Candrajiwa Indonesia  Sebagai Dasar Suatu Psikoterapi[i]

Candrajiwa Indonesia

Oleh Abdul Haris Fitrianto[ii]

Mukadimmah

[ulasan buku] Mimbar-mimbar akademik Fakultas Psikologi di seluruh Indonesia didominasi oleh ilmu-ilmu yang ‘diimpor’ dari Barat seperti mazhab (aliran besar) Psikoanalisis, Behavorisme, Humanisme, Transpersonal, Integral, bahkan Neuroscience. Meski bermanfaat, kenyataan itu menimbulkan berbagai pertanyaan pada segenap masyarakat psikologi di Indonesia: Apakah pengetahuan tentang kejiwaan manusia hanya berasal dari Barat? Apakah tidak ada pengetahuan kejiwaan yang berakar dari pengetahuan lokal (indigenous) nusantara? Misalpun ada, seperti apakah epistemologi pengetahuan tersebut? Adakah (sampai dimanakah) upaya-upaya ilmiah-akademis para masyarakat psikologi di Indonesia dalam mengupayakan pengetahuan indigenous tersebut agar sejajar dengan -misalnya- Psikoanalisis Freud, Behaviorisme Watson, maupun Humanisme Maslow? Atau, sebagaimana retorika pesimistik yang sempat terbersit di benak Prof. Darmanto Djatman “mungkinkah upaya untuk mengangkat ilmu jiwa lokal adalah upaya yang sia-sia belaka?”

Prof. Darmanto Djatman dalam bukunya Psikologi Jawa[1] setidaknya menyebut tiga filsuf Jawa yang memiliki concern terhadap kawruh jiwa, mereka adalah R.M.P Sosrokartono[2], Ki Ageng Soerjomentaram[3], dan R. Soenarto Mertowardojo[4]. Menurut pembacaan penulis, buah pemikiran mereka tentang kejiwaan sangatlah mendasar dengan potensi aksiologis yang luas. Namun sampai hari ini, kualitas dan kuantitas penelitian ilmiah untuk menggali dan mengembangkan pemikiran ketiga local genius tersebut masih jauh tertinggal dibanding ilmu psikologi yang ‘diimpor’ dari Barat.

Artikel ini adalah sebuah upaya sederhana di tengah sepinya upaya-upaya melakukan konservasi dan inovasi pemikiran para local genius di bidang pengetahuan kejiwaan. Terutama, artikel ini mengupas secara singkat pemikiran R. Soenarto Mertowardojo yang didisertasikan oleh Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso[5]. Artikel ini tidak bertujuan untuk menyajikan konstruk Candrajiwa Indonesia secara komprehensif, namun tujuan penulisan artikel ini antara lain adalah 1) ikut mengembangkan wawasan tentang ilmu psikologi yang berasal dari khasanah kebudayaan Indonesia, 2) turut memotivasi para sidang pembaca untuk ikut nguri-uri “buah” dari cipta-rasa-karsa pada filsuf di Indonesia, dan 3) menumbuhkan pemahaman “Candrajiwa Indonesia” para sidang pembaca terutama pada a) sejarah Candrajiwa, b) struktur Candrajiwa, c) Perkembangan Candrajiwa, dan d) dinamika Candrajiwa dan e) Candrajiwa dan puasa.

Sejarah Candrajiwa

Konstruksi Candrajiwa berbeda dengan psikoanalisis yang lahir dari praktik terapi yang dilakukan Freud selama lebih dari dua puluh tahun, atau psikologi behavioristik yang didasarkan pada eksperimen-eksperimen ada hewan, maupun psikologi humanistik yang merupakan ekstraksi dari filsafat eksistensial a la barat. Teori Candrajiwa dikonstruk dari ajaran-ajaran R.Soenarto yang bersifat intuitif. Berikut kutipan dari Hardjoprakoso[6] yang menggambarkan sejarah ilmu yang menjadi fokus disertasinya:

“Peristiwa tersebut dimulai tangga 14 Februari 1932 ketika R. Soenarto tiba-tiba mendengar suara dari dalam dirinya sendiri yang dalam, yang memberi jawaban terhadap apa yang dicari. Jawaban atas pertanyaan “apakah Yang Nyata itu?” Dan “apa yang dinamakan Ilmu Sejati itu?” Suara itu tidak didengarnya lewat indera pendengaran, dan dalam kesadaran yang telah berubah itu diilhamkan apakah Jalan yang sampai kepada Yang Nyata itu. R.Soenarto bertanya dalam hati siapakah gerangan yang bersabda itu, dan segeram menerima ilham lain…”

Soenarto, tidak sendirian mengembangkan ilmu yang diilhamkan padanya. Dalam ilhamnya, R. Soenarto diberi petunjuk bahwa ia akan dibantu oleh R.T. Hardjoprakoso dan R. Sumodihardjo. Mereka bertiga “dipertemukan” secara “tidak sengaja”. Ternyata dua orang tersebut jua memiliki kegelisahan yang sama dengn R.Soenarto.

