Pala, Rempah Pembawa Bencana

OLD MAP PRESTER JOHN

Syukron Salam

Pala, nyaris saya sebagai anak bangsa Indonesia tidak pernah merasa menyadari kehebatan dan keistimewaan tanaman rempah ini. Bahkan saya sendiri tidak pernah mengetahui tanaman rempah sejenis pala. Tetapi kenapa pada abad ke-16, Eropa begitu dihebohkan dengan tanaman rempah pala.

Bandingkan dengan komoditas perdagangan lain seperti emas, timah hitam, dan batu safir yang memiliki keindahan. Justru pala yang menjadi pusat perhatian masyarakat Eropa pada masa itu. Nilai sejumput pala sebanding dengan sekantong emas. Hanya segelintir orang kaya yang dapat mencecap keistimewaan pala, karena begitu tidak terjangkaunya harga pala di masa itu.

Untuk memperebutkan kongsi dagang dengan daerah-daerah yang memproduksi pala, bangsa-bangsa Eropa tidak segan untuk bertempur dan mengorbankan banyak nyawa. Pertempuran laut dan perompakan menjadi persaingan yang terjadi di antara bangsa-bangsa Eropa demi menguasai perdagangan pala. Ekspedisi-ekspedisi maut yang merenggut banyak jiwa dan menantang kerasnya arus laut, ganasnnya samudra hindia hingga penyakit yang menyerang awak kapal, terbatasnya stok pangan yang menyebabkan kelaparan, tidak menyurutkan kegigihan bangsa-bangsa Eropa untuk mencari sumber pala di seberang benua.

Pencarian sumber pala ini juga telah mempertontonkan sifat tidak beradabnya bangsa-bangsa Eropa yang bertentangan dengan nilai-nilai peradaban bangsa-bangsa Eropa itu sendiri yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan individu pasca magna charta dan deklarasi du droit citizen Prancis.

Eropa pada abad ke-16 adalah Eropa yang masih belum bisa menaklukan setiap ancaman yang datang dan menjadi bencana bagi masyarakat Eropa, terutama wabah penyakit yang begitu sering melanda Eropa hingga menurunkan populasi penduduk. Ilmu kedokteran belum semaju sekarang ini yang dapat menaklukkan berbagai macam penyakit dengan rekayasa kimia untuk memproduksi obat-obatan. Banyak orang mati karena penyakit yang sekarang dianggap sepele. Tetapi Eropa pada masa itu tidak dapat lari dari wabah penyakit seperti demam, berak berdarah, pendarahan perut, bahkan masuk angin pun bisa merengut nyawa karena kurangnya pengetahuan kedokteran di masa itu.

Apa keistimewaan pala hingga Eropa begitu terlihat uncivilised dibanding sekarang ini? klaim-klaim para doktor fisika terkemuka Inggris tentang pala ini begitu keterlaluan. Penelitian mereka tentang pala tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mitos tentang pala. Mereka menganggap pala bisa menyembuhkan segala macam penyakit, mulai dari wabah sampar hingga berak berdarah. Kedua penyakit ini menjadi wabah langganan setiap tahun yang sangat membinasakan bagi Eropa pada masa itu. Eropa pernah mengenal “penyakit berkeringat” yang muncul bersamaan dengan “masa-masa penyebaran penyakit sampar”. Penyakit ini memiliki daya membunuh sangat cepat, hanya butuh waktu 2 jam bagi orang yang terkena penyakit ini untuk binasa. Hingga memunculkan pepatah lama “bersuka cita saat makan malam, mati saat makan larut malam” karena begitu dahsyatnya efek mematikan dari “penyakit berkeringat” ini. Dan dengan pala, penyakit ini dapat diatasi secara total. Gumpalan wewangian yang ditebarkan oleh aroma pala dapat menyembuhkan dan mencegah “penyakit berkeringat”. Aroma pala dapat dijadikan sebagai aromaterapi yang mampu mencegah penyebaran dan masa inkubasi “penyakit berkeringat”.

Khasiat pala bagi tubuh manusia memicu karya-karya di bidang medis. Salah satu buku paling populer di Eropa ditulis oleh Andrew Borde berjudul Dyetary of Health. Dalam buku tersebut, pala memiliki khasiat untuk mereka yang menderita demam di kepala dan memberikan efek nyaman pada mata dan otak.

Koktail pala produksi rumahnya dikatakan sangat manjur tidak hanya untuk membersihkan mulut lambung dan limpa, tetapi juga untuk menghentikan pendarahan perut, sebuah turunan disentri yang berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Terkait dengan mitos tentang pala, rempah ini dipercaya mampu untuk menghidupkan mereka yang menghindari lingkaran dunia yang fana ini. Sepuluh gram kunyit yang diminum bersama dengan anggur diklaim cukup untuk menghidupkan orang mati.

