Patmi Pulang, Mas, Bukan Pergi

yu patmi baru

Dalam gemericik hujan malam itu, aku, engkau dan putri kita menundukkan kepala, mendengarkanku yang berpamit-pergi esok hari ke kota itu. Ke Jakarta.

Rintik hujan membentur genting, memercik butiran air yang mengempas ke tanah. Angin mengembus, membelokkan arah rintik hujan hingga membasahi dinding depan rumah. Angin masih mengembus, memasuki ruangan kita lewat pintu yang terbuka dan sela-sela dinding. Kulihat engkau dan putri kita menggigil, sedang kita masih berdiam.

“Dik.”

Njih, Mas,” balasku disertai angin dingin menerpa tubuh.

“Berjuanglah! Mas mengizinkanmu pergi. Utami dan Da’iman biarlah di sini, aku yang merawat mereka,” ucapmu sembari mengelus rambut Utami.

Njih, Mas. Kakak dan Adik menemaniku pergi ke Jakarta.”

Njih. Istirahatlah, Dik! Malam semakin malam, istirahatlah!”

Pagi pun tiba. Utami dan Da’iman nampak di depan pintu, menghadap jalan, mengamati orang-orang yang berpeluk. Jalan di depan rumah begitu ramai, suasana menggemuruh saat sopir bus memanasi mesin.

Dalam kamar, aku melipat pakaian sembari kuamati engkau yang tengah menata bawaanku. Setengah jam berlalu, kita rasa apa pun telah siap. Engkau mengecup keningku. Memelukku, Mas.

Utami dan Da’iman menatapku yang keluar dari bilik. Menungguku di depan pintu sembari mengulurkan kedua tangan yang hendak menyalamiku. Aku pun bergegas mendapatkan tangan kalian.

Kutekuk kedua kakiku hingga lutut menyentuh tanah. Utami, Dai’man, kubelai rambutmu, kuelus pipimu, kutepuk pundakmu, kutatap matamu lalu kukecup keningmu. Suasana pagi itu begitu mesra juga haru.

“Mbok Patmi, mari!” panggil Pak Sopir dari depan pintu bus sembari melambai kepadaku untuk segera bergabung dengan rombongan.

Segera kulepas genggamanmu, segera pula kuelus pundak dan pipimu sekali lagi.

Engkau mengantarku ke bus serta membawa bawaanku, Mas. Di depan pintu, kudapati tanganmu lalu kucium. Aku pergi, Mas. Ke Jakarta.

Bus mulai berjalan saat kutaruh bawaanku ke bawah tempat duduk. Lewat jendela kaca samping kanan, kusaksikan engkau, Utami dan Da’iman melambai, melepas-ikhlas aku yang sedang pergi.

Aku pun duduk, Mas. Menghela napas. Aku sengaja diam, agar dapat kudengar cerita dari kawan-kawan yang bercakap.

“Bulan Oktober 2016 itu, jelas-jelas kita sudah menang, bahkan Mahkamah Agung memenangkan gugatan kita, sedulur Kendeng semua,” ucap pemuda pertama.

“Ya, kok malah usai itu Ganjar Pranowo menerbitkan izin lingkungan baru,” imbuh pemuda kedua.

“Dasar lamis! Bajingan!” sergah pemuda ketiga.

“Ya, bukan hanya itu dosa Ganjar, Gubernur itu juga kena kasus korupsi E-KTP,” imbuh pemuda pertama.

Tukang ngapusi! Korupsi!” hardik pemuda ketiga.

Begitulah, Mas, pemuda desa saling bercerita. Cerita tentang pemimpin, negeri yang hijau dan gunung yang sedang dikeruk. Aku masih diam sembari memijat kedua kakiku.

“Kedua kakimu masih sakit, Mbak?” tanya perempuan pertama.

“Sudah sembuh, Mbak. Alhamdulillah. Njenengan pripun?” tanyaku, Mas.

“Saya masih sakit, semenjak jalan kaki ratusan kilometer niku. Jalan dari Rembang ke Semarang.”

“Lo, kok ndak di rumah saja? Istirahat.”

Mboten, saya ingin ke Jakarta juga. Menemani sedulur lain, membela anak-cucu, membela tanah-air.”

Njih mpun.”

Mas, aku jadi ingat perjuangan jalan kaki ke Semarang waktu itu. Dalam hujan serta terik sinar matahari kala siang kita menapaki jalan dari Rembang. Lalu mendirikan tenda walau sebentar dan berminggu-minggu memayungi diri di depan gubernuran. Kita sabar, Mas, menunggu jawaban Ganjar yang tanpa kunyana malah sudah menerbitkan izin baru.

Hatiku sungguh sesak, Mas, juga hati sedulur lain. Apakah gubernur itu tak pernah menangkap maksud baik kita ini? Wong cilik, yang hanya ingin merawat alam agar tetap menjadi alam.

“Alam yang rusak menandakan jiwa yang rusak pula,” ucap seorang kakek memecah lamunanku, Mas.

“Ya, Mbah,” jawab pemuda keempat.

“Bagaimana tidak, air menjadi kotor, lingkungan tercemar, dan badan pun sakit karenanya.”

“Ya, Mbah,” jawab pemuda keempat sembari menganggukkan kepala.

“Kalau badan sakit, mau salat susah, puasa susah, ibadah apa pun susah, ndak nyaman. Kalau mengingat Allah sudah ndak jalan, jiwa pun lara.”

“Ya, Mbah.”

Kakek itu bercerita, Mas. Tentang alam, tentang jiwa. Aku tak ingat lagi perkataan kakek usai itu, aku mengantuk, lalu tertidur.

Aku bangun, Mas. Tanpa kusadari aku telah sampai di kota tujuan. Aku turun dari bus, mengikuti sedulur lain yang berjalan menuju gedung YLBHI di Jalan Diponegoro, Jakarta. Malam itu kita beristirahat, Mas. Menyiapkan diri untuk mengecor kaki besok siang, di seberang Istana Negara.

Siang itu pukul satu, Mas. Hari senin tepat 13 Maret 2017 aku dengan sembilan dulur lain memulai aksi.

Hari pertama berlalu, Mas. Pak Jokowi belum menemui kami. Kulanjut hingga hari kedua, ketiga, keempat hingga kedelapan. Makin hari kian bertambah pula orang-orang yang mengecor kaki untuk menemani kami.

Malam-malam kulalui, Mas, bersama sedulur lain dengan kaki terikat semen. Kita bercerita, sesekali pula kudengar Mas Mike Marjinal menyenandungkan lagu penyulut keramaian.

Fajar tiba, Mas. 21 Maret 2017 adalah hari terakhirku menemani sedulur Kendeng dalam berjuang. Pukul tiga pagi kurang lima menit, Mas, aku berpulang.

Aku meninggalkan dunia ini, meninggalkan alam yang telah kuperjuangkan, meninggalkan anak-cucu, meninggalkan tanah-air, serta meninggalkanmu, Mas.

Tak usah kaucari-cari salah apa dan siapa penyebab ketiadaanku ini, Mas. Ikhlaskan aku. Jangan kausalahkan dokter itu, selama ini aku baik-baik saja, Mas, aku tak mengeluh sedikit pun. Jangan pula kaudengar kata para pemecah belah persaudaraan itu, Mas, bahwa sedulur kita ini bertindak tak adil kepada kaum wanita. Kan engkau tahu, aku pergi berpamitan padamu, meminta restu darimu.

Manakala Pak Jokowi bertanya keinginanku, jawablah! Mas, kuminta agar dia selesaikan masalah Kendeng.

Oleh Nicko Fernando, mahasiswa FMIPA UNNES