Warga Surokonto Wetan Kunjungi Tenda Perjuangan di Rembang

Kunjungan Warga Surokonto Wetan ke Tenda Perjuangan, Minggu 10 April 2016.

Exsan Ali Setyonugroho

Rembang-Minggu sore (10 April 2016), Tenda Perjuangan yang berdiri di Gunung Bokong dari gugusan Pegunungan Kendeng Utara Rembang, persisnya di pinggir jalan masuk pabrik PT. Semen Indonesia, masih kokoh berdiri. Salah seorang ibu tampak sedang bersih-bersih dengan sapu lidi di sekitar tenda. Ibu yang lain sedang mengumpulkan kayu bakar untuk masak makan malam. Kendaraan pengangkut material proyek pembangunan PT. Semen Indonesia masih saja angkuh lalu lalang di depan Tenda Perjuangan. Tanpa permisi, tanpa mengindahkan pengorbanan waktu ibu-ibu penjaga Pegunungan Kendeng itu. Debu yang beterbangan membuat salah seorang ibu penghuni tenda menutupi hidungnya dengan kerudung.

Persis pada pukul 15.00 WIB, tiba-tiba datang satu bus yang berisi rombongan  warga desa Surokonto Wetan, Kecamatan Pegeruyung, Kebupaten Kendal. Rombongan berjumlah 36 orang yang dipimpin oleh Kiai Aziz ini disambut oleh Ngatiban, Mas Marno, dan Ibu Karni serta puluhan ibu-ibu lainnya yang sedang berada di Tenda Perjuangan.

Dari keterangan yang berhasil dihimpun, kehadiran ibu-ibu petani dari Kendal tersebut adalah karena ingin mengetahui kondisi Tenda Perjuangan yang selama hampir dua tahun dihuni oleh Ibu-ibu Rembang yang menolak pendirian pabrik PT. Semen Indonesia di Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang.

“Ibu-ibu dari Surokonto Wetan datang ke Tenda Perjuangan ini dengan maksud ingin belajar tentang perjuangan mempertahankan tanah leluhur dari ancaman pabrik semen. Selain itu kami juga ingin saling memberikan semangat baik kepada Ibu-ibu di tenda dan kami sendiri di Kendal yang tanahnya akan dirampas oleh PT. Sumurpitu Wringinsari, Perhutani dan PT. Semen Indonesia,” ungkap Kiai Aziz yang mendampingi perjalanan ibu-ibu dari Kendal tersebut.

Sontak kedatangan puluhan ibu-ibu dari Surokonto Wetan ini disambut pelukan dari ibu-ibu penghuni Tenda Perjuangan. Bahkan ketika melihat kondisi tenda, banyak ibu-ibu Surokonto Wetan yang menangis sesenggukan. Mereka merasa terenyuh melihat dan mendengarkan  tuturan ibu-ibu penghuni tenda tentang kondisi Tenda Perjuangan yang berdiri sejak 16 Juni 2014 untuk memprotes pendirian pabrik semen yang akan menghancurkan Pegunungan Kendeng.

“Kami banyak yang menangis melihat kondisi ibu-ibu di tenda yang sangat memprihatinkan. Mereka berjuang bukan untuk mereka sendiri namun untuk kita semua. Pejabat pemerintah macam apa yang ada di negeri ini sehingga mereka tak mau melihat dan memperjuangkan nasib kita,” tutur Suwiyah perwakilan ibu-ibu Surokonto Wetan.

Warga Surokonto Wetan, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal yang mengunjungi ibu-ibu di Rembang tersebut juga tengah didera masalah yang kaitan langsung dengan pendirian PT. Semen Indonesia yang kontroversial ini. Akibat mendirikan pabrik di Rembang dengan memangsa lahan Perhutani membuat PT. Semen Indonesia harus mencari lahan penggantinya di tempat yang lain. Sayangnya tempat yang dijadikan tukar guling lahan tersebut adalah lahan garapan petani di Desa Surokonto Wetan. Proses tukar-guling lahan yang melibatkan beberapa pihak tersebut ternyata belum clean and clear. Lahan yang sejatinya adalah milik rakyat sebelum dikuasakan pada negara tersebut dibeli oleh PT. Semen Indonesia dari PT. Sumur Pitu Wringinsari  sebelum diserahkan ke Perhutani sebagai lahan pengganti.