Di balik klaim-klaim yang keterlaluan tentang pala ini, pala memang berfungsi sebagai zat pengawet. Pada waktu itu, pengawetan daging dilakukan dengan penggaraman, pengeringan, atau pengasapan, tetapi cara ini tidak terlalu mampu untuk mencegah sekerat daging menjadi busuk. Sejumput pala, dapat menyamarkan bau busuk daging makanan, menahan laju pembusukan dan memperlambat proses oksidasi.

Venesia menjadi pemegang monopoli perdagangan rempah di seluruh daratan Eropa. Para pedagang Venesia telah menguasai dan memonopoli perdagangan rempah sepanjang abad pertengahan. Saudagar-saudagar Venesia mendapatkan pala dari Konstantinopel yang segera mengangkutnya dengan kapal, dengan cepat ke arah barat laut Mediterania untuk dijual dengan harga yang telah melambung tinggi. Mereka tau cara mendapatkan keuntungan berlipat ganda dengan menahan stok pala agar harga tetap terjaga. Tetapi pada akhir tahun 1511, para saudagar Venesia harus mendengar berita yang tidak menguntungkan bagi keberlanjutan monopoli rempah di Eropa. Sebuah armada kecil portugal telah kembali ke Eropa dengan muatan yang penuh dengan rempah yang berasal langsung dari pulau rempah. Dari sinilah persaingan perdagangan rempah mulai terjadi.

Bocornya jalur pelayaran ketimur melewati tanjung harapan menjadi bencana bagi bangsa-bangsa timur dari kerakusan dan ketamakan bangsa-bangsa Eropa. Perdagangan bangsa timur yang terjalin melalui hubungan dagang telah berganti dengan penguasaan dan penjajahan bangsa Eropa. Pelayaran bangsa Eropa ke wilayah bangsa-bangsa timur dilakukan tidak hanya untuk melakukan perdagangan dengan saudagar-saudagar dari timur terutama para saudagar muslim yang menjadi penghubung komoditas perdagangan rempah ke Eropa, tetapi juga dengan penaklukan-penaklukan pelabuhan-pelabuhan yang menjadi sentra labuhan perdagangan rempah. Percobaan pertama para penjelajah Portugis menyeberangi garis khatulistiwa mengantarkan mereka ke gudang rempah di Maluku.

Para penjelajah Portugis menjamah kepulauan ini dan memperkuat dominasi mereka dengan kekuatan bersenjata. Pada tahun 1511, pelabuhan penting yang menjadi transit perdagangan rempah di Malaka jatuh di bawah kekuasaan Portugis. Dari sini mereka mulai melakukan penjelajahan ke pulau-pulau utama penghasil rempah alami, di antaranya pulau Banda, Ambon, Ternate, dan Tidore. Setiap penaklukan yang dilakukan oleh Portugis disertai dengan usaha mereka untuk membangun benteng-benteng pertahanan yang disiapkan untuk menghindari serangan dari kelompok pribumi yang telah terenggut kemerdekaannya.

Kabar tentang para penjelajah Portugis yang telah menemukan jalan ke “gudang rempah” telah menggemparkan Eropa. Banyak para pelaut yang membujuk raja untuk membiayai ekspedisi-ekspedisi tidak jelas untuk menandingi keberhasilan para penjelajah Portugis. Colombus yang telah menginjakkan kaki di benua Amerika meyakinkan raja Spanyol untuk membiayai ekspedisi ke timur. John Cabot membujuk raja Henry VII dengan meyakinkan raja tentang pengalamannya yang telah mencapai semenanjung Arabia untuk bertanya kepada para pedagang Arab muslim tentang sumber rempah di timur. Perjalanan pelayaran Cabot yang berlayar menyebrang atlantik pada tahun 1497 telah berlabuh di Tanjung Pulau Breton. Cabot menyusuri pantai “tiongkok” hingga ia tiba di Jepang.

Keyakinan Cabot untuk melanjutkan pelayarannya ke “gudang rempah” pudar ketika perjalanannya terhambat dengan gumpalan-gumpalan es di atas permukaan laut. Ternyata ia sedang mengarah ke Antartika. Ekspedisi “setengah gagal” Cabot ini banyak memicu minat dari beberapa kapten kapal  di Eropa.

Ferdinan Magellan telah lama meyakini ada rute yang lebih cepat menuju pulau rempah daripada harus mengitari tanjung harapan, ia yakin bahwa Cabot benar dengan berlayar ke arah barat menyeberangi Atlantik.

Masa muda Magellan pernah mengikuti ekspedisi pelayaran hingga ke Hindia Timur sebagai bangsawan (pada masa itu, ekspedisi-ekspedisi banyak dibiayai oleh kaum bangsawan yang bekerjasama dengan kaum pedagang). Tetapi karirnya sebagai bangsawan di Portugis hancur karena telah difitnah telah mengkhianati raja pada saat turut serta dalam operasi militer di Maroko. Oleh Raja Manuel, pengabdiannya kepada raja sudah tidak dibutuhkan lagi. Suatu keputusan yang sangat disesalkan kemudian, karena setelah tidak dibutuhkan lagi oleh Raja Portugis, ia pergi ke Istana Raja Charles V dari Spanyol untuk memberitahu sang raja bahwa satu-satunya gudang alam untuk pala dan bunga lawang terletak di Kepulauan Banda dan Maluku. Raja menyadari tawaran yang diberikan oleh Magellan merupakan peluang besar untuk mengalahkan dominasi Portugis dalam perdagangan rempah.

