Pembelajaran Konstruktivistik, Mengapa Sering Disalahpahami?

kuliah posting

[Tips] Salah satu problem dari guru di tengah lahirnya paradigma konstruktivisme adalah hasrat untuk berceramah dan menceramahi siswa tetaplah besar. Padahal metode yang paling disarankan oleh konstruktivisme bukanlah ceramah. Melainkan mengaktifkan siswa dalam belajar (active learning). Dengan aktif belajar maka siswa mengkonstruksi (to construct) pengetahuan mereka. Dengan belajar secara aktif pengetahuan akan lebih jelas dipahami dan bertahan lama di ingatan (long term memory).

Namun sayang sebagian guru yang telanjur dididik menggunakan teori-teori belajar behavioristik dan juga cara pandang positivistik terhadap aktivitas belajar merasa belum mengajar jika belum berceramah panjang-lebar di depan kelas. Barangkali sebagai guru merasa belum kerja kalau belum ceramah menjelaskan materi di kelas. Siswa juga demikian, seringkali menganggap gurunya enak-enakan saja karena sekadar memberi tugas hingga dianggap belum mengajar karena belum menceramahi mereka.

Anggapan tersebut tak sepenuhnya salah. Tapi juga tidak sepenuhnya benar. Hal yang paling sulit dalam mengubah perilaku konon adalah mengubah cara dan pola pikir (mindset). Hingga memang agak sulit untuk melahirkan tradisi belajar di kelas yang betul-betul menggunakan pendekatan dan metode yang disarankan oleh paradigma konstruktivisme. Bisa jadi guru dan siswa belum tahu hakikat guru sebagai fasilitator, pembelajaran berpusat pada siswa, dan pembelajaran aktif.

Bisa jadi salah paham pada konsep-konsep tersebut dan berbuah pada salah di tataran praktiknya. Bisa juga karena memang merasa cara lama/konvensional tetap cara terbaik dalam mengajar para siswa. Namun jangan salah. Bukan berarti pembelajaran berparadigma konstruktivis selalu tepat digunakan.

Sejauh yang dapat kita telusuri, pembelajaran konstruktivistik yang aktif, kontektsual, berpusat pada siswa, dan guru sebagai fasilitator tepat untuk mengasah kemampuan sosial, kepekaan terhadap lingkungan sosial, kematangan mental (afektif), kognitif tingkat tinggi (analisis, daya kritis, evaluasi, kreativitas), inisiatif, kepemimpinan, keberanian, daya juang, keuletan, kepenasaranan/rasa ingin tahu, eksplorasi, daya jelajah, dan sejenisnya.

Pembelajaran konstruktivistik tidak cocok untuk membentuk kepatuhan, kedisiplinan, ketaatan pada sistem, dan ketertiban. Pembelajaran berparadigma behavioristiklah yang cocok.

Nah, dengan demikian yang harus dipahami adalah: jika guru hendak menerapkan pembelajaran berparadigma konstruktivistik di kelas, maka guru dan siswa harus paham bahwa yang dituju adalah mengasah beberapa kemampuan tersebut. Harus paham pula bahwa menurut konstruktivisme, cara belajar terbaik adalah otak harus aktif mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman (experience-based learning). Dengan demikian, caranya siswa harus dihadapkan pada beberapa kasus, masalah, juga diceburkan untuk mengalami peristiwa-peristiwa tertentu. Melalui pengalaman berhadapan dengan kasus, masalah, dan peristiwa-peristiwa itulah otak terlatih untuk tanggap dan kritis. Siswa juga terlatih untuk memiliki daya juang, daya adaptasi, komunikasi, keberanian, kepemimpinan, inisiatif, dan sebagainya.

Dengan demikian wajar jika dalam paradigma konstruktivistik guru banyak memberi tugas. Siswa banyak mengerjakan tugas. Banyak pula keluar kelas untuk mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman-pengalaman belajar kontekstual di luar kelas. Dalam banyak kasus ketika dihadapkan pada konsep tersebut, banyak siswa/mahasiswa mengeluh dan mengiba kok tugas terus yang diberikan dosen/guru. Hingga dosen/guru pun merasa tak enak hati dan akhirnya jatuh lagi dalam model pembelajaran yang menjadikannya dominan di kelas, bergaya memerintah, seringkali otoriter. Intinya: menjadi pusat pembelajaran di kelas.

