjak dari tempat duduk dan mendekati peracik minuman. Hanya sebentar engkau bercakap, lalu kembali duduk di kursi di depanku.

“Biar kutebak, pasti engkau memesan wedang ronde bukan?”

“Ha-ha-ha, iya, Mas.”

“Ya, selama di sini, hanya minuman itu yang kaupesan, Anis. Tak pernah berubah.”

Engkau melepas tas punggungmu, lalu menaruhnya di samping kanan. Kaubuka tas merah itu, kauambil sebuah buku dan bolpoin, lalu kautaruh di atas meja.

“Silakan, Mas, Mbak,” ucap Bang Maman, pemilik kedai, sembari menyuguh minuman ke atas meja.

“Ya, Bang, terima kasih,” balasmu, Anis. “Ini milikmu, Mas.”

“Iya, Anis,” ucapku sembari mengamati Bang Maman yang beranjak pergi menuju dapur kedai.

Engkau menggeser buku dan bolpoin ke samping kirimu. Lalu kauangkat lepek dan semangkuk wedang ronde ke hadapanmu.

Kaubaui aroma wedang ronde. Kauambil sesendok, kautiup, lalu kauseruput. Begitu yang kaulakukan dan kauulang hingga tak ada yang tersisa di dalam mangkuk. Aku mengamatimu sembari menyeruput teh hangat.

“Sudah habis?”

“Ya, Mas. Sudah habis.”

“Tak tambah semangkuk lagi?”

“Tidak, Mas. Aku khawatir gemuk karena banyak makan.”

“Ha-ha-ha, memang kenapa kalau engkau gemuk?”

“Penampilanku tentu jadi tak elok lagi, Mas.”

“Terserah kamu, Anis. Menurutku sama saja.”

“Terserah kamu, Mas,” ucapmu cemberut dan aku tertawa menyaksikanmu.

Engkau terdiam. Mengambil ancang-ancang untuk berbicara.

“Lelaki itu ada dua tipe, Mas. Yang satu melihat bagian luar, dan satu lagi melihat bagian dalam.”

“Bagian luar? Dalam? Aku tak paham, Anis.”

“Hih!” jawabmu. “Bagian luar itu macam penampilan, Mas. Bagian dalam itu macam sifat, tingkah-laku, dan kepribadian,” ucapmu kembali.

“Oh, begitu. Ya, ya, ya. Aku paham, Anis,” jawabku. Tertawa. “Dan menurutmu, aku tipe yang mana, Anis?”

“Pikirkan sendiri, Mas,” jawabmu cemberut.

“Ha-ha-ha. Baiklah.”

Engkau diam, lalu kembali pada buku dan mulai menulis. Aku mengamatimu. Kuangkat gelas kecil di hadapanku. Kuteguk segelas teh yang sudah tak hangat lagi hingga habis. Lalu kuletakkan di samping kiri.

“Menulis puisi, Anis?”

“Ya, Mas,” jawabmu tanpa memperhatikanku.

“Mungkin engkau sedang sibuk di alam pikir, Anis,” batinku.

Kulepas pandangan ke ruang kedai. Di dapur, kulihat Bang Maman sedang menuang kopi ke cangkir. Di meja tengah, seorang lelaki mengunyah nasi goreng yang baru dihidangkan. Pelanggan lain berdatangan, bercakap singkat dengan Bang Maman, lalu memilih meja dan duduk.

Asap kecil mengepul di atas teh panas, di meja ketiga dari samping kiriku. Bang Maman kembali beranjak dari dapur. Ia angkat nampan dengan pelan. Lalu mengantar secangkir kopi menuju meja depan.

“Puisiku sudah jadi, Mas.”

“Lalu?”

“Kau tak ingin melihat? Ya, sudah.”

“Ya, ya, ya. Aku ingin melihat, Anis.”

Kuambil buku itu dari tanganmu. Lalu kubaca perlahan sehalaman puisi yang usai kaugarap.

“Bagaimana, Mas?” ucapmu tersenyum.

“Jelek.”

“Hih! Kamu menjengkelkan sekali, Mas. Setidaknya berbohonglah agar aku senang.”

“Ya, Anis. Aku berbohong.”

“Hih! Menjengkelkan.”

