Menyoal Etnografi Ruang kelas

siswa-5632e6ef117b6115061c5fc0

Edi Subkhan*
Siang hari kemarin saya membaca beberapa lembar buku berjudul “Ethnography for Education” karya Pole dan Morrison (2003) terbitan Open-University Press (UK). Saya pikir etnografi untuk dunia pendidikan di Indonesia belum banyak yang melakukannya. Satu semester yang lalu saya mulai berupaya untuk eksperimen menggunakan pendekatan etnografi dalam penelitian di kelas dan lingkungan kampus. Ada beberapa pertimbangan mengapa saya belajar etnografi dan berniat menggunakannya sebagai pendekatan utama dalam riset di kelas dan lingkungan kampus dan/atau sekolah.

Sebagai bagian dari jenis riset kualitatif, etnografi mengungkapkan detil-detil lingkungan sosial dan peristiwa. Hal ini tentu adalah modal awal yang akan menjadikan riset lebih kaya data dan informasi, dan tentu akan menjadikan hasil riset lebih kaya perspektif dan kesimpulannya lebih akurat. Jadi, bukan sekadar riset-riset berpendekatan kuantitatif yang menghitung beberapa variabel, melainkan mencoba interpretasi apa yang terjadi di balik sebuah peristiwa, simbol, dan lainnya. Riset jenis ini akan menghasilkan interpretasi kritis dan mendalam atas suatu hal, bukan sekadar membuktikan bahwa ada relasi antara satu variabel dan variabel lainnya, melainkan pola-pola relasi.

Hasil riset berpendekatan etnografi lebih enak dan renyah dibaca ketimbang hasil riset lain dari pendekatan kuantitatif. April 2013 lalu saya membeli satu buku hasil riset berpendekatan etnografi, judulnya “Back Door Java” karangan Jan Newberry (2013) terbitan YOI dan KITLV-Jakarta. Gaya tutur dan tulis dalam buku tersebut sangat renyah dan nikmat dibaca, saya yakin mereka yang tidak suka membaca buku-buku hasil riset yang berat dan teoretis pun akan terpikat membaca buku karya Newberry ini. Hampir tak ada bedanya dengan novel dan diary. Dan sangat berbeda dari gaya tutur dan tulis riset-riset yang diakui sebagai karya akademik oleh lingkungan akademik kampus-kampus di Indonesia yang kaku dan rigid bahasanya. Atau silakan baca juga laporan riset berpendekatan etnografi yang berjudul “Politik Ruang Publik Sekolah: Negosiasi dan Resistensi di SMUN di Yogyakarta” karya Hairus Salim HS, Najib Kaelani, dan Nikmal Azekiyah (2011) diterbitkan kerjasama antara CRCS UGM dan LKiS Yogyakarta. Lagi-lagi tulisannya renyah dan nikmat dibaca.

Fokus atau sasaran riset yang ideal ketika menggunakan pendekatan etnografi—dan sekaligus mengisi ruang kosong bidang kajian etnografi untuk dunia pendidikan di Indonesia—tentu saja adalah ruang kelas dan lingkungan belajar (formal, informal, nonformal). Secara teknis, sebagai dosen dengan jadwal mengajar yang sangat padat (saya semester gasal 2013/2014 ini full mengajar dari hari Selasa sampai Jumat) tidak mungkin akan dapat menghasilkan riset kualitatif berkualitas jika subjek/objek risetnya berada di luar kampus. Terlebih kalau pakai pendekatan etnografi yang butuh intensitas tinggi untuk terlibat dalam observasi langsung dan memahami detil-detil dan peristiwa yang terjadi di situ. Observasi kalau mau serius tentu butuh waktu cukup lama. Kalau objek/subjek kajian riset kualitatif di lapangan menggunakan teknik observasi, maka butuh waktu cukup lama untuk melakukan observasi. Dan ini tidak mungkin dilakukan oleh dosen-peneliti yang jadwal mengajarnya full dari Selasa-Jumat. Tentu saja akhir pekan (Sabtu-Minggu) adalah waktu istirahat untuk membaca buku, menulis ringan, atau berlibur. Senin kalu di fakultas saya (fakultas ilmu pendidikan, Unnes) adalah hari fakultas, banyak agenda akademik diselenggarakan oleh fakultas maupun jurusan masing-masing.

Selama ini dari beberapa literatur yang saya baca tentang etnografi, teknis “merekam” data memang rigid. Bahkan dicatat detil menggunakan penanda waktu. Jadi, pukul sekian menit kesekian apa yang terjadi di kelas, si A melakukan apa, si B merespon bagaimana, dan lainnya dicatat per periode waktu. Tentu saja kalau saya melakukan hal tersebut akan susah. Karena sebagai dosen-peneliti saya juga adalah aktor di kelas dan kampus. Di sisi lain, kalau model pencatatan/perekaman tersebut ditinggalkan, maka justru mengurangi “nilai” dari riset kualitatif berpendekatan etnografi yang memang dengan model pencatatan/perekaman tersebut akan menghasilkan data yang kaya dan beragam (sebuah modal untuk analisis dan interpretasi yang sangat bernilai tentunya). Oleh karena itu, semester kemarin walau saya sudah membeli audio recorder untuk merekam audio proses perkuliahan di kelas, tetap saja terkendala waktu dan tenaga untuk menuliskannya dalam bentuk teks. Mood juga sangat memengaruhi. Ada kalanya sangat malas untuk merekam, ada kalanya juga malas untuk sekadar menulis.

