Ayo, Mudik Sambil Menanam Pohon

Ayo Mudik dan Menanam Pohon Mongabay

Setiap tahun, masyarakat yang menetap di kota besar mudik lebaran ke kampung atau desanya. Banyak ditemukan kisah, para pemudik menemukan perubahan atas kampungnya. Misalnya, hutan yang rusak akibat dirambah atau dijadikan perkebunan sawit dan pertambangan. Atau, sawah dan rawa yang dijadikan lokasi perkantoran, rumah toko, dan lainnya.

“Banyak kenangan indah akan kehijauan dan kesejukan kampung menjadi hilang. Biasanya kita yang mudik hanya memberikan saran keluarga agar hutan, rawa, sawah, untuk tetap dijaga. Jangan dirambah dan dijual. Tapi kita hanya diam dan kesal, jika menemukan fakta semua itu akibat konflik lahan dengan perusahaan atau kemiskinan keluarga kita di kampung,” kata Jemi Delvian, vokalis Hutan Tropis Band, kelompok musik peduli lingkungan hidup di Palembang, Sabtu (11/07/2015).

Dari sikap tersebut, kata Jemi, alangkah baiknya, setiap pemudik melakukan penanaman pohon di kampungnya. Baik di lahan perkebunan milik keluarganya atau juga di hutan yang sudah rusak. “Pohon apa saja yang ditanam. Yang bibitnya mudah didapatkan. Sehingga setiap kali mudik, kita dapat melihat apakah pohon yang kita tanam tumbuh dengan baik sambil menanam pohon yang baru,” katanya.

Aksi ini, kata Jemi, selain membangun silahturahmi antara mereka yang merantau atau menetap di perkotaan dengan keluarganya di desa, juga merupakan amal dalam memaknai Idul Fitri yang kita pahami sebagai kelahiran kembali, “Yang lebih penting, dapat mengurangi kerusakan hutan atau lingkungan di kampung,” katanya.

Hadi Jatmiko, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel, berpendapat aksi mudik sambil menanam pohon ini, merupakan terobosan baru dalam menata lingkungan hidup di Indonesia.

“Bila sebelumnya para pemudik hanya terpikirkan soal kuliner khas di kampungnya, selain bermaafan dengan orangtua dan keluarga, kini mereka memiliki tugas baru yakni memperbaiki lingkungan di kampungnya dengan menanam pohon,” katanya.

“Bayangkan, akan ada jutaan pohon yang ditanam di kampung atau desa, jika setiap pemudik menanam satu pohon. Ini gerakan luar biasa,” kata Hadi.
Lingkungan yang terjaga tentunya akan bermanfaat untuk kehidupan kita semua. Foto: Rhett Butler
Kemenangan bersama bumi

“Aksi menanam pohon saat mudik, dapat dikatakan sebagai perwujudan kemenangan bersama alam, bumi. Kita merayakan kemenangan bersama alam yang selama ini saling menjaga dengan kita sebagai manusia, seperti apa yang diperintahkan Tuhan,” kata Husni Thamrin, ketua Yayasan Malaya (Alam Melayu Sriwijaya), sebuah organisasi peduli budaya dan lingkungan hidup.

Dijelaskan Husni, kandidat doktoral di Universitas Indonesia, di masyarakat Indonesia, dikenal juga tradisi sambut tuah tumbuh. Yakni sebuah tradisi yang memposisikan manusia sebagai penyeimbang bumi dengan melakukan penanaman dan penjagaan tanaman yang dimengerti sebagai “tumbuh”.

“Kita selalu mendapatkan banyak tradisi, misalnya masyarakat melakukan doa bersama sebelum melakukan penanaman pohon atau padi. Doa ini tentunya ditujukan kepada Tuhan, agar apa yang kita tanam bermanfaat bagi sesama manusia dan alam,” kata Husni.

Jadi, aksi menanam pohon selama kita mudik dapat dikatakan sebagai sebuah tradisi menyambut tuah tumbuh, “Sehingga apa yang kita tanam dapat bermanfaat bagi kita, sesama manusia di dunia, juga alam itu sendiri,” katanya.

Menjaga tradisi dan budaya

Aksi menanam pohon yang akan dilakukan para pemudik, kata arkeolog Nurhadi Rangkuti, bukan sebatas sebagai gerakan ekologi. “Penjagaan atas lingkungan, juga sebagai upaya menjaga tradisi dan budaya yang tumbuh di sekitarnya.”

Kata Nurhadi, hampir semua produk kebudayaan yang tumbuh di desa atau dusun di Indonesia, lahir karena interaksi manusia dengan alam. “Banyak tradisi atau produk budaya menjadi hilang, ketika lingkungannya menjadi rusak. Jadi menjaga lingkungan hidup, sama saja dengan menjaga tradisi dan budaya pada suatu wilayah. Ini gerakan penting,” paparnya. [Taufik Wijaya]

Sumber: Mongabay