Struktur Candrajiwa

Struktur Candrajiwa R. Soenarto, terdiri dari tiga dimensi yaitu dimensi immateriil (badan ruhani), dimensi psike (badan halus), dan dimensi materiil (badan kasar). Dimensi immateriil adalah dimensi terdalam dan merupakan pusat dari struktur kepribadian Candrajiwa. Ia adalah alam sejati. Dimensi ini merupakan tempat asal sekaligus tujuan bagi perkembangan kepribadian seseorang. Dalam alam sejati (dimensi immateriil) terdapat tiga segi yang bersifat tunggal (tri tunggal/ tri purusa) yaitu: Suksma kawekas, Suksma sejati, dan Roh suci. Ketiganya merupakan pusat immaterial dalam tiap manusia yang disebut Tri Purusa. Segi pertama yaitu suksma kawekas (hidup yang diam dan statis). Dari situ terjadilah segi dua: Suksma Sejati, yaitu hidup yang bergerak dan dinamis, yang dapat merealisasikan omnipotensi Suksma Kawekas. Segi ketiga yaitu Roh Suci sebagai percikan/bunga api dari Suksma Sejati. Roh Suci ini adalah jiwa manusia. Suksma sejati digambarkan sebagai utusan abadi Suksma Kawekas atau sebagai sang putera terhadap ayahnya. Terhadap Roh Suci, Suksma Kawekas merupakan guru sejati.

Dimensi immateriil tentu bersifat immateriil, selain itu kesadaran dimensi immateriil bersifat kolektif, dan juga ditandai oleh tiadanya keinginan. Jika dilihat dari perkembangan fisik, dimensi immateriil -idealnya- mendominasi kesadaran seseorang ketika ia telah memasuki usia dewasa.

Dimensi Biologis, adalah dimensi terluar dalam struktur Candrajiwa. Dimensi biologis terdiri dari badan materiil dengan segala sistem di dalamnya. Dalam dimensi ini terdapat proses-proses asadar kolektif seperti insting-insting yang berfungsi otonom. Dimensi ini juga ditandai dengan sifat yang “penuh keinginan”.

Dimensi terakhir adalah dimensi psike atau badan halus. Dimensi ini terletak di antara dimensi materiil dan immateriil. Dalam dimensi ini terdapat pengaruh dari dimensi materiil dan immateriil. Pengaruh dari dimensi materiil adalah adanya nafsu. Hardjoprakoso[7] mencatat setidaknya ada empat macam nafsu: amarah kemauan, keinginan, sentripetal (nimum, makan, tidur, syahwat, loba, tamak, iri, aniaya, fitnah, dll) dan sentrifugal (sosial, suprasosial). Nafsu-nafsu tersebut adalah manifestasi dunia material dalam dimensi psike. Pengaruh dimensi immateriil adalah mewujudnya tri purusa dalam logos/intelektualitas (cipta-rasa-karsa) dan kedaulatan. Kemampuan seseorang untuk berfikir (cipta), menilai (rasa), dan berusaha (karsa) berasal dari tri purusa. Disamping itu, refleksi lain dari tri purusa dalam dimensi psike adalah ‘kedaulatan’. Kedaulatan inilah yang berfungsi untuk mengendalikan nafsu-nafsu pengaruh dari dimensi materiil.

Fungsi ‘kedaulatan’ atas diri agar dapat mengandalikan nafsu-nafsu pada gilirannya melahirkan kesadaran individual tentang adanya “aku”. “Aku” memiliki corak kesadaran yang personal, maka ia cenderung egois karena orientasi kesarannya adalah “aku-oriented” (terhadap dirinya sendiri). Konsep “aku” disini mirip dengan konsep “ego” Freudian maupun Jungian, namun ia berasal dari konstruk yang berbeda. “Aku” dalaam Candrajiwa adalah wasiat dari tri purusa. Ia berada di badan halus dan dikepung oleh pengaruh-pengaruh saling kontradiktif dari dua arah (dimensi materiil versus dimensi immateriil). Kontradiksi-kontradiksi tersebut antara lain: materiil vs immateriil, asadar kolektif vs sadar kolektif, dan penuh keinginan vs tanpa keinginan. “Aku” berfungsi untuk mengelola kontradiksi-kontradiksi tersebut.

