Ayo Mondok, dan Jadilah Santri yang ‘Alim dan Tawadlu’

Jumatan-tebuireng
Jumatan-tebuireng
Para Santri di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, yang Didirikan oleh Hadratusy Syaikh Hasyim ‘Asy’ari, pendiri Nahdlatul ‘Ulama (gambar dari: tebuireng.org)

Oleh Edi Subkhan*

Salah satu gerakan yang diresmikan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) jelang Muktamar ke-33 di Jombang adalah Ayo Mondok (dengan hastag #Ayo Mondok yang sempat merajai dunia twitter). Namun gerakan ini tidak hanya mendapat sambutan positif, sayangnya gerakan ini mendapat respons negatif dari beberapa pihak yang bisa jadi merasa dirugikan jika gerakan ini membesar dan berhasil.

Secara resmi gerakan ini diinisiasi oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Gerakan ini secara umum lahir dari keprihatinan terhadap generasi muda muslim yang mengalami degradasi moral dan etika. Selain itu juga didorong oleh upaya untuk terus menjaga keutuhan bangsa Indonesia melalui perawatan Islam yang berwajah ramah. Hal tersebut disebabkan oleh fakta akhir-akhir ini banyak muncul Islam yang berwajah tidak ramah, sering bertindak kekerasan, dan tidak mentoleransi perbedaan.

Pondok pesantren menjadi pilihan utama karena fakta sejarah di Indonesia menunjukkan bahwa selama ini kaum Santri adalah pembawa Islam rahmatan lil ‘alamin, yakni Islam yang membawa kedamaian, penjaga gawang konsep dan praktik ummatan wasathan (moderat). Model dakwah yang menggunakan strategi kebudayaan sebagaimana dicontohkan oleh Wali Songo banyak diadopsi oleh para Kyai dan Santri untuk menyemai benih Islam di Nusantara. Bukan model gerakan Islam yang justru bertampang sangar berkarakter menakut-nakuti orang banyak.

Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratusy Syaikh Hasyim ‘Asy’ari (pendiri NU) juga merupakan salah satu bukti keikutsertaan kaum Santri dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Hal-hal itulah yang terutama menjadi pertimbangan perlunya gerakan Ayo Mondok digalakkan sebagai penjaga keutuhan bangsa dan negara serta penyebar Islam rahmatan lil ‘alamin di Indonesia. Lalu, di tengah era modern sekarang ini apa untungnya belajar di pesantren (baca: mondok)?

Belajar menjadi ‘Alim

Belajar di pondok pesantren jelas menguntungkan dilihat dari beberapa sisi. Pertama para Santri diarahkan untuk menjadi pencari ilmu dan kemudian menjadi berilmu atau ‘alim. Pada pesantren Salaf (bukan Salafi, Salafi merupakan identitas gerakan tersendiri yang berbeda dari konsep Salaf di dunia pesantren) menjadi Santri yang berilmu artinya mumpuni dalam pengetahuan-pengetahuan agama Islam. Mulai dari fiqh, tafsir, hadits, tasawuf, tajwid, dan lainnya. Makna yang lebih luas dari ‘alim tentu adalah berilmu tidak hanya ilmu agama Islam, melainkan juga ilmu-ilmu penunjang kehidupan di masyarakat.

Oleh karena itu, banyak yayasan pengelola pesantren juga mendirikan kursus atau sekolah-sekolah formal untuk memberikan bekal pengetahuan umum bagi para Santrinya. Namun bukan berarti di pesantren Salaf pengetahuan umum tidak diberikan. Hanya saja pengetahuan umum yang diberikan tidak dalam kategori pengetahuan akademik, melainkan pengetahuan praktis untuk hidup. Misalnya beternak, bertani, dan sejenisnya. Kurikulumnya pun tidak baku, melainkan mengalir begitu saja.

Nah, hal yang membedakan konsep berilmu/’alim dalam dunia pesantren dengan konsep berilmu di dunia pendidikan formal adalah pada kedalaman maknanya. Kalau di dunia pendidikan formal seseorang dikatakan berilmu dilihat dari skor nilai rapor, indeks prestasi (IP), atau menang kompetisi lomba tertentu, maka di pesantren berbeda. Dunia pesantren melabeli seorang Santri sebagai berilmu/’alim jika ia menguasai ilmu pengetahuan secara mendalam, sekaligus ia berbudi pekerti unggul.

Hal inilah yang menjadi problem di pendidikan modern sekarang ini. Banyak siswa cerdas, pintar, dan kritis, namun jongkok EQ dan SQ-nya (emotional quotien, spiritual quotient, & social quotient). Ketika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) di bawah M. Nuh mencanangkan pendidikan karakter, sejatinya dunia pesantren sejak dulu sudah membelajarkan karakter mulia (akhlaqul karimah) pada para Santrinya. Sistem pondok yang dijadwal secara sistematis dan terjaga aktivitas para Santrinya adalah hal penting yang dapat menempa para Santri menjadi ‘alim.

