Bagaimana Berita Menggiring Sikap Pembaca?

Bisnis-Kios-Koran-Majalah-Small

Ilustrasi dari probisnis.net

Oleh Rahmat Petuguran*

Selection dan saliance adalah dua istilah yang digunakan Robert Entman untuk menggambarkan teknik framing dalam penulisan berita. Menurutnya, framing dilakukan dengan dua langkah: penyeleksian dan penonjolan.

Framing sendiri, demikian kerap dipahami, adalah teknik yang dilakukan penulis berita untuk mengarahkan pembaca pada titik perhatian tertentu agar ia mengambil kesimpulan tertentu pula. Dalam framing, komunikator, teks, pembaca, dan konteks kultural berkait paut membentuk “makna”.

Bagi mahasiswa komunikasi hal semacam ini mungkin diperlajari di semester awal karena memang pengetahuan yang mendasar dan penting.

Framing ditawarkan Entman untuk melihat bahwa berita bukanlah sekadar berita. Di dalam berita, selalu ada kekuasaan yang ditanamkan (embedded) di dalamnya.

Seleksi nyaris selalu dilakukan penulis berita karena ia senantiasi mendapatkan informasi lebih banyak dari yang ditulisnya. Untuk memilih mana yang akan ditampilkan dalam berita, ia melakukan seleksi. Aktivitas seleksi ini bergantung pada penilaian personal si penulis: mana bagian yang dianggapnya penting dan mana yang tidak.

Dalam proses seleksi, pengetahuan, pengalaman, ideologi, dan worldview penulis berita sangat berpengaruh.

Selain melakukan seleksi, penulis berita juga melakukan penonjolan (penekanan). Ini dilakukan dengan tiga teknik: penempatan, pengulangan, dan kontekstualisasi pada kultur calon pembaca.

Baik seleksi maupun penekanan dilakukan untuk tiga tujuan: noticable, meaningful, dan memorable. Dengan dua teknik ini, si penulis berita beruapaya mempengaruhi pembaca, mana bagian yang harus diingat dana mana yang harus dilakukan.

Sebuah riset yang dilakukan Sniderman dkk (1991) menunjukkan, teknik framing ternyata efektif untuk mengarahkan simpulan dan sikap pembaca.

Dalam riset itu, Sniderman dkk menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Amerika mendukung para penederita AIDS ketika berita-berita tentang itu di-frame sebagai isu hak asasi manusia. Sebaliknya, mayoritas warga justru mendukung kewajiban tes bagi penderita AIDS ketika isu itu dituturkan sebagai isu kesehatan. Padahal, “dukungan kepada penderita AIDS” dan “dukungan kepada negara untuk menerapkan wajib tes” adalah dua sikap yang berseberangan.

Contoh lebih jelas ditunjukkan Kehneman dan Tversky (1984) dengan sebuah survei.

Ia bertanya kepada responden, jika ada sebuah bencana yang berptensi menelan 600 korban, opsi penyelamatan mana yang Anda pilih?

Opsi A dapat menyelamatkan 200 orang.
Opsi B mungkin akan menyelematkan semua, namun sekaligus berisiko membuat semua orang tidak terselamatkan.

Dengan frame pertanyaan seperti itu, 72 persen orang memilih opsi A. Hanya 28 persen responden yang memilih opsi B.

Peneliti kemudian menyodorkan pertanyaan yang sama namun dengan opsi yang di-frame berbeda.

Opsi C akan membuat 400 tidak terselamatkan.
Opsi D mungkin 600orang akan terselematkan namun mungkin pula semua tidak terselamatkan.

Hasilnya: 22 responden memilih opsi C dan 78 orang memilih opsi D. Padahal; opsi C adalah bentuk lain dari opsi A dan opsi D adalah bentuk lain dari opsi B.

Demikianlah framing sebuah berita – dan informasi secara keseluruhan – mempengaruhi sikap pembaca. Dengan agar sembrono bisa dikatakan: sikap dan simpulan seseroang terhadap sebuah isu sangat bergantung pada bagaimana para penulis berita menyajikannya. Meskipun, Entman mewanti-wanti: tidak selalu berlaku umum karena berkaitan dengan kultur audience.

* Rahmat Petuguran, pemimpin redaksi PORTALSEMARANG.COM