Era guru yang merasa harus menceramahi siswa seharusnya sudah lewat. Sekarang sudah Abad 21 di mana teknologi internet sudah jadi bagian integratif dari pendidikan modern. Dengan kata lain, guru tak lagi satu-satunya sumber belajar di kelas, apalagi di luar kelas. Guru pun akan terengah-engah jika diminta mengejar perkembangan terkini dalam bidang keilmuan yang ia ampu di kelas di tengah tanggung jawab administratif yang luar biasa banyak. Kelas sudah seharusnya jadi ruang berbagi cerita dan pengetahuan yang diperoleh dan dipahami siswa dari apa yang ia baca dari buku-buku, laman website, tayangan YouTube, pengalaman di luar kelas, dan lainnya.

Jadi, guru memberi banyak tugas bukan berarti enak-enakan saja. Tugasnya juga pasti tidak asal comot dari bank soal karena soal di bank soal biasanya multiple choice saja (tak banyak yang berbentuk eksplorasi). Kerjanya guru adalah merancang pengalaman belajar agar siswa terlatif menelusuri informasi, pustaka, baik dari dunia maya mapun dunia sosial actual sehari-hari, terlatih berinisiatif, peka terhadap lingkungan sosial, berjiwa pemimpin, berani, komunikatif, kritis, kreatif. Selain itu adalah memberikan pendampingan dan menjawab pertanyaan dari siswa di kelas ketika mereka membawa cerita pengalaman, pemahaman, dan pengetahuan masing-masing.

Dalam banyak hal, sebagaimana orangtua yang dalam tahap usia kematangan tertentu dari anak-anaknya dituntut untuk memberikan kepercayaan, guru pun demikian. Jangan memanjakan anak dengan selalu menuntun mereka. Namun latihlah berjalan sendiri, berlari, dan meloncat lebih tinggi dari kita. Itulah kemandirian. Dan kemandirian adalah hal yang paling dituntut di dunia kerja sekarang ini selain kerjasama, keorganisasian, kepemimpinan, dan komunikasi. Guru juga mestinya percaya pada siswa/mahasiswa untuk belajar dan berkembang dalam mekanisme belajar kelompok yang aktif, demokratis, partisipatoris, dan bertanggung jawab. Jangan selalu dihinggapi rasa tidak percaya yang pada akhirnya berbuah hasrat ingin menceramahi dan mengontrol semua aktivitas belajar siswa.

Dalam suasana yang lebih memberikan otonomi pada siswa, ada rasa tanggung jawab yang bias diasah dan dilatih dalam diri mereka melalui pengalaman mereka mengerjakan tugas tertentu. Dalam suasana yang lebih otonom itu pula seringkali rasa nyaman dan bahagia muncul, dan itulah momen terbaik untuk belajar tanpa paksaan. Pun dalam mengerjakan tugas yang penuh tantangan, seringkali tekanan menuju deadline muncul, siswa akan belajar mengelola stress, rasa panik, juga kemarahan karena tak semua anggota kelompok serius kerja, dan pastinya mengelola waktu dan hati.

Di sinilah sejatinya dalam banyak aktivitas mengerjakan tugas siswa juga belajar banyak hal. Dan hal-hal itu tak semuanya masuk dalam rubrik penilaian guru/dosen karena memang tidak semuanya bisa dan perlu dinilai. Tak mungkin guru membuntuti semua siswa ketika terjun observasi ke lapangan. Tak mungkin juga mengikuti dinamika gesekan soal pembagian peran dalam kelompok. Pada hal-hal yang tak bisa dijangkau itulah kepercayaan dan husnudzon mesti diberikan. Secara adil pula siswa juga sudah sepatutnya menjaga kepercayaan dari gurunya dengan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebaik-baiknya. (red/es)