Untuk mengatasi problem teknis tersebut, saya “berijtihad” untuk merumuskan gaya atau teknis perekaman etnografis yang baru. Saya ambil inti dari etnografi sebagai “menulis cerita” yang terjadi di kelas dan lingkungan kampus, mencari dan menggambarkan detil peristiwa, apa yang saya dan mahasiswa lakukan di kelas, masalah apa yang muncul, bagaimana cara menanganinya secara responsif di kelas, dan lainnya. Oleh karena itu, ijtihad saya adalah: tiap hari sebisa mungkin saya akan menulis apa yang saya dan mahasiswa lakukan di kelas, apa yang saya lihat dan rasakan di kelas dan luar kelas, bagaimana perkembangan mahasiswa di kelas dan luar kelas. Walau terkadang tidak mood menulis, namun setidaknya akan tetap ada rekaman mengenai apa yang terjadi di kelas yang saya ampu. Mungkin hanya barang dua atau tiga paragraf. Detilnya peristiwa tentu saja berkurang jika dibanding dengan gaya pencatatan/perekaman yang menggunakan penanda waktu.

Dengan demikian apa yang saya lakukan hampir tak ada bedanya dengan menulis diary atau catatan harian. Hanya saja fokusnya adalah pembelajaran di kelas dan lingkungan kampus. Saya juga ingat apa yang dikatakan oleh Pole dan Morrison (2003), bahwa seorang etnografer mesti membedakan dirinya dengan seorang jurnalis pendidikan. Ada problem yang diidentifikasi, ada pola relasi yang dicari, ada “teori” yang dicoba bangun. Sedangkan seorang jurnalis pendidikan sekadar menuliskan berita dan menghadirkannya secara renyah untuk khalayak ramai. Namun lagi-lagi tantangannya adalah: bagaimana bisa menuliskan detil peristiwa dan lingkungan setelah proses perkuliahan selesai. Karena tak mungkin saya menuliskannya sambil mengajar di depan kelas. Oleh karena itu, sebisa mungkin setelah jam mengajar saya menulis, kalau tidak begitu ya pada malam hari dalam waktu senggang. Mungkin terlihat agak “ngoyo” kok tiap hal ditulis. Tapi memang itulah etnografi.

Sedikit dari yang saya pahami. Sebetulnya riset etnografi basisnya adalah tulisan dan menjadi seorang etnografer syaratnya memang harus suka menulis—dan otomatis mesti suka membaca. Dalam kesempatan lain nanti saya akan ulas—semoga saya tidak lupa—bahwa pencatatan dan/atau perekaman peristiwa dan detil lingkungan dalam etnografi tidak melulu mesti berupa tulisan tekstual, melainkan dapat juga rekaman audio, video, dan bahkan dapat menggunakan sumber kedua (wawancara untuk menguatkan data, dokumen pelengkap analisis data, dll). Kembali ke depan: jangan sekali-kali menggunakan etnografi sebagai pendekatan riset jika tak suka dan tak bisa menulis dengan baik. Karena kemampuan menulis yang baik akan menentukan kualitas deskripsi dan narasi dari tulisan. Karena—ingat—dalam riset kualitatif, terlebih etnografi, instrumen penelitian utama adalah peneliti itu sendiri. Sang dosen-peneliti-etnografer melihat melalui matanya sendiri (dan atau mata informan—untuk yang menggunakan data sekunder, dapat diperkuat dengan dokumentasi dan data lainnya) kemudian menginterpretasikannya.

Etnografi, ketika dilakukan dengan serius, sejatinya adalah aktivis riset yang murni induktif. Jadi, seorang etnografer tinggal menulis apa saja, menuliskan semuanya. Baru ketika data dan informasi terkumpul, peneliti menganalisisnya dan akan mengalir entah menuju ke mana tergantung pada data yang terkumpul dan perspektif teoretis yang digunakan untuk analisis. Walau menggunakan perspektif teoretis tertentu, etnografi mesti lebih banyak porsinya untuk bercerita secara interpretatif secara luas ketimbang memaksakan analisis atas suatu hal. Problem ditemukan ketika proses penulisan sudah dilakukan. Problem ditemukan oleh peneliti melalui identifikasi atas hasil tulisan yang terkumpul. Jadi, bukan semacam riset yang didahului oleh pengajuan proposal untuk menjawab pertanyaan penelitian yang sudah pasti dan dirumuskan sebelumnya. Dalam etnografi, pertanyaan penelitian pun mengalir, bisa berubah, seiring terkumpulnya data. Dan inilah nature atau karakternya kualitatif.

Oleh karena itu, wajar jika dalam laporan riset kualitatif, termasuk yang berkualitas dan diterbitkan dalam bentuk buku, data yang terkumpul dan dianalisis lebih banyak dan “tebal” dibanding hasil laporan “resmi” untuk publik/pembaca. Bagi peneliti, data, fakta, dokumen, informasi, dan lainnya adalah “surga” untuk dianalisis lebih lanjut. Dan bagi etnografer, data paling valid, absah, dan kredibel adalah yang dilihat langsung oleh etnografer dan dialami langsung oleh etnografer. Di kelas dan kampus, seorang dosen-peneliti-etnografer adalah instrumen utama yang mencatat dan merekam data-data tersebut. Dan sudah pasti valid, absah, dan kredibel.

Minggu depan, atau minggu depannya lagi, saya akan lanjutkan mengulas etnografi dan “ijtihad” saya untuk melakukan riset aksi di kelas (classroom action research). Semoga tidak lupa, dan ada waktu menulis.
Minggu, 08 September 2013

  • Edi Subkhan, bergiat di Rumah Buku Buku Simpul Semarang, penyuka buku, suka berkomunitas dan sayang keluarga.