Perkembangan Candrajiwa

Tujuan perkembangan Candrajiwa adalah eksistensi immateriil. Sebagaimana penulis jelaskan di awal, dimensi immateriil adalah asal sekaligus tujuan perkembangan kepribadian. Dimensi immateriil terpendam dalam badan badan jasmani.

Ketika seorang bayi lahir, ia secara otomatis dikuasai oleh dimensi material yang identik dengan asadar kolektif. Pada masa kanak-kanak belum ada kesadaran akan dimensi immateriil. Fase perkembangan ini juga didominasi oleh dimensi biologis yang lebih mengutamakan pemenuhan keinginan. Pada fase ini, anak mulai menyadari adanya “aku” sebagai suatu eksistensi yang berbeda dan terlepas dari segala sesuatu yang bukan “aku”. Namun, “aku” ketika fase perkembangan masih dalam tahap masa kanak-kanak, ia sangat dipengaruhi oleh dimensi material.

Fase berikutnya adalah fase masa muda. Pada fase ini, pengaruh cipta-rasa-karsa mulai menguat di dimensi psike. Fungsi pikiran, perasaan, dan tekad ikut mempengaruhi corak kesadaran “aku”. Pengaruh dari tri purusa saling berhadapan dan kontradiksi terhadap pengaruh nafsu-nafu dari dimensi material. Jika dorongan/pengaruh yang berseberangan tersebut sama-sama kuat, maka “aku” merasakan tarikan-tarikan kontradiktif dalam dirinya.

Fase tertinggi adalah eksistensi immateriil. Jika pada masa muda, “aku” dapat mengelola kontradiksi materiil vs immateriil dan memenangkan kedaulatan cipta-rasa-karsa di atas nafsu-nafsu biologis, maka ia akan berkembang ke fase perkembangan tertinggi: eksistensi immateriil. Eksistensi tersebut adalah eksistensi dimana individu berada dalam kesadaran kolektif dan telah terbebas dari keinginan-keinginan. Pada fase terakhir ini, nafsu-nafsu bukanlah hilang namun mereka disalurkan/dijinakkan dengan baik sehingga keberadaan nafsu menjadi dasar vitalitas untuk menjalankan hidup. Nafsu-nafsu sentrifugal (sosial dan suprasosial) lebih unggul daripada nafsu sentripetal. Pada fase ini pula, karakter kesadaran individu bersifat sadar kolektif. Artinya, kesadarannya bukanlah sekedar kesadaran individual yang egoistik, namun sebentuk kesadaran yang telah menyatukan segala sesuatu disekitarnya sebagai bagian dari dirinya.

Proses penting dalam perkembangan kepribadian adalah “pamudaran”. Proses pamudaran terjadi manakala perkembangan telah mencapai fase dewasa (dimensi immateriil). Pamudaran, dalam bahasa indonesia bisa diartikan sebagai pemudaran (pudar). Sehingga pamudaran dapat diartikan sebagai proses memudarnya pengaruh dan dominasi dimensi biologis di alam psike dan meningkatnya pengaruh tri purusa terhadap kesadaran aku. Maka, dalam peristiwa pemudaran terjadi transformasi menuju sifat-sifat tri purusa. Transformasi itu antara lain adalah dari ‘asadar kolektif’ menjadi ‘sadar kolektif’, dari ‘penuh keinginan’ menjadi ‘sepi keinginan’, dari ‘orientasi materiil’ menjadi ‘orientasi immateriil’. Dalam khasanah psikologi Barat, hanya terhadapat satu teori yang mirip dengan pamudaran yaitu teori “individuasi”[8] oleh Jung.

Individu dewasa yang sehat adalah individu yang telah tuntas mengalami proses pamudaran. Ia tidak lagi dikepung oleh keinginan-keinginannya sendiri, tidak berorientasi pada dirinya sendiri, memiliki keluasan sadar kolektif seiring dengan nafsu sosial serta nafsu suprasosial. Orientasi materi dan diri sendiri bukanlah yang utama karena kesadaran “aku” telah melebur dengan keseluruhan. Hardjoprakoso[9] mencontohkan, bilamana seseorang telah dekat dengan kesadaran kolektif, maka ia mendapatkan “bocoran” dari realitas keseluruhan tersebut lewat intuisi/ilham. Semakin dekat dengan kesadaran kolektif, intuisi semakin tajam /ilham semakin sering diterima.