Belajar menjadi Tawadlu’

Menjadi Santri artinya juga belajar untuk menjadi rendah hati atau tawadlu’. Dan di era sekarang ini rendah hati dan/atau ketawadlu’an ini sudah mulai luntur di kalangan anak-anak muda muslim. Lihat saja di dunia maya, terutama di media sosial (medsos), betapa banyak anak-anak muda muslim usia SMA dan mahasiswa merasa paling tahu soal Islam dan kemudian menggurui orang lain yang dikiranya belum paham tentang Islam. Yang paling parah tentu adalah perilaku merasa benar sendiri, menyalahkan, menyerang, merendahkan orang lain yang tidak sepaham. Perilaku tersebut dengan sendirinya menunjukkan rasa tinggi hati, tidak tawadlu’.

Di dunia pesantren, ketawadlu’an adalah pelajaran penting yang diajarkan oleh para Kyai sepuh bagi para Santrinya. Hal ini diperoleh dan dipelajari secara turun-temurun oleh Santri dari para Ustadz dan Kyainya dulu. Bahkan para Ulama-ulama besar dari masa lalu walaupun sudah menulis sebuah kitab yang masyhur dan dikaji oleh para Ulama-ulama periode berikutnya, tetap saja bersikap tawadlu’ dengan mendeklarasikan diri sebagai al faqir fil ‘ilmi. Deklarasi tersebut dilanjutkan dengan sikap saling menghormati para Ulama dan pihak lain yang berbeda paham sebagaimana cerita-cerita yang dapat kita baca misalnya tentang akhlak para Imam Mazhab, juga cerita Buya HAMKA yang Muhammadiyah dan K.H. Abdullah Syafi’i yang NU.

Agaknya anak-anak muda yang sedang bergairah belajar ilmu-ilmu Islam sekarang ini terlupa belajar tawadlu’. Bisa jadi juga salah paham atau terlalu militan mengamalkan perintah “balighu ‘anni walau ayah” (sampaikan dariku walau hanya satu ayat). Hingga ketika baru mendengar atau membaca satu ayat, hadits, atau ketentuan hukum fiqh tertentu langsung saja disampaikan ke banyak orang dan dijadikan sebagai pegangan mutlak untuk menilai salah-benar. Padahal bisa jadi satu hal yang baru dipelajari tersebut baru satu bagian dari sekian banyak hukum fiqh yang diturunkan dari beberapa kaidah fiqh yang berbeda dan juga dari mazhab yang berbeda-beda pula.

Demikian luasnya pengetahuan agama Islam yang dikembangkan oleh para alim Ulama, sejak masa para Sahabat, Tabi’in, Tabi’it tabi’in, hingga sekarang, hingga kalau kita baru mempelajari satu-dua bagian ilmu, hendaknya diendapkan dulu. Jika ketentuan-ketentuan syar’inya terlihat berpotensi memicu kontroversi, maka jangan langsung disebar-sebarkan. Ambil bagian ilmu yang lain, kumpulkan, hingga jadikan satu bagian yang utuh. Di sinilah para Santri diajarkan untuk tidak tergesa-gesa menjadi da’i atau juru da’wah. Belajar dulu yang banyak, luas, dan mendalam, baru bolehlah berdakwah.

Mengapa begitu? Karena berdakwah atau mengajak pada jalan Islam bukan perkara remeh. Para Santri, Ustadz, dan Kyai perlu tahu betul konteks sosiologis medan dakwah. Siapa yang dihadapi, karakternya bagaimana, tradisi dan kulturanya bagaimana, kedalaman dan keluasan ilmunya bagaimana, kestabilan emosi dan spiritualnya bagaimana? Perlu kematangan mental, spiritual, juga kepekaan sosial dan budaya agar dapat menjadi juru dakwah yang baik. Selain itu menahan diri untuk tidak gegabah menyebar ayat-ayat di masyarakat umum sebagai juru dakwah juga merupakan cara agar diri para Santri tidak terjebak pada rasa ujub, riya’, bangga diri sebagai orang yang berilmu.

Jelas dan terjaga sanad keilmuannya

Hal yang tidak kalah penting ketika belajar di pondok pesantren adalah kejelasan sumber ilmunya. Ini juga sangat penting karena jangan-jangan merebaknya jenis perilaku kekerasan atas nama Islam yang dilakukan oleh beberapa kelompok disebabkan karena ilmu yang dibawa tidak jelas sumbernya. Makna jihad qital (jihad dengan jalan berperang) dan hadits tentang keutamaan mengubah keadaan dengan tangan/kekuasaan bisa jadi dimaknai letterlijk/tekstual tanpa melihat konteks sosiologis dan historisnya. Padahal hukum Islam tidak sesimpel tinggal menggunakan ayat al Qur’an dan hadits begitu saja, perlu penalaran hukum yang jelas, akurat, dan kredibel.

Pesantren adalah pusatnya ilmu pengetahuan Islam. Para Ustadz dan Kyai belajar berpuluh-puluh tahun, dari satu pesantren ke pesantren lain, ada yang menguasai banyak bidang keilmuan, ada pula yang fokus pada satu ada beberapa saja. Mendirikan pondok pesantren pun tidak main-main, harus ada restu dari Sang Guru/Kyai pada Santri yang akan mendirikan pondok pesantren. Transfer ilmu pengetahuan pun demikian juga, Kyai akan memberikan ijazah kepada para Santri sebagai penanda Santri boleh tersebut mengajar kitab atau pengetahuan tertentu.

Jadi, terjaga mata rantai (sanad) keilmuannya dari murid ke guru ke gurunya ke gurunya, kalau dalam fiqh hingga ke Imam Empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali), para tabi’it tabi’in, tabi’in, dan kemudian Sahabat, terakhir menyambung ke Rasulullah. Menjaga mata rantai keilmuan ini adalah tradisi penting yang di era internet sekarang ini mendapat tantangan luar biasa. Karena hanya dengan membuka Google dan search engine lainnya, akan dapat diperoleh berjuta informasi dan pengetahuan. Dan ketika para pencari ilmu di dunia maya tidak punya fondasi keilmuan yang kokoh, maka ia tidak akan tahu mana sumber yang terpercaya dan mana yang tidak.

Nah, belajar di pondok pesantren dengan tradisi musyawarah, mujadalah, dan bahtsul masa’il merupakan forum untuk mengklarifikasi beberapa pengetahuan yang tersebar dan luas tersebut. Di Internet forum dialog justru hampir tidak ada, yang ada hanya pamer ilmu, dalil, dan saling hujat satu sama lain. Namun bukan berarti tidak ada website yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar ilmu-ilmu pengetahuan Islam. Hanya saja tentu butuh waktu lama bagi kita untuk mengidentifikasi kualitas website tersebut, sedangkan bagi para Santri usia muda akan lebih mudah jika bertanya pada Ustadz dan Kyai yang sudah mumpuni ilmunya ketimbang mencari-cari sendiri di internet yang juga belum tentu akan memperoleh yang benar.

Bagaimana memilih pondok pesantren?

Memilih pondok pesantren juga hal penting. Jangan sampai terjebak pada pondok pesantren yang memiliki paham Islam radikal/garis keras. Pilihlah pondok pesantren yang jelas Ustadz dan Kyainya membawa ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin. Paling aman pilih saja pondok pesantren yang berafiliasi pada para Kyai dan alim Ulama’ yang tergabung dalam Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Selain soal content atau karakter ilmu-ilmu Islam yang diajarkan, hal lain yang perlu dipertimbangkan juga adalah tujuan mondok dan karakter sistem pondok pesantrennya.

Jika ingin belajar fokus pada ilmu fiqh, carilah pesantren yang masyhur dalam bidang fiqh, kalau ingin menghafalkan al Qur’an carilah pondok pesantren yang mengakomodasi Santrinya menghafalkan al Qur’an (tahfidz). Perlu diidentifikasi juga apakah calon Santri hanya berniat belajar ilmu-ilmu agama Islam atau juga ilmu-ilmu umum? Apakah berniat sambil sekolah umum, kuliah, atau murni mondok saja? Nah, pada akhirnya sistem dan karakter pesantren juga harus diperhatikan apakah kompatibel dengan aktivitas sekolah, kuliah, kerja, atau tidak?

Jangan khawatir, terdapat beragam jenis pesantren dengan karakteristik dan sistem yang beragam pula. Informasi mengenai sistem, tata kelola, dan karakteristik pondok pesantren dapat dicari dengan mendatangi pondok pesantren tersebut tentunya. Kenali pula lingkungan sekitarnya, pembelajarannya, biayanya, ustadz dan Kyainya, ilmu yang diajarkan, kitab-kitab yang digunakan, alumninya, jarak dan letak geografisnya. Jangan khawatir pula jika merasa kurang cocok, pondok pesantren sangat fleksibel jika ingin pindah ke pesantren lain. Tidak seperti di kampus modern yang ribet administrasinya.

* Edi Subkhan, pengelola Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS), pernah nyantri di pondok pesantren al Mubarok, Tahunan, Jepara.