Indahnya Dakwah Walisongo

islam-nusantara
(sumber: atlaswalisongo.com)

Oleh Exsan Ali Setyonugroho*

Indonesia merupakan negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, dengan jumlah sekitar 205 juta jiwa[1]. Apa yang membuat Indonesia bisa menerima Islam sampai demikian, sehingga menjadi negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Padahal menurut inskripsi sejarah, islam mulai masuk ke nusantara tidak mudah begitu saja.

Agus Sunyoto dalam buku Atlas Walisongo mengatakan ada rentang 800-an tahun islam sulit berkembang di nusantara setelah pertama kali masuk pada abad ke-7 M menurut catatan Dinasti Tang. Lantas, bagaimana islam dapat berkembang di Indonesia yang sekarang merupakan negara dengan penduduk islam terbesar? Siapa orang-orang yang mengembangkannya? Bagaimana teknik perkembangannya? Tulisan ini akan mencoba menjelaskan terkait pertanyaan-pertanyaan tersebut satu demi satu. Meskipun banyak sekali kekurangannya, semoga bisa menjawab.

Dakwah Islam di Nusantara Pra Walisongo

Berikut catatan terkait masuknya Islam di Nusantara sebelum era walisongo:

  1. Islam pertama kali masuk ke nusantara secara individu terjadi pada tahun 674 M ketika saudagar arab yang beragama islam mengunjungi Kerajaan Kalingga. Peristiwa ini telah dicatat oleh penulis dari Dinasti Tang Cina.
  2. Pada abad ke-10 ada rombongan keluarga dari Persia (Islam) ke Jawa dan tinggal di salah satu tempat yang kemudian disebut dengan Loram atau Leran yang sekarang tempat-tempat tersebut masih banyak ditemukan di Kudus, Rembang, Gresik, dll. Namun terkait orang islam yang datang tersebut tidak ada ceritanya lagi.
  3. Menurut catatan Jawa[2], dalam usaha mengislamkan Jawa, Sultan Al-Ghabah dari Negeri Rum (daerah Persia) mengirim 200.000 keluarga muslim ke Jawa. Mereka singgah dan tinggal di Pegunungan Kendheng. Namun, banyak diantara mereka yang tewas terbunuh, dan yang tersisa hanya 200 keluarga. Dikisahkan Sultan Al-Ghabah marah dan mengutus orang-orang sakti untuk mengusir jin atau siluman penghuni jawa. Tokoh yang terkenal adalah Syekh Subakir yang dikenal sebagai orang numbali Pulau Jawa. Buktinya adanya petilasan Syekh Subakir yang berbentuk makam panjang, yang dahulunya merupakan tanah yang ditanam oleh Syekh Subakir ditempat yang dianggap angker.
  4. Adanya makam Fatimah Binti Maimun tertulis angka 475H/1082 M terletak di Dusun Leran, Desa Pesucian, Kecamatan Manyar, kabupaten Gresik juga berhubungan dengan migrasi suku Lor Persia yang datang ke Jawa abad ke-10 M atau bisa disimpulkan Fatimah binti Maimun bukanlah orang asli Jawa yang beragama islam. Dan pada zaman dahulu memang di sekitar makam Fatimah binti Maimun terkenal dengan permukiman orang-orang asing bukan orang pribumi. Setelah itu, pada masa Singasari di tempat itulah orang-orang syiwa-buddha menjadikan tempat tersebut sebagai tempat keramat. Itu merupakan bukti bahwa komunitas agama islam sudah hilang dan tak diterima oleh penduduk pribumi.
  5. Kemudian ada catatan dari perjalanan Marcopolo pada tahun 1292 M, Marcopolo saat kembali dari Cina ke Eropa melalui jalur laut dan singgah di Perlak, Aceh. Catatan perjalanan Marcopolo menyatakan bahwa penduduk di Perlak ada tiga macam; pertama penduduk Arab, Persia dan India yang beragama Islam yang ada di perkotaan; kedua penduduk Cina yang juga beragama islam; dan ketiga penduduk pribumi yang masih memuja arwah, pohon-, dan batu-batu besar, bahkan di daerah pedalaman penduduk pribumi memakan daging manusia atau
  6. Pada tahun 1405 M, pelaut asal Cina Laksamana Ceng Ho dalam perjalanannya pertama singgah ke Jawa menemukan komunitas muslim Cina di Gresik, Tuban dan Surabaya (sekarang) masing-masing seribu keluarga[3]. Namun penduduk pribumi masih belum bergama islam.
  7. Kunjungan Ceng Ho selanjutnya pada tahun 1433 M berhasil dicatat oleh juru tulisnya Haji Ma Huan. Ma Huan mencatat bahwa di Pantai Utara Jawa terdapat tiga golongan penduduk: orang muslim Thionghoa, orang-orang muslim barat (India, Arab, Persia), dan penduduk pribumi yang masih menyembah berhala dan roh-roh[4].
  8. Meskipun pada abad ke-14 M tercatat di makam Tralaya ada penganut muslim di Majapahit (Sekarang Mojokerto). Namun kedaan ini hanya terjadi di lingkungan kraton saja itupun sebagian kecil yang menganut. Dan penduduk pribumi masih menganut agama leluhur yang disebut sebagai Agama Kapitayan[5].