Berlayar ke selatan menuju samudara pasifik, 3 bulan kemudian armada Magellan telah mencapai garis pantai Amerika dengan menyebrangi garis khatulistiwa. Setelah mengisi perbekalan, armada ini melanjutkan pelayarannya melewati selat-selat yang sekarang ini disebut sebagai perairan hangat pasifik. Pelayaran menuju timur hanya menyisakan lautan luas yang tak terkira. Tiga bulan lebih terombang-ambing di tengah lautan luas tanpa sedikitpun melihat daratan membuat perbekalan yang tersisa habis, kelaparan melanda para awak kapal. Air tawar sudah membusuk, tepung dipenuhi dengan cacing, awak kapal terpaksa memakan kulit binatang yang digunakan untuk membungkus tali layar.

Setelah melewati masa-masa sulit selama berbulan-bulan, keberuntungan menyelimuti perjalanan Magellan, ia sampai di Filipina yang menjadi tempat peristirahatannya yang terakhir. Dihinggapi rasa putus asa untuk menemukan pulau rempah di tengah pelayaran yang tiada berkesudahan, Magellan justru melibatkan diri dalam perebutan kekuasan lokal di sana. Sayangnya, kelompok yang ia bela kalah dalam pertempuran yang juga telah merenggut nyawanya sendiri.

Kehilangan kapten kapal yang sangat berpengalaman dalam navigasi dan dianggap sebagai “cahaya, pemandu dan pendukung”, armada kapal magellan diteruskan oleh co-pilotnya, Sebastian Del Cano sebagai sang kapten. Pelayaran ini akhirnya sampai ke pulau rempah pada musim dingin tahun 1521. Tanpa  menyia-nyiakan kesempatan yang diperoleh dengan penuh perjuangan dan pengorbanan, armada yang tinggal 2 kapal ini, Trinidad dan Victoria, mengisi seluruh geladak kapal dengan timbunan dua puluh enam ton cengkih, satu kargo pala dan berkarung-karung kayu manis dan bunga lawang. Tetapi di tengah perjalanan pulang, Victoria harus mengucapkan perpisahan yang penuh air mata kepada awak kapal Trinidad yang mengalami kebocoran dan kerusakan kapal yang sangat parah sehingga tidak berlayar.

Sembilan bulan pasca menarik jangkar dari kepulauan rempah, Victoria menurunkan jangkarnya di pelabuhan Sevilla. Sambutan luar biasa diberikan kepada para awak kapal dan kapten kapal Del Cano. Medali penghargaan kepada kapten kapal dibuat dengan inspirasi dari cengkeh, pala dan bunga lawang.

Kisah perjalanan Fedinan Magellan ini dicatat oleh Antonio Pigafetta, ia mencatat secara detail perjalanan pelayaran Magellan ini hingga penyakit-penyakit yang menjangkiti kru kapal, bahkan mencatat makna kematian dari para awak kapal.

Dampak keberhasilan pelayaran Magellan membuat marah Portugis. Kehilangan monopoli perdagangan rempah oleh Spanyol, Portugis mempermasalahkan penguasaan Spanyol atas pulau-pulau rempah di timur. Dua abad sebelumnya berdasarkan traktat Tordesillas, Paus Alexander VI pernah menarik sebuah garis di tengah Atlantik yang terentang dari kutub Arktik hingga kutub Antartika.  Paus mengumumkan bahwa setiap daerah yang ditemukan di sebelah barat garis tersebut milik Spanyol, sedangkan di sebelah timur garis, milik Portugis. Mungkin traktat ini dapat dipastikan untuk daerah-daerah yang dekat dengan wilayah mereka, tetapi sangat sulit untuk memastikan pulau-pulau nan jauh di sana. Setelah 5 tahun bertikai memperebutkan klaim atas pulau rempah, Spanyol akhirnya mau untuk menghentikan klaimnya atas wilayah ini dengan pembayaran 350.000 dukat emas yang dibayarkan oleh raja Spanyol.

Tetapi kekuasaan Portugis atas pulau rempah tidak selesai dengan pembayaran emas tersebut. Ternyata muncul kekuatan lain yang juga mengincar harumnya aroma rempah-rempah. Inggris mulai menyiapkan ekspedisi-ekspedisi pelayaran ke pulau rempah berbekal jurnal-jurnal dan catatan harian dari para pelaut yang turut serta dalam ekspedisi Magellan. Bagaimana kisah para pelaut-pelaut inggris dan kemudian diikuti para pelaut belanda memperebutkan kuasa atas pulau rempah?

 

Syukron Salam, Peneliti Satjipto Rahardjo Institute; Pegiat Rumah Buku Simpul Semarang; dan Dosen Fakultas Hukum Unnes.

 

One thought on “Pala, Rempah Pembawa Bencana

Comments are closed.