Dinamika Candrajiwa, Psikoterapi, dan Puasa

Tidak semua manusia dapat mencapai dimensi immateriil. Sebagian manusia sampai tua stuck pada muda dengan berbagai kontradiksinya. Tidak sedikit pula walaupun secara fisik telah tua, namun dimensi psike-nya masih didominasi oleh sifat-sifat dimensi materiil.

Hardjoprakoso[10] menulis:

“ Pergeseran dari tekanan ke arah nafsu sentrifugal ini dicapai dengan melakukan cara hidup yang sederhana dan melakukan budidarma, suka menolong, dan cinta kepada sesama. Kalau perlu hidup sederhana itu dapat dilakukan dengan semacam tapabrata. Perubahan di dalam jiwa ini adalah mekanisme sublimasi.”

Berdasar nukilan tersebut, struktur kejiwaan dan proses perkembangan Candrajiwa yang telah wungkul dapat dilihat aplikasinya pada laku hidup sederhana. Hidup dengan penuh kesederhanaan menandakan orientasinya yang bukan immateriil. Konsep hidup sederhana juga harus dimaknai bahwa seseorang tidak dipusingkan dengan kerumitan egoistik karena kesadaran ego menjadi sederhana. Kesederhanaan itu memungkinkannya memuai pada segala sesuatu di luar diri sehingga ia merasa menjadi bagian dari segala sesuatu dan sesuatu tersebut menjadi bagian dari dirinya.

Pemahaman di atas menjadi dasar terapi. Menurut Hardjoprakoso[11], psikoterapi Candrajiwa pada pokoknya adalah bertujuan untuk menimbulkan kesediaan pasien untuk mengarahkan orientasi hidupnya kepada pusat immaterial di dalam dirinya. Berdasarkan pokok tersebut, maka dapat dipahami bahwa berbagai gejala ketidaksehatan mental harus dibongkar akarnya dari: 1) Apa yang menjadi orientasi hidup orang tersebut, 2) apakah terjadi kontradiksi-kontradiksi psikologis yang pelik dan tidak terselesaikan dalam dirinya, 3) bagaimana perkembangan kepribadiannya.

Candrajiwa dan Puasa

Laku candrajiwa secara substansial selaras dengan praktik puasa dalam Islam. Dapat kita ringkas bahwa laku utama seseorang berdasarkan Candrajiwa adalah ia berpusat pada dimensi immateriil (suksma kawekas), menjunjung tinggi eksistensi immateriil, mengembangkan kesadaran kolektif, menempatkan nafsu sosial dan suprasosial sebagai proiritas, dan di dalam dirinya sepi dari segala macam keinginan. Misal kita lakukan perbandingan vis a vis, maka puasa mengajarkan manusia untuk mengendalikan hawa nafsu. Hal itu selaras dengan laku Candrajiwa berupa hidup sederhana yang sepi dari keinginan-keinginan duniawi dan berorientasi pada dimensi immaterial. []

 

[i] Tulisan ini dipresentasikan oleh penulis dalam Diskusi Buku di Rumah Buku Simpul Semarang pada 7 Juni 2017. Tulisan juga pernah dimuat di laman http://blog.unnes.ac.id/haris/2017/06/08/bedah-disertasi-candrajiwa-indonesia-sebagai-dasar-suatu-psikhoterapi-karya-prof-dr-soemantri-hardjoprakoso-1956/ .

[ii] Penulis merupakan Dosen Psikologi Unnes, dan  pengelola Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS).

[1] Darmanto Djatman. (2002). Psikologi Jawa; Eksplisitisasi Kawruh Jiwa Ki Ageng Soerdjomentaram. Limpad: Semarang

[2] Raden Mas Pandji Sosrokartono, Kakak kandung Raden Ajeng Kartini.

[3] Ki Ageng Soerjomentaram adalah Pangeran Kraton Yogya, Purta dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

[4] Raden Soenarto Mertowardojo. Filsuf Jawa penulis buku “serat Sasangka Djati”, dan pendiri Paguyupan Ngesti Tunggal (Pangestu).

[5] Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso. (1956). Indonesisch Mensbeeld als basis enjer psycho – therapie. Doctoral Dissertation. Unpublished. Universiteit Leiden

[6] ibid

[7] ibid

[8] Individuation processes: proses transformasi menggeser kesadaran, dari kesadaran yang berorientasi pada ego, menuju kesadaran yang berorientasi pada self dalam ketaksadaran kolektif. Individu yang sehat adalah individu yang mampu menyadari isi ketaksadaran kolektifnya, sedangkan individu yang stuck pada ego, akan mudah mengalami gangguan mental.

[9] ibid

[10] ibid

[11] ibid