Semarang Berhasil Selenggarakan Sekolah Kader FNKSDA

12901000_202930246764046_4437386795929338189_o

Semarang-Sekolah Kader Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Semarang berhasil diselenggarakan sejak tanggal 31 Maret hingga 4 April 2016. Sekolah Kader FNKSDA Semarang ini diselenggarakan atas kerjasama Rumah Buku Simpul Semarang, Satjipto Rahardjo Institute, LBH Semarang, PMII Walisongo, Komunitas Payung, Kalam Kopi dan Ponpes Al-Islah. Rangkaian Sekolah Kader FNKSDA ini dibuka dengan dialog publik bertema “Islam dan Penyelamatan Sumber Daya Alam” di Kampus 1 UIN Walisongo Semarang pada hari Kamis (31/03/2016). Ubaidillah Ahmad (dosen UIN Walisongo), Rusmadi (dosen UIn Walisongo),  dan Dwicipta (GLI dan FNKSDA) menjadi pembicara dialog publik yang dihadiri sekitar 100 orang tersebut.

Setelah Dialog Publik selesai, Sekolah Kader FNKSDA Semarang dilanjutkan di Pondok Pesantren Al-Islah, Meteseh, Tembalang, Semarang asuhan Kiai Budi Hardjono. Ada sekitar 18 peserta mengikuti Sekolah Kader FNKSDA. Mereka rata-rata berasal dari Semarang, Yogyakarta, Cirebon, dan Bandung. Ketertarikan mereka mengikuti Sekolah Kader FNKSDA di antaranya adalah karena ingin berjuang nyata dalam penyelamatan sumber daya alam Indonesia yang tengah dieksploitasi secara besar-besaran tanpa mempedulikan dampak ekologis dan sosialnya.

Materi pertama Sekolah Kader ini diisi oleh Bosman Batubara. Ia  berbicara tentang “Sejarah dan Ekonomi Agraria di Indonesia”. Penyampaian materi pertama ini sekaligus dimanfaatkan sebagai ajang kopdar dan sharing dengan peserta sekolah kader. Pada Jum’at pagi (01/04/2016) peserta mendapatkan materi “Sejarah FNKSDA” oleh A. Syatori, salah satu Ketua Komite Nasional FNKSDA. Kemudian materi “Politik Hukum Agraria di Indonesia” oleh Rofi Wahanisa pada Jum’at siang.

Jum’at malam setidaknya ada tiga pemateri yang dipanelkan sekaligus dalam satu sesi. Ada Gunawan Budi Susanto alias Kang Putu, Kiai Budi Hardjono, dan Muhammad Al-Fayyadl yang masing-masing berbicara tentang “Kekerasan Budaya dalam Konflik Agraria”, “Gerakan Caping Nusantara” dan “Pandangan Islam tentang Penyelamatan Sumber Daya Alam”.

Sabtu pagi (02/04/2016) seluruh peserta Sekolah Kader FNKSDA Semarang, panitia, santri pondok dan Kiai Budi Hardjono sendiri berkeliling kampung untuk kerja bakti cabut paku di pohon-pohon sepanjang jalan Meteseh, Tembalang, Semarang. Dipimpin langsung oleh Kiai Budi Hardjono, aksi pencabutan paku ini disambut baik oleh masyarakat sekitar. Banyak masyarakat Meteseh yang ikut bersih-bersih jalan dan meminjamkan alat-alat seperti tang, linggis dan sabit untuk kerja bakti.

Sabtu siang pelaksanaan Sekolah Kader FNKSDA Semarang dilanjutkan dengan materi “Politik Media” oleh Tommy Apriando (wartawan Mongabay) dan Moh. Sobirin (direktur Desantara). Materi ini sangat penting dalam membongkar politik media selama ini yang tidak mengabarkan penindasan yang dialami rakyat dari pemodal bahkan pemerintah. Selain itu untuk merumuskan bagaimana isu-isu penyelamatan sumber daya alam di berbagai daerah bisa meledak dan diketahui oleh masyarakat secara umum.

Sore harinya giliran Ali Nursahid dan Eti Oktaviani (LBH Semarang) berbicara mengenai “Hak Asasi Manusia dalam Usaha Penyelamatan Sumber Daya Alam”. Banyak kasus kekerasan yang menimpa para petani di Rembang, Pati, Lumajang, Urutsewu, Banyuwangi, dll untuk menyelamatkan sumber daya alam yang mereka miliki. Dari banyaknya kasus inilah materi HAM dalam Usaha Penyelamatan Sumber Daya Alam sangat penting untuk membekali peserta dalam membantu para petani atau kelompok masyarakat marjinal yang tertimpa kekerasan.

