Daya Ungkap Terbaik

Daya Ungkap Terbaik, Edi Subkhan

Oleh Edi Subkhan

[opini] Dari hari Minggu hingga Kamis pekan ini saya agak jauh dari ribut-ribut dunia medsos. Hingga tak tahu bagaimana tiba-tiba pemerintah menyatakan pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan ternyata Ahok jadi dibui. Ya, saya sedang piknik mendampingi mahasiswa ke Jakarta dan Bandung. Agak lama rasanya saya tak ikut piknik bersama mahasiswa. Kira-kira 3 tahun lalu saya terakhir ikut jalan-jalan ke Bali.

Mendampingi mahasiswa piknik atau formalnya disebut Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini menarik. Karena di sinilah setidaknya saya bisa lihat sisi lain mahasiswa. Jika di kelas saya hanya tahu kemampuan mereka menulis paper, presentasi, dan diskusi. Maka di acara piknik ini saya bisa lihat mereka punya bakat yang bermacam-macam.

Misalnya, mahasiswa yang semula saya kira pendiam, eh ternyata malah ramai dan suaranya lumayan aduhai kala karaoke. Ya, rombongan bus yang saya dampingi ternyata ramai-ramai orangnya. Tak seperti di kelas yang bahkan ketika ditanya malah diam saja, di sini, di bus ini, baru mau jalan saja sudah minta diputarkan dangdut koplo. Saya nikmati saja keriuhan di bus ini seraya berpikir bahwa ya inilah sesungguhnya mahasiswa itu. Butuh refreshing, butuh hiburan, liburan.

Makanya saya hampir selalu khusnudzon kala mahasiswa tak masuk kelas. Bisa jadi ia sedang butuh refreshing di luar kelas. Begitu pula jika ada yang tidur di kelas. Bisa jadi ia capek, lapar, ngantuk, butuh istirahat, maka tidur adalah hak mereka. Tapi jangan tanya bagi yang ramai, kalau tak reda langsung saya tegur karena itu berarti tak belajar menghargai kawannya sendiri yang sedang presentasi.

Saya jadi teringat ketika kali pertama mengajar di kisaran tahun 2011-2012. Ada satu terminologi yang saya perkenalkan ke mahasiswa, yaitu: daya ungkap terbaik. Bahwa tiap mahasiswa punya daya ungkap pengetahuan terbaik yang berbeda-beda. Ada yang unggul mengungkapkan pengetahuannya secara tertulis, verbal, atau bahkan lewat seni, sastra, atau gerak. Oleh karena itu, waktu itu beberapa penilaian hasil belajar mahasiswa saya buat berbeda sesuai daya ungkap terbaik mahasiswa yang berbeda-beda.

Bagi yang merasa unggul dalam menulis silakan mengungkapkan kemampuan analisis, kritisisme, analisis, melalui tulisan. Boleh artikel, esai, resensi buku. Bagi yang merasa bisa sastra, boleh menulis cerpen, puisi, atau bahkan membuat film pendek. Bagi yang merasa bisa menggubah lagu, silakan mencipta lagu. Kritik pada cara tersebut adalah: mahasiswa cenderung memilih yang dianggap mudah saja, namun sejatinya mereka belum sadar/paham betul daya ungkap terbaik mereka.

Misal, sebagian besar memilih menulis cerpen dan puisi. Tapi ketika ditulis cerpennya amburadul tak jelas. Puisi yang ditulis juga demikian. Tak menggambarkan pesan yang dikaitkan dengan substansi mata kuliah yang dipelajari. Dengan kata lain, terdapat kecenderungan “menggampangkan”/”menyepelekan” tugas. Kritik lain adalah: bisa jadi mereka tidak akan mencoba mengasah kemampuan lain yang sejatinya dibutuhkan dalam meningkatkan kualifikasi diri. Misalnya kemampuan menulis.

Hal yang saya rasakan selama ini, bisa jadi tak lebih dari 15% mahasiswa yang sukarela berminat belajar menulis. Padahal mahasiswa di kampus disebut sebagai sivitas akademika, yang minimal suka ilmu pengetahuan, suka baca dan nulis. Namun, mahasiswa yang sudah telanjur jadi mahasiswa bagaimanapun adalah anak-anak manusia. Mereka adalah anak-anak kita yang sudah sepatutnya dimanusiakan. Melihat mereka di bus kompak berkaraoke bareng, saling mengingatkan ketika berombongan masuk lokasi kunjungan, menyadarkan saya bahwa bisa jadi pada hal yang mereka betul-betul mentok tak bisa di-upgrade lagi kemampuannya, ya kita harus cukup rela menerima perkembangan dalam hal sekecil apapun itu.

Selebihnya cukup mengarahkan agar mereka dapat mengoptimalkan daya ungkap terbaik mereka saja. Bagi yang selalu merasa pusing, kepala berkunang-kunang, dan perut mual-mual mau mutah jika melihat saya bawa buku tebal ke kelas, ya optimalkan saja potensi terbaiknya pada bidang tarik suara, seni, olahraga, dan sejenisnya. Karena memang kampus dan dosen selama ini sekadar menerima saja mereka, yang bisa jadi ketika memilih jurusan dan kampus tak betul-betul didahului kalkulasi matang. Melainkan sekadar agar tak segera dinikahkan dan diminta kerja cari duit jika tak kuliah.

Inilah satu problem akut dari sekian banyak problem pendidikan modern kita selama ini. Dan ini mesti jadi salah satu konsentrasi dalam pengkajian terhadap Ilmu Pendidikan. Agar praksis pendidikan kita tak selalu berada di bawah ketiak kebijakan administrasi yang mengabaikan teori-teori pendidikan, agar pembelajaran fokus pada siswa/mahasiswa, pada substansi, bukan pada printhilan-printhilan administratif belaka. Barangkali riset-riset “kecil” yang fokus pada suara-suara dan fenomena tersebut akan lebih berguna dibanding riset “besar” dalam skala makro yang tak bisa mendedah detil-detil problem praksis pendidikan kita.

Nah, soal pembubaran HTI dan Ahok dibui, sudah banyak yang bersuara. Belum perlu saya tulis di sini agar tidak makin memperkeruh dengan pengetahuan saya yang terbatas. Kawan-kawan lingkaran saya banyak yang pro dan kontra atas putusan tersebut. Tak enak rasanya nge-blok. Namun saya sendiri tentu sudah punya sikap, walau sementara, sebelum bertemu dengan argumentasi yang saya pikir paling tepat dan logis. Namun soal ini kapan-kapan saja saya tulis, karena sejak dulu gaul sama teman-teman HTI ya begitu-begitu saja argumentasinya.

Salam. [ ]

Edi Subkhan, penulis adalah Pengelola Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS) sekaligus Dosen Jurusan Teknologi Pendidikan, FIP, Unnes.