Doktor Ali, Panggil Aku Pak Ali Saja

ali masyhar
dosen-unnes-ujian-terbuka-s-3-fh-ugm-cV4TcNGf7F
sumber: news.ekozone.com

Oleh Muhtar Said*

Doktor adalah gelar akademik yang paling puncak. Menandakan, orang yang mendapat gelar itu adalah pemikir agung. Daya pikirnya sudah tidak perlu diragukan lagi, karya-karyanya tidak patut diragukan dan pendapatnya sudah bisa dijadikan doktrin, bahkan dalam dunia hukum, perkataan yang keluar dari mulut sang Doktor sudah bisa dijadikan sebagai sumber hukum, bisa dijadikan rujukan oleh hakim dalam memutus perkara dan lain sebagainya.[1]

Kemarin, tanggal 06 oktober 2015 kampus agung, Universitas Gadjah Mada (UGM) telah melahirkan seorang Doktor, yang bernama Ali Masyhar. Ali Masyhar berasal dari golongan rakyat kecil dari pinggiran Kota Wali, Demak, sekarang juga dilahirkan sebagai Doktor oleh kampus yang dulunya dibangun oleh orang-orang pribumi. Mr. Sundoro Budhyarto Martoatmodjo, adalah penggagas dan orang yang memberikan nama Gadjah Mada di kampus itu. Kebetulan saya adalah orang yang meneliti dan menulis pemikiran Mr. Sundoro Budhyarto Martoatmodjo (pertengahan Oktober bukunya akan terbit). Dulu pada tahun 1946 (Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada) kampus itu didirikan sebagai upaya untuk mendidik rakyat kecil yang ingin menambah ilmunya.

Hingar bingar pemikiran yang diuraikan oleh Ali Masyhar pada waktu sidang terbuka, terdengar dimana-mana, bahkan para murid dan koleganya yang berada di padepokan Gunungpati (Unnes,Semarang) juga bergembira ria menyambut penobatan itu. Beberapa uang mereka sisihkan untuk membuat karangan bunga, beberapa uang mereka sisihkan untuk bekal ke Yogyakarta. Itu adalah bentuk pengorbanan, mengingat rupiah yang masih terus melemah. Begitulah para murid-murid militan, berkorban demi Sang Guru.

Beruntung sekali diriku sebagai orang “alay” dalam dunia facebook, sehingga saya bisa mengetahui bahwa Ali Masyhar telah mendapatkan predikat Doktor. Ali Masyhar adalah guruku, para kalangan orang-orang “nakal” yang pernah menimba ilmu denganya sering menyebutnya sebagai “Sang Guru”. Iyaaa, dia adalah guru dari segalanya, guru dalam ilmu pengetahuan, guru spritual, guru aktivis dan guru dalam menggoda wanita (dulu saat masih bujang), ha ha ha.

Sang guru sudah naik drajatnya dalam dunia akademik, jubah Doktor sudah melekat dalam tubuhnya, kemana-mana akan terus dipanggil dengan “Pak Doktor”. Silahkan “Pak Doktor memberikan sanggahan”, “silahkan Pak Doktor duduk di paling depan”, “Menurut Doktor Ali, hukum adalah bla bla bla”, begitulah banyangan (lebay) saya, saat membanyangkan Sang Guru datang ke forum-forum ilmiah maupun tidak ilmiah, semacam tahlilan, yasinan dan sebagainya.

Pak Ali

Ahhh..sudah pasti prasangka – prasangka itu jauh dari kenyataan, karena Sang Guru bukanlah tipe seperti itu. Memandang Ali Masyhar tidak boleh memandang pada satu momen saja, memandang Ali Masyhar tidak boleh saat dirinya diberi gelar Doktor, namun tengoklah juga, sebelum itu. Begitulah juga gaya pikir anak-anak dari fakultas hukum dan juga anak didik Ali Masyhar, harus membedah sampai akar rumput, seperti saat Jaksa Agung menuntut Muhammad Yamin. Jaksa, tidak hanya berpatokan pada saat tanggal 3 Juli, saat Yamin dan teman-temannya melakukan “makar” terhadap Sjahrir. Tetapi Jaksa memandang jauh kebelakang, sampai kepada ajaran gurunya Yamin, yakni Tan Malaka.[2]

Menjadi saksi hidup pergerakan Ali Masyhar adalah suatu kebahagian, karena aku pernah banyak waktu dengannya, menemaninya menengok kebun, menemaninya tidur dirumahnya yang pada waktu itu beralaskan tikar, sampai dengan aku hampir muntah-muntah saat Pak Ali terus-menerus  memutar lagu Malaysia. Pak Ali adalah penggemar lagu-lagu Malaysia, sedangkan aku adalah penggemar dangdut koplo, he he he.