Sebelum peserta pamitan dari Pondok Pesantren Al-Islah untuk melanjutkan agenda live in di Kendal, Kiai Budi Hardjono memberikan do’a dan suguhan tari sufi. Kiai Budi Hardjono memberikan pesan bagi seluruh peserta sekolah kader untuk tetap semangat membela kaum tani yang semakin terpinggirkan dan dekat dengan ketidakadilan. Bagi Kiai Budi, petani merupakan soko guru kehidupan di muka bumi ini, tanpa petani negara tidak akan mampu untuk menghidupi rakyatnya.Itulah pesan Kiai Budi, seorang kiai rakyat yang memutuskan tetap hidup dengan masyarakat di pinggiran Kota Semarang.

Pesan yang semakin mantap membuat perjalanan peserta sekolah kader menuju Desa Surokonto Wetan, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal. Di sana pula peserta sekolah kader juga akan menemukan sosok kiai rakyat yang menjemput kedaulatan. Sosok kiai pembela umat yang tidak akan takut dengan ancaman dari pemodal, pemerintah bahkan struktural NU sendiri untuk keadilan dan kadaulatan umatnya yang sebagian besar petani sederhana.

Dialah Kiai Nur Aziz, rombongan peserta Sekolah Kader FNKSDA Semarang pada Minggu dini hari (03/04/2016) menginjakan kaki di rumahnya di Desa Surokonto Wetan. Rombongan diterima dengan hangat. Kiai Aziz setelah itu mulai menceritakan awal mula konflik tukar guling lahan yang melibatkan  petani Surokonto Wetan dengan Perhutani, PT. Sumur Pitu, PT. SI dan Pemerintah. Cerita berlanjut sampai adzan Subuh berkumandang.

Minggu pagi setelah rombongan istirahat, materi terakhir “Pengorganisasian Isu dan Massa” oleh Dwicipta dilaksanakan di rumah Kiai Aziz. Dwicipta menceritakan pengalamannya di Urutsewu. Peserta antusias, semakin menghidupkan diskusi dan penyerapan materi.

Setelah makan siang, peserta Sekolah Kader mulai melakukan investigasi tentang permasalahan yang menimpa ratusan petani Surokonto Wetan. Peserta disebar ke delapan RT (dua RW) dan melakukan wawancara secara mendalam dengan petani. Dipandu langsung oleh Kiai Aziz, peserta berhasil menghimpun data yang akan dikontruksikan menjadi sebuah laporan yang sistematis tentang kasus di Surokonto Wetan.

Minggu malam, peserta sekolah kader berdiskusi dengan warga yang hadir di rumah Kiai Aziz. Mereka mulai menceritakan satu-persatu permasalahan yang mereka hadapi. Kiai Aziz tak lupa memberikan suntikan semangat kepada warga dan peserta sekolah kader, bahwa perjuangan ini harus dilakukan demi kedaulatan dan kesejahteraan petani. Itulah Kiai Aziz sosok kiai panutan di Desa Surokonto Wetan yang kebal dengan ancaman kriminalisasi. Terus berjuang demi umatnya yang menjerit ketika tanahnya dirampas dan haknya dikebiri.

Senin pagi sebelum peserta berpamitan, Kiai Azis mengajak peserta melihat puluhan petani Desa Surokonto Wetan yang bersama-sama gotong-royong menggarap lahan dengan riang gembira. Meskipun seminggu yang lalu lahan mereka didatangi oleh ratusan Brimob untuk memuluskan  proses tukar guling yang penuh dengan ketidakadilan tersebut, para petani tetap yakin, bahwa ketidakadilan jika dilawan dengan solidaritas yang kuat dan solid akan tumbang dengan sendirinya.

Minggu siang peserta berpamitan dengan warga dan Kiai Aziz. Do’a dari Kiai Aziz mengiringi perjalanan peserta ke tempatnya masing-masing. Siang itu seluruh sesi Sekolah Kader FNKSDA Semarang telah selesai. Peserta pulang dengan mantap dan penuh keyakinan bahwa ketidakadilan dalam pengelolaan sumber daya alam akan tumbang ketika semua rakyat bersatu melawannya. [ ]