Mengatasi Anak Nakal ala Freedom Writers

Gambar diambil dari www.amazon.com

 

Oleh Edi Subkhan*

Erin Gruwell guru muda yang sangat bersemangat ketika diterima mengajar. Tak sabar ia menanti hari pertama bertemu siswa-siswinya. Bangun pagi-pagi sekali, bersih-bersih, menyeduhkan kopi hangat untuk suami, memilih baju terbaik, kemudian berangkat dengan wajah berseri-seri ke sekolah. Memasuki halaman sekolah menengah atas Woodrow Wilson, Long Beach, hatinya makin berdegub kencang. Senang rasanya bertemu anak-anak yang ceria dan senang belajar.

Namun apa yang ada dibayangannya sirna ketika ia masuk ke ruang 203, kelas tempat ia ditugaskan mengajar bahasa. Siswa-siswi masuk lewat pintu belakang, tak ada yang menyapanya, dan semua langsung bergerombol tanpa menghiraukan guru baru mereka. Tak berselang lama mereka ribut, baku hantam. Erin panik. Hari berikutnya lebih parah, tawuran besar-besaran terjadi.

Amerika tahun 1990-an adalah Amerika yang muram. Perang antar geng berlatar ras dan etnis yang berbeda hampir tiap hari terjadi. Rasisme masih bercokol di benak banyak orang. Kebijakan pembauran antara anak-anak berlatar etnis yang berbeda-beda dikeluarkan. Woodrow Wilson high school merupakan salah satu sekolah yang diberi mandat tersebut. Walau begitu hampir semua guru di Woodrow Wilson selalu memandang sebelah mata kemampuan anak-anak dari program pembauran tersebut.

Mereka bahkan tidak menganjurkan Erin untuk meminta siswa-siswinya membaca sastra klasik “Hommer’s the Odissey” agar perbendaharaan kata mereka meningkat. Terlalu sulit bagi mereka membacanya, apalagi paham isinya, saran para guru lain.

Namun Erin bukan guru yang mudah patah arang. Ia bawa tape recorder besar dan menyetel keras-keras Tupac Shakur, raper kulit hitam idola anak-anak muda saat itu. Kiranya dengan mendekatkan pelajaran pada hal-hal yang disukai anak-anak muda, mereka akan senang belajar. Beberapa siswa antusias, selebihnya tetap cuek. Kali lain ia menata tempat duduk siswa, yang tadinya bergerombol sesuai etnis masing-masing ditata agar lebih membaur. Beberapa menolak, dan keributan kembali pecah di kelas.

Pada satu pertemuan kelas kembali gaduh gara-gara Jamal, salah seorang siswa kulit hitam, di-bully. Ia digambar karikatur sebagai orang berbibir teramat tebal dan besar. Erin menengahi mereka. Ia bercerita bahwa dulu ada tragedi berdarah sepanjang sejarah manusia yang disebut Holocaust. Dan tragedi itu bermula dari pandangan miring terhadap ras dan etnis lain yang berbeda. Ribuan nyawa melayang. Kebencian terhadap ras dan etnis lain tak perlu diwariskan, ujar Erin.

“Kau tak tahu apa-apa tentang kami…!”

“Kami di sini lebih dulu,” teriak salah seorang siswa.

“Kau tak tahu penderitaan yang kami rasakan. Kau tak tahu apa yang harus kami lakukan. Kau tak menghormati cara kami hidup. Kau mengajari kami tata bahasa lalu kami keluar dan terbunuh? Untuk apa kau katakan semua itu padaku? Apa yang kau lakukan di sini yang dapat membuat hidup kami berbeda?” kata Eva Benites, menahan marah.

“Kau tak merasa dihormati? Itukah maksudmu, Eva? Mungkin tidak. Tapi untuk dihormati kau juga harus menghormati,” jelas Erin.