Aku tertawa saat melihat engkau cemberut.

“Anis. Puisimu indah. Benar-benar indah. Sungguh.”

“Bukankah barusan engkau bilang jelek, Mas?”

“Aku menilai jelek karena melihat puisimu dari isi, bukan bungkus.”

“Isi? Bungkus? Aku tak paham, Mas.”

Aku tersenyum.

“Isi berarti pesan-pesan dalam puisi, sedangkan bungkus berarti kata-kata dalam puisi.”

Engkau terdiam. Membaca kembali puisi yang kautulis.

Kini engkau tersenyum kecil.

“Ya, Mas. Aku tahu maksudmu. Puisiku hanyalah seonggok kata-kata indah tanpa makna, tanpa pesan,” engkau melanjutkan,“dan, berarti tadi siang engkau berbohong bukan? Saat melihat lukisan-lukisan di gedung kesenian.”

Aku tertawa, Anis.

“Lukisan-lukisan itu mirip puisiku. Hanya berisi keindahan.”

“Ya, begitulah,” ucapku tersenyum.

“Lantas, keindahan macam apa yang kauharap, Mas?”

“Apalah, selama keindahan itu memberi kebaikan. Setidaknya seni bukan sekadar seni.”

“Dan, indah bukan sekadar indah. Begitukah?”

“Ya.”

Engkau kembali terdiam. Mengangan-angan, nampak sedang berpikir.

“Terkadang aku bingung, Mas. Indah menurutku belum tentu indah menurut yang lain. Dan, keindahan menurut orang lain belum tentu indah menurutku.”

“Ya. Tak masalah, Anis.”

“Hih!”

“Ha-ha-ha.”

“Begini, Mas. Indah merupakan subjektivitas. Dan, satu hal yang mengganggu pikiranku, apakah ada keindahan yang bernilai objektif sehingga siapa pun menganggap indah?”

“Maksudmu. Indah menurutku, juga indah menurutmu dan semua orang? Begitukah?”

“Ya, Mas. Tak usah kauulang-ulang ucapanku,” ucapmu cemberut.

“Ha-ha-ha. Aku memastikan, Anis, bahwa persepsi kita sama.”

“Hih!” ucapmu sembari memaling wajah dariku.

“Ya, ya, ya,” ucapku. “Anis, pernahkah kaulihat gunung?”

“Ya.”

“Pelangi, awan, langit, sawah. Kau juga pernah melihat bukan?”

“Ya, Mas.”

“Semua itu indah. Engkau juga menganggap demikian bukan?”

Engkau mengangguk.

“Dan, aku yakin, semua orang juga menganggap itu indah, Anis.”

Engkau mengangguk-angguk pelan dan tersenyum.

“Ya, Mas. Indah. Gunung, pelangi, sawah adalah keindahan objektif.”

“Ya, alam adalah keindahan objektif.”

“Mengapa demikian, Mas?”

“Karena semua itu diciptakan oleh pemilik objektivitas, Anis. Tuhan.”

Engkau tersenyum kecil.

“Ya, Mas.”

Engkau melepas pandangan ke ruang kedai. Engkau menoleh ke samping kanan, mengamati Bang Maman, pengunjung, langit-langit dan ke luar kedai.

“Mas, kau belum lengkap dalam menyebutkan keindahan objektif itu. Lihatlah,” ucapmu sembari menunjuk langit malam. “Bulan, bintang. Mereka juga indah, Mas.”

“Ya, Anis,” ucapku sembari tersenyum.

Di langit, kulihat rembulan memancar cahaya putih. Bintang-bintang mengedipkan sinar. Dan, awan tipis melayang-layang.

“Indah, Mas.”

“Ya.”

“Mas, tahukah engkau batas jagat raya ini?”

“Ya. Di pikiran kita, Anis. Di situlah Tuhan menaruh batas jagat raya,” ucapku. “Kita tak mampu mengetahui batas itu karena itu wujud tak terbatas. Adapun kita wujud yang terbatas. Dan keterbatasan tak akan mampu menggapai ketakterbatasan.”

“Sudahlah, Mas, diam! Jangan ceramah terus,” ucapmu tersenyum sembari memandang langit.

* Oleh Nicko Fernando, pegiat Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS) dan Kedai ABG