Bahkan, kreativitasku sekarang sebagai dosen, peneliti dan penulis(amatiran) adalah hasil didikannya. Bahkan, sampai saat ini aku belum menemukan seorang dosen yang sering main ke kos mahasiswanya, hanya sekedar diskusi. Kelihatanya perilaku seperti itu sangat mudah, namun itu adalah sesuatu yang sulit dan butuh keberanian dalam melaksanakan. Aku pernah melaksanakan itu saat menjadi Dosen (illegal) di Fakultas Hukum yang juga almamaterku. Dekat dengan mahasiswa, menemani mahasiswa berdiskusi adalah pekerjaan berat. Selain mengeluarkan banyak tenaga harus rela juga diawasi oleh berbagai macam orang, karena banyak yang masih beranggapan diskusi adalah bentuk makar.

Antonio Gramcy, pernah memberikan fatwanya, episteme-episteme (diskusi) kecil diluar sistem adalah kekuatan sebenarnya. Di dalam forum itu orang datang dengan suka rela, tanpa di iming-imingi nilai. Mereka datang murni karena kegelisahan serta haus akan ilmu pengetahuan, tradisi seperti ini akan melahirkan aktor-aktor yang militan. Tetapi banyak juga yang tidak percaya model seperti ini. Namun, Pak Ali adalah sebagian kecil orang yang mempercayai metode gerakan seperti ini, sehingga banyak aktivis dan intelektual yang lahir karena tangan dinginnya. Aku termasuk orang yang dicetaknya sebagai seorang aktivis, namun aku tidak bisa mengikuti jejaknya sebagai pakar hukum pidana.

Melihat gaya hidupnya (sebelum mendapatkan gelar Doktor), aku yakin sikap dan tingkah Pak Ali tidak akan berubah. Apabila di dalam forum ada yang menyambutnya dengan kata  “Pak Doktor”. Silahkan “Pak Doktor memberikan sanggahan”, “silahkan Pak Doktor duduk di paling depan”, Pak Ali akan mengatakan “Panggil aku dengan Pak Ali saja”.

Demikianlah tulisan kecil ini aku tulis dengan perasaan yang jujur, di dalam kamar pojok atas, markas kebudayaan hukum Tebet, Jakarta Selatan. Saya tidak bisa menghadiri pengukuhan doktor Pak Ali, karena saya tidak tahu, saya tidak bisa memberikan karangan bunga, karena rupiah sedang tertindas, oleh karena itu saya hanya bisa menuliskan untaian kata dan hanya bisa berdoa, semoga ilmu Pak Ali berkah. Alfatihah.

Salam Takdzim dari muridmu Pak Ali.

*Muhtar Said-Tinggal di Jakarta dan pegiat di Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS)

[1] Meskipun banyak juga yang membedakan sumber hukum sebagai kenbron dan sumber hukum sebagai welbron. Kenbron, sumber hukum yang digunakan untuk mengetahui atau mengenal sesuatu, sedangkan welbron, yakni sumber hukum yang sebenarnya. Bahkan kalau di jelaskan secara detail, sumber hukum itu berbeda-beda, sesuai dengan topik atau kasusnya. Ahli sejarah itu berbeda pendepat dengan ahli sosiologi dan antropologi terkait dengan sumber hukum. Ahli sejarah memandang sumber hukum adalah undang-undang atau dokumen lain yang bernilai undang-undang, sedangkan bagi ahli sosiologi dan antrpologi, sumber hukum justru adalah masyarakat seluruhnya. Baca Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Gramedia, Jakarta, 2006 hlm 2010

[2] Muhammad Yamin, Sapta Darma, (cet 2) Djakarta, 1957 hlm 15-16