“Omong kosong! Kenapa aku harus hormat padamu? Apa karena kau guru? Aku tak tahu kau, bagaimana kalau kau bohong pada kami? Bagaimana kami tahu kau bukan orang jahat? Mengapa aku harus menghormatimu hanya karena kau disebut sebagai guru?” kata siswa lainnya.

Lalu, Eva, remaja belasan tahun berdarah Latin itu memberondong Erin dengan cerita yang membuat Erin tak bisa berkata-kata lagi. Temannya ditembak dari belakang oleh polisi kulit putih, ia menjadi saksi polisi kulit putih mendobrak paksa dan menggeledah rumahnya dan menangkap ayahnya tanpa alasan. Eva benci pada orang kulit putih.

Erin tersadar, bahwa kelas yang ia hadapi kelas istimewa. Ia mencoba meraba-raba apa siapa yang ia hadapi. Erin terdiam, kemudian meminta angkat tangan siapa saja di kelas itu yang pernah tertembak. Hampir seisi ruangan angkat tangan. Erin kembali tecekat, menahan air matanya yang hampir tumpah. Bel berbunyi, kelas berakhir.

Menghadapi kenyataan itu apakah Erin menyerah begitu saja? Tidak.

Pada kesempatan berikutnya Erin mencoba untuk mengetahui seluk beluk kehidupan siswa-siswinya, termasuk masa lalu mereka. Untuk itu tiap siswa ia berikan satu buku tulis. Harapannya mereka bersedia menuliskan apa saja yang mereka rasakan, kisah hidup mereka, masalah-masalah mereka. Ide tersebut tampak sederhana, tapi dari situlah Erin tahu hal-hal pribadi siswa-siswinya. Ada anak yang korban KDRT, ada yang sudah dipenjara sejak kecil, siswa lain terlibat narkoba, menjadi germo, anggota geng, dan lainnya.

Satu hal yang ia pegang, bahwa tiap anak pasti bisa dan mampu belajar. Ia minta ijin pada suaminya untuk kerja lembur agar mendapat pemasukan tambahan. Dari situlah ia memborong novel-novel baru cerita gangster, hadiah istimewa untuk anak-anak ruang 203. Akhir pekan Erin ajak anak-anak kesayanganya piknik. Tentu dengan duit dari kantong sendiri. Ia ajak anak didiknya ke museum korban Holocaust, tak tanggung-tanggung ia juga ajak semua siswanya makan malam di hotel tempat ia kerja sampingan. Di situ Erin telah mengundang beberapa korban Holocaust yang masih hidup untuk bercerita mengenai tragedi kelam mereka.

Anak-anak merasa dihargai. Sejak saat itu tak ada lagi cerita baku hantam di kelas, tak ada lagi anak saling bully, anak-anak ruang 203 pelan-pelan mulai belajar bahasa dari Ibu Guru Erin Gruwell melalui novel-novel yang ia berikan, juga melalui “tugas” menulis catatan harian.

Apa yang saya ceritakan tersebut ada dalam film “Freedom Writers” (2007) besutan sutradara Richard LaGraveness dengan bintang Hilary Swank, Scott Glen, Imelda Staunton dan kawan-kawan. Film yang diangkat dari kisah nyata tersebut patut ditonton oleh para guru dan calon guru yang gelisah bagaimana menghadapi siswa-siswi yang bermasalah. Tak mudah memang menghadapi anak-anak yang sering jadi biang kerok di sekolah. Namun sebagaimana ditunjukkan oleh Erin Gruwell, kekerasan dan pemaksaan bukan jalan terbaik untuk mengatasinya. Sebelum meminta anak belajar tekun Erin mengajarkan pada kita agar paham pada keunikan masing-masing anak didik, termasuk empati pada problem sosial maupun psikologis yang mereka hadapi.

