Belajar tentang Islam Berangkat dari Pertanyaan

Foto2823
Foto2823
Gambar koleksi pribadi

Oleh Edi Subkhan*

Salah satu takdir Allah yang memaksa saya untuk belajar lagi lebih dalam tentang Islam selain mendapat istri yang sarjana Hukum Islam (baca: Syari’ah) adalah ketika memperoleh tanggung jawab sebagai pengajar Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk mahasiswa baru. Pepatah bijak konon menyatakan bahwa salah satu cara belajar terbaik adalah dengan mengajar. Hikmahnya barangkali dengan mengajar maka kita dipaksa untuk mempelajari materi yang akan kita ajarkan. Kalau tidak, jelas kita tidak akan mengajar dengan baik karena tidak menguasai materi. Dan saya bersyukur kepada Allah yang telah memperjalankan hingga memposisikan saya untuk kembali belajar tentang Islam.

Di kelas yang saya ampu, pada pertemuan pertama pasti saya selalu katakan bahwa saya bukan sarjana Islam yang belajar secara resmi di Universitas Islam atau Sekolah Tinggi Agama Islam misalnya. Saya sekadar amatir pelajar ilmu-ilmu keislaman secara informal di madrasah dan pesantren. Itu pun tidak begitu lama dan juga rasanya saya tetap belum tahu banyak sampai sekarang. Dengan begitu saya katakan juga pada mahasiswa bahwa kalau ada pertanyaan yang saya tidak dapat menjawab, artinya saya sedang perlu waktu untuk bertanya pada orang-orang yang lebih ‘alim tentang Islam dan juga butuh waktu membuka lembaran-lembaran buku tentang keislaman.

Saya tidak tahu persis apakah dengan deklarasi tersebut mahasiswa jadi ragu dengan pemahaman keilmuan Islam saya atau tidak. Dan saya pribadi juga tidak peduli dengan itu, yang penting adalah bagaimana dapat memberikan pengalaman belajar pengetahuan dan nilai-nilai Islam pada mahasiswa dengan baik. Sayangnya saya bukanlah tipe orang yang bersedia mengajar mengikuti buku teks baku dari kampus begitu saja. Ketika saya ketahui ada hal-hal yang kurang di buku teks tersebut, padahal hal itu penting untuk dipelajari oleh mahasiswa maka saya mencoba untuk mengembangkan skenario perkuliahan yang agak berbeda dari daftar isi di buku teks PAI kampus.

Beberapa hal yang saya anggap kurang dan tidak terdapat di buku teks adalah: mengenal konstelasi kultur Islam di kampus. Termasuk urgensi mengenal beberapa aliran, organisasi, yang kental membawa tradisi pemikiran dan ritual keislaman tertentu. Saya teringat pada simpulan dari skripsi yang saya buat di tahun 2007 dulu bahwa lokus yang paling memengaruhi religiusitas mahasiswa Islam di kampus justru bukan mata kuliah PAI, melainkan keberadaan organisasi-organisasi mahasiswa keislaman di kampus seperti Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI), kerohanian Islam (Rohis) fakultas dan jurusan, juga organisasi ekstra kampus seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gerakan Mahasiswa Pembebasan, IPNU-IPPNU, dan lainnya.

Selain itu juga pengenalan terhadap ragam firqah Islam dari masa klasik hingga kontemporer, seperti Syi’ah, Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir (HT), Jama’ah Tabligh (JT), Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU).

Dengan pendekatan pedagogi kritis (critical pedagogy) yang saya lakukan bukan menceramahi mahasiswa mengenai sejarah, ideologi, dan gerakan dari beberapa organisasi keislaman tersebut. Melainkan meminta mereka untuk observasi dan interviu ke para mahasiswa pentolan organisasi ekstra kampus keislaman tersebut, sedangkan untuk materi yang membahas Muhammadiyah, NU, HT, dan sejenisnya saya minta mahasiswa untuk mencari referensi di internet, buku-buku di perpustakaan dan lainnya. Hasilnya bagi saya tidak terlalu mengecewakan, walau dengan kemampuan literasi yang masih minim, misal lebih banyak sekadar mengutip dari internet dan relatif minim referensi dari buku-buku namun setidaknya mereka mulai mencari informasi untuk dibagi di kelas. Beberapa kelompok yang tidak melakukan observasi atau interviu pada organisasi ekstra kampus yang menjadi jatah presentasi mereka saya minta untuk presentasi ulang dengan keharusan mereka observasi dan interviu langsung.

