Kronologi Aksi 17117

1

Sebut saja aksi 17117 menirukan gaya yang lagi marak. Hari ke 30 aksi warga Kendeng di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah tanggal 17 Januari 2017 adalah aksi yang penting, karena tanggal itu adalah batas akhir bagi Gubernur Ganjar Pranowo untuk mencabut Ijin Lingkungan PT Semen Indonesia di Rembang sebagaimana diamanatkan oleh Putusan Mahkamah Agung. Berbagai elemen seperti Gerakan Mahasiswa Pembela Kendeng, Gerakan Buruh Peduli Kendeng, petani dan penggiat agraria dari berbagai daerah, solidaritas punk Semarang, budayawan, seniman dan aktivis dari berbagai profinsi dan kota ikut mendukung aksi tersebut.

Hari itu jalan Pahlawan depan Kantor Gubernur Jateng menjadi sangat sibuk karena ternyata aksi warga Kendeng bukanlah satu-satunya aksi yang menyasar Kantor Gubernur. Salah satunya dari masa yang membandrol dirinya sebagai Asosiasi Petani Tembakau Indonesia yang menjanjikan akan mengerahkan 3000 massa. Tak terbersit pikiran negatif warga Kendeng akan aksi tersebut.

Kekawatiran akan adanya pihak yang bermain mau tak mau muncul ketika pagi itu ada orang datang membawa peti mati untuk Gunretno dan beberapa poster provokatif di sebelah utara aksi warga Kendeng. Ketika ditanyai siapa yang mengirim benda-benda tersebut, orang tersebut mengatakan bahwa dia hanya pengantar dan kemudian kabur bersama barang bawaannya.

Rombongan massa dari APTI datang bergelombang dengan bus menyusul aksi warga Kendeng yang lebih dahulu datang dengan truk. Sebelumnya, di sisi utara aksi warga Kendeng juga ada aksi dari kelompok nelayan. Entah bagaimana aksi nelayan tersebut tiba-tiba menghilang dan berganti atau larut dengan aksi APTI yang lebih besar. Berbeda dengan aksi warga Kendeng yang melantunkan sholawat, kidung, tembang dan puisi di seka-sela orasinya, aksi APTI terasa lebih meriah karena orasi, yel-yel, musik dan tetabuhan gegap gempita yang didukung dengan sound system kapasitas besar. Korlap massa APTI tampaknya cukup berpengalaman untuk membuat massanya menjadi massa yang bersemangat. Hanya perlu sedikit pemantik untuk membuat massa menjadi agresif.

Warga Kendeng mulai mencium sesuatu yang ganjil dan menkawatirkan karena menengarai beberapa wajah yang selama ini mendukung pabrik semen ada diantara kerumunan massa. Beberapa di antara mereka bahkan tidak cukup cerdas dengan mengenakan topi PT Semen Indonesia. Beberapa lagi tampak mengolesi pipi di bawah mata mereka dengan odol -biasa digunakan sebaga penawar gas air mata- plus helm di kepala. Mereka tampak seperti orang yang siap untuk sebuah aksi yang rusuh.

Meskipun suara dua aksi yang saling besebelahan itu saling menenggelamkan, aksi ini berlangsung tertib. Mungkin karena itu polisi yang berjaga hanya menempatkan beberapa personil di antara dua massa tersebut. Tapi situasi berubah seketika saat massa petani tembakau yang semula menghadap ke barat ke arah kantor Gubernur kemudian menghadap ke selatan, ke arah massa warga Kendeng. Mereka hendak bergeser ke selatan untuk menempati tempat yang ditempati oleh aksi warga Kendeng. Melihat gelagat tersebut mahasiswa mengambil inisiatif membuat pagar betis berlapis untuk melindungi ibu-ibu. Komunitas punk Semarang bahkan menempatkan diri di barisan paling depan. Suasana makin memanas karena massa petani tembakau mulai merangsek ke depan. Meskipun agak terlambat, polisi lantas memperkuat pagar betis dengan sejumlah personil tambahan untuk memisahkan dua massa yang kini sudah saling berhadapan. Lemparan botol air dan tongkat mulai melayang dari kubu massa petani tembakau. Para pemimpin aksi warga Kendeng dan mahasiswa mengambil langkah yang sangat bijaksana, mencegah massanya untuk membalas.

Dalam situasi yang memanas itu tiba- tiba ibu-ibu kendeng mengambil inisiatif untuk maju ke depan. Mahasiswa ditarik mundur ke belakang, dan ibu-ibu duduk berbaris dengan payungnya tepat di antara dua massa untuk mencegah benturan. Hanya sebaris anak punk saja yang tidak mau beringsut, tetap berdiri di depan memasang badan menjaga ibu-ibu. Di antara para punk dan petani yang duduk di aspal, aku ngguguk menangis menyaksikan kelembutan sikap sekaligus kekerasan hati ibu-ibu. Terkutuklah mereka yang tega menyerang barisan ibu- ibu ini.

Rupanya ada yang tidak peduli dengan semua itu. Massa petani tembakau kembali merangsek, memukul mundur pagar betis polisi dan mendesak ibu-ibu. Beberapa ibu terinjak oleh polisi saat mereka kewalahan didorong oleh massa petani tembakau. Warga Kendeng yang lain dibantu anak-anak punk yang ada di depan memaksa ibu-ibu mundur. Dengan tabuhan dan yel-yel gegap gempita massa petani tembakau terus mendesak dikomando oleh seseorang yang ditengarai sebagai si baju orange. Botol dan tongkat makin sering melayang. Para pemimpin massa aksi Kendeng justru memerintahkan anggotanya untuk tidak membalas, duduk dan bersholawat. Menyerahkan masalah keamanan pada polisi yang masih berusaha menahan tekanan massa petani tembakau.

Pada situasi yang kian memanas tersebut, perwakilan warga yang memasuki Kantor Gubernur untuk meminta salinan putusan Gubernur tiba-tiba keluar. Gunretno segera membacakan putusan Gubernur. Karena tujuan untuk mendapatkan putusan gubernur telah tercapai, aksi kemudian dibubarkan. Massa Buruh Peduli Kendeng yang sedianya bakal bergabung pada jam 1 dengan iumlah massa yang lebih besar diurungkan kedatangannya. Dua puluh truk warga pati yang telah berangkat pun diminta membatalkan niatnya. Semua untuk menghindari benturan dan menjaga perjuangan lewat jalan damai yang telah dijalankan oleh warga Kendeng selama ini.

Pada saat yang hampir bersamaan Komunitas Kretek melayangkan pernyataan bahwa mereka mendukung perjuangan warga Kendeng dan tidak tahu menahu soal aksi petani tembakau di depan kantor Gubernur. Data dan profil lengkap si baju orange yang bertindak sebagai provokator telah gamblang. Sore harinya beredar pemberitaan bohong tentang aksi di depan kantor gubernur yang hampir ricuh karena dipicu oleh penyerangan warga Kendeng pada peserta aksi petani tembakau.

Sebuah skenario sedang berlangsung.

(Tulisan diambil dari kronologi FB Eggy Yunaedi)