Para pendidik bisa berdalih bahwa tugas guru dan sekolah sebatas memberi pelajaran untuk anak didiknya, tak lebih dari itu. Namun kita patut berefleksi, baik atas cerita dari film Freedom Writers ataupun para siswa-siswi di sekolah-sekolah kita: bahwa memaksa mereka mempelajari materi pelajaran, mendorong mereka mengejar prestasi akademik, dan memotivasi agar mereka menikmati belajar rasanya tak ada artinya jika problem mendasar kehidupan mereka tak turut teratasi.

Yakni kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, lingkungan yang tidak aman, juga diskriminasi, ketidakadilan, intimidasi, dan konflik yang melibatkan mereka. Itulah yang dipertanyakan oleh anak-anak didik Erin di ruang 203, buat apa serius mempelajari tata bahasa dan sastra kalau ketika keluar mereka bisa saja terbunuh akibat perang antar geng?

Jalan yang ditempuh oleh Erin adalah jalan kultural. Ia ambil hati anak didiknya pelan-pelan, dan walaupun ia tidak dapat serta merta mampu menyelesaikan problem personal masing-masing siswanya minimal ia punya empati yang tinggi. Dengan mengajak siswa keluar sekolah, piknik, ke museum, bertemu orang-orang, memberi mereka bacaan bermutu, lambat laun anak-anak sadar bahwa tak ada untungnya membenci. Tidak atas nama ras, etnis, agama, juga bangsa.

Menonton film yang berdurasi lebih kurang 2 (dua) jam ini bisa jadi Anda akan terpana, atau justru memandang sebelah mata. Tidak mungkin memang membuat perubahan dalam tempo singkat. Tidak juga Erin Gruwell di ruang kelas 203. Ia perlu waktu lama, bahkan secara ekstrim mengorbankan perkawinannya. Ia berjuang bahkan melawan teman-teman guru di sekolahnya sendiri, kepala sekolahnya, ia gigih melobi pejabat distrik, kerja sambilan di tempat lain, dan tentu saja bersabar menghadapi siswa-siswinya dalam belajar.

Anak nakal tak bisa diatasi melelaui jeweran, cubitan, tamparan, apalagi tendangan maut. Kalau itu yang dilakukan niscaya kekerasan akan terwariskan dan jadi tradisi dari generasi ke generasi. Balas dendam melibatkan kawan, bahkan orangtua, niscaya terjadi. Mengeluarkan anak dari sekolah jika terbukti salah juga tidak bijak, karena justru di luar mereka bisa jadi santapan preman, geng jalanan, atau bahkan mafia narkoba. Tapi hambatan menggunakan pendekatan kultural untuk mengatasi siswa nakal tak kurang banyak jumlahnya.

Beranikah guru-guru di sekolah-sekolah kita di Indonesia dalam satu, dua, atau bahkan empat sampai lima pertemuan awal yang dilakukan bukan belajar materi pelajaran, tapi sekadar ngobrol mengenal diri siswa-siswinya? Termasuk mengidentifikasi problem personalnya, keluarganya, dan mileu sosial terdekat mereka sehari-hari? Di tengah posisi guru yang dibelenggu oleh jadwal untuk mengejar ketuntasan minimum (KKM) tiap semester, agaknya mustahil kreativitas mengajar ala Freedom Writers tersebut dapat dilakukan.

Walau begitu film ini mengajarkan pada kita bahwa yang perlu diutamakan guru dalam mendidik adalah siswa-siswi, bukan kurikulum, bukan pula materi pelajaran, tuntutan mencapai standar kompetensi tertentu, ataupun serangkaian kebijakan berkarakter top down yang seringkali tak tahu apa yang terjadi di kelas. Film ini tak hanya layak ditonton, tapi HARUS ditonton sebagai asupan gizi penyemangat para guru untuk selalu berubah jadi lebih humanis yang progresif.

Berikutnya, tinggal bisa atau tidak kita setidaknya mencoba untuk mengenal dan empati pada anak didik kita dengan segenap keunikan, problem, dan potensinya, sebelum “memaksa” mereka belajar materi tertentu?

* Edi Subkhan, pegiat di Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS), peminat pedagogi kritis.