Sementara itu, menurut dokumen-dokumen yang dimiliki warga Surokonto Wetan, PT. Sumur Pitu Wringinsari hanya memiliki Hak Guna Usaha atas lahan yang dikelola rakyat tersebut. Sudah sejak tahun 1972 lahan yang sudah dibiarkan terbengkalai oleh PT. Sumurpitu Wringinsari tersebut digarap oleh ratusan Warga Surokonto Wetan dan sekitarnya. Total ada sekitar 450 Kepala Keluarga yang telah hidup dari lahan tersebut selama puluhan tahun. Menurut Kiai Nur Aziz, apabila lahan tersebut dijadikan hutan, maka tanah garapan warga akan hilang. Padahal itulah satu-satunya tumpuhan hidup petani-petani di Surokonto Wetan dan sekitarnya. Ketiadaan tumpuan hidup yang bisa diandalkan itulah yang membuat mereka berbondong-bondong mendatangi Tenda Perjuangan. Selain saling memberikan semangat dalam berjuang mempertahankan tanah sumber penghidupan, mereka ingin menyatukan kekuatan agar suara hati nurani mereka bisa didengar masyarakat luas, pejabat pemerintah, dan pihak perusahaan.

Hampir dua jam Ibu-ibu Surokonto Wetan berbincang dengan ibu-ibu pejuang Pegunungan Kendeng di dalam dan sekitar Tenda Perjuangan. Kendaraan proyek masih tetap berlalu lalang sehingga menerbangkan debu-debu jalan yang dibiarkan tidak diaspal tersebut. Ibu-ibu Surokonto Wetan juga sempat Sholat Ashar di Mushola Perjuangan yang telah berdiri sejak 2 bulan lalu. Mereka menghayati betul betapa sulit perjuangan Ibu-ibu penghuni Tenda Perjuangan untuk mempertahankan kesejahteraan hidupnya dari ancaman pabrik semen.

“Saya terus saja menangis setelah diceritakan ibu-ibu di tenda ini. Jarak tenda dari rumah mereka ternyata cukup jauh. Mereka harus mengisi tenda secara bergantian setiap hari dengan membawa bekal sendiri-sendiri dari rumah. Tidak hanya sehari dua hari saja, tapi dua tahun. Ini sungguh luar biasa. Kami ingin sekuat mereka. Sepulang dari sini, kami akan mencoba membawa semangat ini untuk kami praktikan di Surokonto,” tutur Sumiyati petani asal Surokonto Wetan.

Kiai Aziz sebagai bagian dari warga Surokonto Wetan yang terusik dengan proses tukar-guling yang semena-mena dan tak memperhatikan hak-hak para petani juga berharap agar warga Rembang dan Kendal bersatu untuk menolak tukar guling lahan dari PT. Semen Indonesia. Kiai kampung yang dekat dengan umatnya ini secara tegas juga menyatakan sikap penolakan terhadap pendirian pabrik semen di Rembang. Sosok Kiai kharismatis ini mengandaikan jika proses tukar guling lahan di Surokonto Wetan gagal maka akan mempengaruhi proses berdirinya pabrik semen di Rembang.

Ketika akan meninggalkan Tenda Perjuangan, Kiai Aziz dan warga Surokonto Wetan menyatakan rencana untuk mendirikan posko atau semacam tenda perjuangan di lahan yang sejak puluhan dan bahkan ratusan tahun digarap Warga Surokonto Wetan dan para leluhurnya.[]