Secara umum terdapat kesulitan dari para penyebar islam di Nusantara setelah masuknya pada abad ke-7 M sampai tahun 1433 M sesuai catatan Haji Ma Huan. Ada rentang sekitar 800 tahun islam sulit diterima oleh penduduk pribumi nusantara. Serta belum ada bentuk perkumpulan orang islam secara konstitusi oleh penduduk pribumi. Analisis Agus Sunyoto bahwa metode yang digunakan belum mampu memberikan suntikan ketertarikan penduduk pribumi dengan islam. Baru pada abad ke-15 datang seorang tokoh yang terkenal dengan nama Raden Rahmat-setelahnya dikenal sebagai Sunan Ampel-yang kemudian membentuk suatu perkumpulan pendakwah islam dengan nama Walisongo. Dengan metode yang mampu menyelaraskan berbagai bentuk kebudayaan sehingga mampu menarik penduduk pribumi secara masif, inilah metode dakwah walisongo yang sangat berperan penting dalam penyebaran islam di Nusantara.

Bukti Dakwah Walisongo

Setelah catatan terakhir dari juru tulis Cheng Ho yakni Haji Ma Huan pada 1433 M, menerangkan penduduk asli jawa atau pribumi masih beragama Hindu-Budha maupun kapitayan. Selanjutnya ada catatan atau bukti sejarah yang mengatakan bahwa islam telah mampu diterima oleh penduduk pribumi nusantara, antara lain:

  1. Tahun 1515 M datang pelaut bernama Tome Pires, ia mencatat bahwa di sepanjang pantai utara Jawa penguasa-penguasa pribumi telah beragama islam.
  2. Tahun 1522 M datang juga seorang Italia bernama Antonio Pigafetta mengatakan hal yang sama dengan Tome Poires.

Dalam dua catatan tersebut bisa diartikan bahwa telah terjadi pengislaman yang sangat cepat di Jawa. Pada tahun 1433 M Ma Huan mencatat penduduk pribumi masih kafir dan  82 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1515 M Tome Pires mengatakan di sepanjang pantai utara Jawa adipati dan penduduknya muslim. Bagaimana cara pengislaman yang begitu masif itu bisa diterima oleh penduduk pribumi dan para pemimpinnya yang hanya sekitar 82 tahun tersebut. Padahal berbagai bukti sejarah mencacat dalam rentang 800-an tahun sejak islam masuk di nusantara islam sulit berkembang dari abad ke-7 sampai abad ke-15 Masehi. Inilah yang kemudian membuat para sejarwan dunia merasa terheran-heran seperti M.C. Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 mengatakan “Penyebaran Islam merupakan salah satu proses yang sangat penting dalam sejarah Indonesia, tapi juga yang paling tidak jelas (membingungkan)”

Adalah Syaikh Ibrahim As-Samarkandi yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Raden Rahmat atau Sunan Ampel datang ke Jawa dari Campa (Vietnam) pada tahun 1470 bersama saudaranya Ali Murtadho dan Abu Hurairah (Raden Burereh). Raden Rahmat datang ke Majapahit dan diterima oleh Prabu Brawijaya karena bibinya telah diperistri oleh Raja Majapahit tersebut. Menurut H.J. De Grraf & Th.G. Th. Pigeaud[6], kemudian Raden Rahmat diangkat menjadi imam masjid di Surabaya oleh Prabu Brawijaya dan diberi izin untuk tinggal dan menetap di Ampel, yang kemudian berhasil dibangun pesantren Ampel Denta. Raden Rahmat tentu tidak sendirian, ia disertai keluarga-keluarga yang diserahkan oleh Majapahit.

Setelah berkembangnya waktu, dakwah islam yang dilakukan oleh Raden Rahmat di Ampel sangat maju pesat. Bahkan menurut buku sedjarah Regent Soerabaja, mencatat bahwa Raden Rahmat alias Sunan Ampel adalah bupati pertama Surabaya (punika penjenengan ing kabupaten surapringga, kanjeng sinuhun Ngampeldenta, name pangeran rahmat, juluk she mahdum, seda kasareaken ing ngampel).

Raden Rahmat ini kemudian mempunyai anak yang kemudian dikenal  Sunan Bonang dan murid yang dikenal dengan sebutan Sunan Giri dan Raden Patah. Kemudian munculah istilah Walisongo setelah banyak para wali yang muncul setelah dakwah dari Sunan Ampel (Raden Rahmat). Usaha dakwah yang dilakukan Sunan Ampel adalah membentuk jaringan kekerabatan melalui perkawinan-perkawinan para penyebar islam dengan putri-putri penguasa bawahan Majapahit. Dengan cara itu ikatan umat islam menjadi kuat dan berkembang secara masif. Hal itu bertambah masif ditambah dengan dakwah yang dilakukan oleh para wali lain yakni: Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Gunungjati, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Muria dan Syaikh Siti Jenar. Para wali tersebut menggunakan metode dakwah yang lain dari metode sebelumnya (pra-walisongo), mereka berhasil memadukan kebudayaan nusantara dengan agama islam dengan cerdas dan melegenda.