Materi-materi yang terdapat di buku baku PAI kampus pun saya arahkan untuk dibahas secara kontekstual dengan hal-hal yang riil terjadi di sekitar mahasiswa. Yakni dengan membahas beberapa problem umat Islam yang sebagian jawabannya terdapat di buku resmi kampus tersebut dan sebagian jawaban lainnya dapat ditelusuri pada beberapa referensi lain. Apa yang saya lakukan pada semester gasal tahun lalu (2014) tersebut saya coba kembali dengan modifikasi lebih lanjut untuk mahasiswa baru peserta mata kuliah PAI tahun 2015 sekarang. Caranya: pada pertemuan awal setelah perkenalan yang banyak makan waktu mengakrabkan diri, saya minta mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan secara lisan dan tulisan berkaitan dengan keislaman. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang saya kategorisasikan untuk dikaji dan dipresentasikan oleh mahasiswa secara kolektif/berkelompok.

Sekilas hal-hal yang ditanyakan mulai dari mengapa muncul terorisme atas nama Islam oleh ISIS, mengapa terdapat konflik dan keragaman pemahaman keislaman di tubuh umat Islam, bagaimana hukum nikah beda agama, hukum berjilbab, mengucapkan selamat hari raya bagi umat beragama lain, tradisi mendoakan orang wafat pada waktu 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari di Jawa, mengapa Syi’ah dihukumi sesat, juga tentang syirik, bid’ah, dan lainnya. Beberapa pertanyaan yang relatif sejenis saya kategorisasikan jadi satu untuk dikaji dan dipresentasikan oleh satu kelompok. Sementara itu hal-hal yang terdapat pada buku teks dan juga saya anggap penting namun tidak ditanyakan mahasiswa juga saya kemukakan untuk dikaji dan dipresentasikan oleh mahasiswa, yaitu tentang respons umat Islam terhadap modernitas dan tanggung jawab intelektual muslim.

Dengan demikian setidaknya mahasiswa tidak sekadar mempresentasikan materi yang terdapat di buku resmi PAI kampus, melainkan juga mencari informasi, pengetahuan, untuk tujuan praktis menjawab beberapa pertanyaan yang sudah dikemukakan di kelas. Bisa jadi sebagai mahasiswa baru akan kesulitan mencari referensi, misal sekadar mencari di internet atau bisa juga tidak tuntas menjawab pertanyaan dengan dasar dan argumen yang kuat. Jika hal tersebut terjadi tentu mahasiswa perlu dibantu untuk menjawab dengan baik dan benar, termasuk kalau perlu mengarahkan untuk membaca referensi-referensi tertentu yang belum sempat dibuka oleh mereka. Bagi saya mahasiswa mengulang presentasi bukan hal yang tabu, terlebih ketika hasil presentasinya kurang memuaskan. Mengulang mengerjakan presentasi merupakan upaya mengajarkan pada mereka mengenai kejujuran, keuletan, istiqomah, juga keketatan dalam mengambil referensi dan argumen.

Konsekuensinya tentu presentasi kelompok berikutnya menjadi tertunda. Namun hal itu tidak masalah, improvisasi dapat dilakukan sesuai kondisi dan kebutuhan kelas perkuliahan. Dalam hal ini saya termasuk penganut pengembangan kurikulum dan skenario perkuliahan by process, bukan by objective dan/atau by design yang tabu adanya improvisasi di kelas. Karena praktik perkuliahan hampir selalu menghadirkan hal-hal yang tidak sepenuhnya dapat kita prediksi sebelumnya, hal itulah yang menjadikan desain skenario perkuliahan awal sepatutnya memaklumi perubahan dan improvisasi praktik perkuliahan. Hal yang sama juga relatif saya terapkan untuk semua mata kuliah yang saya ampu. Wallahua’lam.

* Edi Subkhan, dosen FIP Unnes, pengelola Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS).