Pentingnya Belajar Logika yang Lurus

Jomblo sebelum nikah

Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang ketika diajak diskusi justru menjengkelkan karena tidak fokus, melebar ke mana-mana, dan berargumen tanpa dasar logika yang lurus? Pasti arahnya ke debat kusir yang tak menghasilkan apa-apa kecuali rasa jengkel dan sesal, ya jengkel dan sesal kok mengajak orang seperti itu diskusi.

Apa sebenarnya yang menjadikan orang-orang bertipe seperti itu?

Pertama, sudah pasti ia merasa sebagai pemegang kebenaran hingga pihak lain (baca: lawan bicara) pasti salah. Oleh karena itu pastinya ia akan ngeyel teguh pada pendapatnya walau tidak logis dan tidak punya bukti kuat. Kedua, ia pastinya orang yang lemah logika berpikirnya, atau sesat logika pikirnya. Mereka ini tidak pernah mendahului diskusi dengan memperjelas pengertian definisi dari hal yang didiskusikan, tidak paham premis mayor-minor, tidak paham keragaman konsep kebenaran, tidak paham kriteria kebenaran, dan tidak paham cara penarikan simpulan.

Mohon maaf saya banyak menggunakan kata “tidak paham” terlalu banyak.

Ada contoh yang sehari-hari dapat kita lihat beredar di dunia maya dan menjadi obrolan di kalangan remaja dan anak-anak muda. Misalnya semboyan “Tidak akan pacaran sebelum halal”, atau kampanye untuk pacaran setelah menikah saja, jangan pacaran sebelum menikah, dan sejenisnya. Mari kita kupas kesalahan logikanya sedikit saja di sini.

Kalau ada semboyan “Tidak akan pacaran sebelum halal”, maka artinya boleh saja pacaran kalau sudah halal. Nah, kapankah pacaran dihalalkan? Saya menduga bahwa semboyan ini dibawa dan dikampanyekan oleh para remaja dan mahasiswa kader dakwah-tarbiyah yang sebenarnya juga punya semboyan senada, misalnya “Indahnya pacaran setelah menikah”.

Kalau begitu pertanyaan “kapankah pacaran dihalalkan?” jawabnya adalah: setelah nikah. Karena kalau dijawab bahwa pacaran dihalalkan selain bukan setelah nikah maka pacaran bisa halal sebelum menikah. Dan pertanyaan berikutnya: kapankah/bilamanakah pacaran sebelum nikah dihalalkan? Jawabnya: pacaran sebelum nikah dihalalkan jika memenuhi syarat-syarat tertentu. Nah, apa syarat-syaratnya bisa kita bicarakan kemudian.

Sampai di sini kita bisa lihat bahwa semboyan tersebut tanpa didahului oleh perumusan definisi/pengertian yang jelas mengenai apa itu pacaran. Bisa jadi yang dimaksud dengan pacaran menurut si pembuat semboyan itu adalah: hubungan dua orang laki-laki dan perempuan yang diarahkan untuk memahami satu sama lain, kalau cocok lanjut ke pernikahan, kalau tidak cocok ya putus saja, biasanya dibumbui dengan aktivitas ngapel, bahkan bisa juga sampai grepe-grepe, ciuman, bercumbu rayu, hingga hamil.

Kalau definisi ini disepakati maka semboyan “tidak akan pacaran sebelum halal” dan “indahnya pacaran setelah menikah” menjadi batal. Mengapa? Karena kalau pacaran dilakukan dilakukan setelah menikah, maka kalau tidak cocok ya putus saja. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan menikah untuk menjadi keluarga yang Sakinah mawaddah wa rahmah. Dan putusnya pacaran beda dengan perceraian dalam pernikahan. Karena putus hubungan dalam pacaran tidak ada ikatan kuat sebelumnya, namun putusnya hubungan suami istri ada ikatan kuat sebelumnya dalam bentuk akad nikah. Jadi kalau pacaran setelah menikah maka konsekuensi logisnya adalah nikah yang tidak kuat ikatannya (baca: tidak ada akadnya) dan boleh putus nyambung, ya namanya juga pacaran. Dan contradictio in terminis, ini nikah atau pacaran? Mengapa? Karena nikah bukan pacaran, dan pacaran bukan nikah.

Sekali lagi saya tegaskan: kalau sepakat dengan semboyan “tidak akan pacaran sebelum halal” dan “indahnya pacaran setelah menikah” artinya sepakat untuk putus nyambung dalam menikah seperti pacarannya anak-anak SMP & SMA selama ini di masyarakat.

Oleh karena itu, sebaiknya kalau mau membuat semboyan mestinya dipahami dulu definisi konsep dan operasionalnya, dinalar pakai logika yang lurus dulu. Inilah susahnya kalau membuat semboyan tanpa bekal logika pikir yang lurus dan kokoh. Ketika orang yanpa bekal logika lurus dan kokoh maka ia akan cenderung sesat pikir-sesat logika. Ia akan susah paham bahkan kesalahan berpikirnya sendiri. Dan ini bahaya karena akan cenderung membawa pada pemahaman bahwa dirinya sudah benar, paling benar, dan pada akhirnya menyalahkan orang lain, serta ngeyel.

Dan kalau dilakukan oleh mahasiswa, maka ia akan susah mengembangkan ilmu pengetahuan ilmiah-akademik. Mengapa? Karena dasarnya pengembangan ilmu pengetahuan ilmiah-akademik adalah logika berpikir yang lurus dan kokoh. Inilah sekali lagi pentingnya belajar logika yang lurus dan kokoh, ya setidaknya agar tidak kelihatan bodoh di pergaulan intelektual.

Kasemin, peminat filsafat.

4 thoughts on “Pentingnya Belajar Logika yang Lurus

  1. kembali ke definisinya

    di KBBI definisi pacaran adalah “bercintaan; berkasih-kasihan”

    definisi “proses pengenalan calon untuk sampai ke jenjang pernikahan” itu adalah kasus pacaran yang terjadi di masyarakat, bukan definisi dari pacaran itu sendiri.

    jadi say no to pacaran sebelum nikah, hehe

    1. Definisi secara ilmiah di ilmu sosial dirumuskan berdasarkan pada fenomena sosial yang ada, oleh karena itu definisi KBBI tentang pacaran tidak memenuhi syarat ilmiah yang empiris dan logis, terima kasih komentarnya.

Comments are closed.