Sebagai contoh yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dalam dakwah islam. Beliau menggunakan metode pertunjukan wayang. Karena wayang merupakan kesenian yang sangat digemari oleh penduduk jawa pada saat itu, sehingga Sunan Kalijaga memanfaatkannya untuk usaha pengislaman. Cerita yang dibawakan masih seputar Mahabarata maupun Ramayana namun tokoh dan alur cerita disisipi dengan ajaran islam. Dalam melakukan pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga yang berperan sebagai dalang tidak meminta imbalan berupa uang atau makanan, namun cukup meminta semua penonton untuk membaca kalimat Syahadat sebagai syarat uatama masuk islam.

Keindahan Dakwah Walisongo

Proses Islamisasi di Nusantara menggunakan asimilasi dan bahkan sinkretisasi ajaran agama tanpa mengurangi esensitas agama itu sendiri. Hal itu terjadi ketika islam disiarkan oleh para ulama tasawuf (walisongo) yang sangat longgar dalam menyampaikan pemahaman agama kepada masyarakat dibanding ulama fiqih yang cenderung skripturalis. Oleh karena itu, James L. Peacock menyatakan bahwa islam yang datang di Nusantara adalah islam sufi yang indah dan halus yang dengan mudah diterima serta diserap ke dalam sinkretisme[7].

Islam Nusantara yang telah dipondasikan oleh walisongo merupakan islam yang khas. Dalam ranah sejarah merupakan islam yang dibangun di atas pluralitas dan multikulkturalitas agama-agama dan budaya antarbangsa yang berbeda satu sama lain. Ke-bineka-an adalah keniscayaan dari tradisi keagamaan di nusantara yang mengacu pada prinsip ushuliyah mempertahankan nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik. Dalam hal itu Islam Nusantara tumbuh dan berkembang dalam eksistensinya di tengah arus sejarah peradaban manusia sampai saat ini.

Sebagai peletak dasar Islam Nusantara, Walisongo mampu hadir dengan pendekatan halus dan diterima oleh masyarakat lokal saat berdakwah menyebarkan agama islam. Walisongo tidak meninggalkan satu elemen apapun dalam berdakwah, artinya memiliki kelengkapan dalam dakwahnya. Seperti bidang pendidikan, budaya, seni, ilmu pengetahuan, pemerintahan, kekeluargaan dll. Ciri dakwah walisongo adalah menempatkan keindahan dalam posisi sangat penting. Kemudian muncul berbagai adat yang masih menggambarkan Majapahit hingga Agama Kapitayan dalam kebiasaan muslim jawa. Inilah keistimewaan walisongo dalam berdakwah sehingga mudah diterima oleh masyarakat banyak.

Inilah kemudian sampai sekarang islam nusantara mampu memberikan ciri khas tersendiri dibanding islam di negera-negara lain. Islam Nusantara bersifat inklusif yang mempu terbuka dan bersifat sejuk dan menyejukan. Itulah sebabnya, banyak dari kalangan pribumi terdahulu mampu terpengaruh dakwah para wali untuk masuk islam. Mereka masuk islam bukan karena keterpaksaan namun karena keinginan pribadi. Islamisasi di nusantara mencirikan kedamaian dan kesejukan berbeda dengan islamisasi di negara-negara lain, sebagai contoh dalam sejarah di India dalam proses islamisasi banyak pertumpahan darah.

Metode dakwah walisongo sangat relevan jika diterapkan di zaman sekarang. Metode dengan penuh kedamaian tersebut sangat diperlukan dalam menghadapi kondisi negeri yang banyak diterpa masalah ke-bineka-an dan ancaman meruntuhkan NKRI. Karena metode walisongo sejatinya mampu memberikan suntikan moral untuk hidup rukun bersama demi terciptanya negara yang makmur dan sejahtera tanpa merendahkan dan merasa paling benar sendiri diantara kelompok yang berbeda. Apabila walisongo dahulu saat berdakwah langsung mendakwa yang belum islam itu sesat bahkan kafir dan kemudian diperanginya dengan kekerasan, Apakah Islam bisa membumi di Nusantara sampai saat ini?

* Exsan Ali Setyonugroho, Mahasiswa Sejarah, FIS, Unnes, tinggal di Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS)

[1] The Pew Forum on Religion & Public Life pada tahun 2010

[2] Baca Hitoriografi Jawa yang ditulis R. Tanoyo

[3] Pendapat Groeneveldt

[4] Menurut Fr. Hirth & W.W. Rockhill dalam karya Chau Ju-Kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfh and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fab-chi

[5] Menurut Louis-Charles Damais dalam Etudes Javanaises I: Les Tombes Musulmanes Datees de Tralaya

[6] Buku berjudul kerajaan-kerajaan islam di jawa: peralihan dari majapahit ke mataram (1986)

[7] Agus Sunyoto, “Sufi Ndeso VS Wahabi Kota”, hlm. 45